Seputar Kaltim

    Jatah Solar untuk Nelayan PPU Ditetapkan 1.860 Kiloliter Setahun

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    06 Mei 2026 pukul 20:36 WITA

    Kepala Dinas Perikanan Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kebutuhan solar bagi nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diyakini hanya cukup untuk 1 tahun. Kuota yang disediakan secara keseluruhan capai 1.860 kilo liter.

    Kepala Dinas Perikanan Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto, menyebut dasar penetapan kuota berangkat dari penghitungan menyesuaikan dengan kapasitas kapal, alat tangkap, hingga wilayah penangkapan.

    "Kapal kecil kebutuhan sekitar 150-200 liter per bulan atau sekitar 15 liter per hari. Kapal besar bisa mencapai 1.000 liter untuk penangkapan di atas 12 mil, dengan estimasi 20 hari melaut," ucap Andi, Rabu (6/5/2026).

    Stok solar subsidi yang dijual pemerintah untuk nelayan disalurkan melalui Solar Pocket Diesel Nelayan (SPDN) yang berlokasi di Api-Api dan Penajam dan dikelola pihak swasta. Setiap pekan, Pertamina menyalurkan sekitar 10 ribu liter solar, atau sekitar 40 ribu liter dalam sebulan.

    Distribusi tersebut melayani nelayan di sejumlah wilayah pesisir, meliputi Kecamatan Babulu, Waru, dan sebagian Kecamatan Penajam. Selain itu, terdapat juga penyalur lain, yakni PT Gemilang Angkasa, yang melayani wilayah tertentu di Penajam.

    "Kami lakukan penghitungan, kemudian mengusulkan 1.860 kilo liter setahun. Menurut kami memang masih kurang, tapi kurangnya tidak seberapa. Nanti akan kita upayakan mengusulkan penambahan," kata Andi.

    Meski masih terdapat kekurangan, pemerintah daerah terus mengupayakan agar seluruh nelayan tetap mendapatkan akses BBM subsidi, dengan syarat memiliki dokumen kepemilikan kapal yang sah.

    Terkait perbedaan harga di lapangan, Andi menjelaskan harga resmi solar subsidi ditetapkan sebesar Rp6.800 per liter. Namun, nelayan kerap mendapatkan harga sekitar Rp8 ribu per liter karena adanya biaya tambahan distribusi.

    "Kalau diantar, ada biaya transportasi sesuai kesepakatan nelayan dengan koperasi. Kalau ambil langsung, tentu berbeda," jelasnya.

    Di luar skema subsidi, harga solar bisa jauh lebih tinggi, bahkan mencapai Rp18 ribu per liter.

    "Yang jelas kami berupaya mempermudah akses nelayan. Kuota sudah diusulkan, harapannya cukup dan distribusi bisa merata," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Jatah Solar untuk Nelayan PPU Ditetapkan 1.860 Kiloliter Setahun

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    06 Mei 2026 pukul 20:36 WITA

    Kepala Dinas Perikanan Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kebutuhan solar bagi nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diyakini hanya cukup untuk 1 tahun. Kuota yang disediakan secara keseluruhan capai 1.860 kilo liter.

    Kepala Dinas Perikanan Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto, menyebut dasar penetapan kuota berangkat dari penghitungan menyesuaikan dengan kapasitas kapal, alat tangkap, hingga wilayah penangkapan.

    "Kapal kecil kebutuhan sekitar 150-200 liter per bulan atau sekitar 15 liter per hari. Kapal besar bisa mencapai 1.000 liter untuk penangkapan di atas 12 mil, dengan estimasi 20 hari melaut," ucap Andi, Rabu (6/5/2026).

    Stok solar subsidi yang dijual pemerintah untuk nelayan disalurkan melalui Solar Pocket Diesel Nelayan (SPDN) yang berlokasi di Api-Api dan Penajam dan dikelola pihak swasta. Setiap pekan, Pertamina menyalurkan sekitar 10 ribu liter solar, atau sekitar 40 ribu liter dalam sebulan.

    Distribusi tersebut melayani nelayan di sejumlah wilayah pesisir, meliputi Kecamatan Babulu, Waru, dan sebagian Kecamatan Penajam. Selain itu, terdapat juga penyalur lain, yakni PT Gemilang Angkasa, yang melayani wilayah tertentu di Penajam.

    "Kami lakukan penghitungan, kemudian mengusulkan 1.860 kilo liter setahun. Menurut kami memang masih kurang, tapi kurangnya tidak seberapa. Nanti akan kita upayakan mengusulkan penambahan," kata Andi.

    Meski masih terdapat kekurangan, pemerintah daerah terus mengupayakan agar seluruh nelayan tetap mendapatkan akses BBM subsidi, dengan syarat memiliki dokumen kepemilikan kapal yang sah.

    Terkait perbedaan harga di lapangan, Andi menjelaskan harga resmi solar subsidi ditetapkan sebesar Rp6.800 per liter. Namun, nelayan kerap mendapatkan harga sekitar Rp8 ribu per liter karena adanya biaya tambahan distribusi.

    "Kalau diantar, ada biaya transportasi sesuai kesepakatan nelayan dengan koperasi. Kalau ambil langsung, tentu berbeda," jelasnya.

    Di luar skema subsidi, harga solar bisa jauh lebih tinggi, bahkan mencapai Rp18 ribu per liter.

    "Yang jelas kami berupaya mempermudah akses nelayan. Kuota sudah diusulkan, harapannya cukup dan distribusi bisa merata," tutupnya.

    (Sf/Rs)