Cari disini...
Seputar Kaltim
Megahnya pasar pagi yang kini sudah beralih ke modern, diminta pengamat untuk mengadakan event. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Transformasi fisik Pasar Pagi dari tradisional menjadi bangunan modern menyisakan pekerjaan rumah besar, yakni bagaimana caranya mengembalikan keramaian pengunjung.
Menjelang bulan Ramadan yang tinggal beberapa bulan lagi, pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif menilai perlu ada langkah darurat berupa terobosan event agar pasar tidak mati suri saat momen ekonomi sedang tinggi-tingginya.
Saat ini, kondisi Pasar Pagi dinilai masih senyap dan belum menemukan ritme pasarnya kembali. Transisi dari konsep tradisional yang kental dengan interaksi sosial tawar-menawar, menuju konsep modern yang lebih kaku, membuat masyarakat enggan berkunjung.
"Transisi dari tradisional ke modern itu tidak gampang diterima masyarakat karena fungsi kultural dan sosialnya hilang. Kalau dibiarkan senyap tanpa strategi seperti sekarang, masyarakat akan bingung. Sangat disayangkan jika kondisi ini berlanjut sampai bulan puasa nanti," ujar Syarif, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, menunggu konsumen datang dengan sendirinya adalah strategi yang keliru untuk saat ini. Pemerintah dan pengelola pasar didesak untuk menciptakan crowd puller atau penarik massa melalui aktivasi kegiatan rutin di lokasi pasar.
Strategi menjemput bola ini bisa dilakukan dengan menggelar berbagai acara yang melibatkan komunitas lokal.
"Harus ada daya tarik di situ. Contohnya dibuat senam pagi rutin, musik daerah, festival kuliner lokal, atau lomba UMKM. Adakan juga pasar rakyat mingguan. Kegiatan-kegiatan ini penting untuk membangun kembali ikatan emosional masyarakat agar mereka merasa dekat kembali dengan Pasar Pagi," jelasnya.
Selain hiburan, intervensi ekonomi juga dinilai krusial untuk memancing pengunjung di masa transisi ini. Strategi seperti subsidi harga kebutuhan pokok, voucher belanja, hingga gratis parkir di jam-jam tertentu (Happy Hour) disarankan untuk segera diterapkan.
Desakan untuk melakukan terobosan ini bukan tanpa alasan. Bulan Ramadan, yang biasanya menjadi puncak perputaran uang dan konsumsi masyarakat, sudah di depan mata (sekitar 2-3 bulan lagi).
Jika branding dan keramaian tidak dibangun dari sekarang, Pasar Pagi berpotensi kehilangan momentum emas tersebut.
"Jangan sampai Pasar Pagi itu sepi dalam 2-3 bulan ke depan. Ini harus dipikirkan baik-baik. Kalau tidak dimulai dari sekarang sosialisasi gencar, baliho besar, dan event rutin nanti saat puasa ekonominya malah tidak jalan. Padahal itu harapan pedagang," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Megahnya pasar pagi yang kini sudah beralih ke modern, diminta pengamat untuk mengadakan event. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Transformasi fisik Pasar Pagi dari tradisional menjadi bangunan modern menyisakan pekerjaan rumah besar, yakni bagaimana caranya mengembalikan keramaian pengunjung.
Menjelang bulan Ramadan yang tinggal beberapa bulan lagi, pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif menilai perlu ada langkah darurat berupa terobosan event agar pasar tidak mati suri saat momen ekonomi sedang tinggi-tingginya.
Saat ini, kondisi Pasar Pagi dinilai masih senyap dan belum menemukan ritme pasarnya kembali. Transisi dari konsep tradisional yang kental dengan interaksi sosial tawar-menawar, menuju konsep modern yang lebih kaku, membuat masyarakat enggan berkunjung.
"Transisi dari tradisional ke modern itu tidak gampang diterima masyarakat karena fungsi kultural dan sosialnya hilang. Kalau dibiarkan senyap tanpa strategi seperti sekarang, masyarakat akan bingung. Sangat disayangkan jika kondisi ini berlanjut sampai bulan puasa nanti," ujar Syarif, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, menunggu konsumen datang dengan sendirinya adalah strategi yang keliru untuk saat ini. Pemerintah dan pengelola pasar didesak untuk menciptakan crowd puller atau penarik massa melalui aktivasi kegiatan rutin di lokasi pasar.
Strategi menjemput bola ini bisa dilakukan dengan menggelar berbagai acara yang melibatkan komunitas lokal.
"Harus ada daya tarik di situ. Contohnya dibuat senam pagi rutin, musik daerah, festival kuliner lokal, atau lomba UMKM. Adakan juga pasar rakyat mingguan. Kegiatan-kegiatan ini penting untuk membangun kembali ikatan emosional masyarakat agar mereka merasa dekat kembali dengan Pasar Pagi," jelasnya.
Selain hiburan, intervensi ekonomi juga dinilai krusial untuk memancing pengunjung di masa transisi ini. Strategi seperti subsidi harga kebutuhan pokok, voucher belanja, hingga gratis parkir di jam-jam tertentu (Happy Hour) disarankan untuk segera diterapkan.
Desakan untuk melakukan terobosan ini bukan tanpa alasan. Bulan Ramadan, yang biasanya menjadi puncak perputaran uang dan konsumsi masyarakat, sudah di depan mata (sekitar 2-3 bulan lagi).
Jika branding dan keramaian tidak dibangun dari sekarang, Pasar Pagi berpotensi kehilangan momentum emas tersebut.
"Jangan sampai Pasar Pagi itu sepi dalam 2-3 bulan ke depan. Ini harus dipikirkan baik-baik. Kalau tidak dimulai dari sekarang sosialisasi gencar, baliho besar, dan event rutin nanti saat puasa ekonominya malah tidak jalan. Padahal itu harapan pedagang," pungkasnya.
(Sf/Rs)