Seputar Kaltim

    Jangan Enggan Cek HIV, Dinkes Kutim Pastikan Gratis dan Rahasia

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    07 Oktober 2026 pukul 21:07 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Masyarakat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak perlu khawatir soal biaya maupun kerahasiaan saat melakukan pemeriksaan HIV. Layanan pemeriksaan HIV diberikan secara gratis dan dilakukan secara sukarela.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, masyarakat tidak perlu ragu melakukan pemeriksaan HIV karena layanan tersebut dilakukan secara sukarela dan kerahasiaan pasien dijaga.

    “Tidak ada salahnya kalau kita deteksi, deteksi dini untuk melakukan pemeriksaan HIV. Itu supaya nanti kalau memang ternyata positif ya sudah segera dilakukan pengobatan,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, stigma terhadap HIV/AIDS masih membuat sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan. HIV kerap dikaitkan dengan perilaku tertentu, padahal penularan juga dapat terjadi pada orang yang tidak merasa memiliki perilaku berisiko.

    “Stigma itu tetap ada. Nah, sementara karena stigmanya ini kurang bagus, akhirnya orang tidak  mau melakukan pemeriksaan HIV kan malu-malu,” katanya.

    Yuwana menegaskan pemeriksaan HIV tidak boleh dilakukan secara paksa. Termasuk terhadap karyawan, pemeriksaan tidak dapat diwajibkan karena harus dilakukan atas dasar sukarela.

    Di Kutim, pemeriksaan HIV merupakan bagian dari program nasional sehingga diberikan secara gratis. Jika seseorang dinyatakan positif, pengobatan menggunakan obat antiretroviral (ARV) juga ditanggung pemerintah.

    HIV memang belum dapat disembuhkan. Namun, menurut Yuwana, pengobatan yang dilakukan secara rutin dapat membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.

    “Kalau dia begitu ketahuan, ‘Oh, ini positif.’ Kemudian diberikan obat ARV itu nanti pengobatan harus rutin,” jelasnya.

    Setelah menjalani pengobatan dalam periode tertentu, pasien akan menjalani pemeriksaan viral load untuk melihat keberhasilan pengobatan. Jika viral load sudah mencapai angka tertentu, pasien tidak akan menularkan HIV kepada orang lain.

    Karena itu, Yuwana menilai pemeriksaan sejak dini penting dilakukan. HIV pada awalnya belum tentu menimbulkan gejala, sehingga seseorang dapat saja tidak mengetahui dirinya telah terinfeksi.

    “Tapi yang penting sekarang adalah edukasi siapapun itu, bahkan kita mungkin enggak merasa punya perilaku yang enggak benar atau mungkin kita merasa sehat saja, tidak ada salahnya kalau kita deteksi, deteksi dini untuk melakukan pemeriksaan HIV,” katanya.

    Untuk menjaga kenyamanan pasien, pelayanan HIV/AIDS juga disiapkan di fasilitas kesehatan. Puskesmas yang telah memiliki layanan tersebut dilengkapi tim dan obat, sementara di rumah sakit tersedia ruangan atau klinik khusus.

    Kerahasiaan menjadi bagian dari pelayanan tersebut. Pasien juga mendapatkan edukasi dan kadang diberikan tambahan makanan bergizi untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta mendukung keberhasilan pengobatan.

    “Jadi kan ini dirahasiakan. Jadi ruangannya pun khusus nanti ada edukasi, kemudian juga ada kadang ada pemberian tambahan makanan bergizi gitu ya supaya daya tahan tubuhnya cepat naik, pengobatannya berhasil begitu,” tuturnya.

    Program penanggulangan HIV/AIDS di Kutim sendiri tetap berjalan seiring dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi payung pelaksanaan di daerah. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung target eliminasi HIV pada 2030.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Jangan Enggan Cek HIV, Dinkes Kutim Pastikan Gratis dan Rahasia

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    07 Oktober 2026 pukul 21:07 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Masyarakat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak perlu khawatir soal biaya maupun kerahasiaan saat melakukan pemeriksaan HIV. Layanan pemeriksaan HIV diberikan secara gratis dan dilakukan secara sukarela.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, masyarakat tidak perlu ragu melakukan pemeriksaan HIV karena layanan tersebut dilakukan secara sukarela dan kerahasiaan pasien dijaga.

    “Tidak ada salahnya kalau kita deteksi, deteksi dini untuk melakukan pemeriksaan HIV. Itu supaya nanti kalau memang ternyata positif ya sudah segera dilakukan pengobatan,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, stigma terhadap HIV/AIDS masih membuat sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan. HIV kerap dikaitkan dengan perilaku tertentu, padahal penularan juga dapat terjadi pada orang yang tidak merasa memiliki perilaku berisiko.

    “Stigma itu tetap ada. Nah, sementara karena stigmanya ini kurang bagus, akhirnya orang tidak  mau melakukan pemeriksaan HIV kan malu-malu,” katanya.

    Yuwana menegaskan pemeriksaan HIV tidak boleh dilakukan secara paksa. Termasuk terhadap karyawan, pemeriksaan tidak dapat diwajibkan karena harus dilakukan atas dasar sukarela.

    Di Kutim, pemeriksaan HIV merupakan bagian dari program nasional sehingga diberikan secara gratis. Jika seseorang dinyatakan positif, pengobatan menggunakan obat antiretroviral (ARV) juga ditanggung pemerintah.

    HIV memang belum dapat disembuhkan. Namun, menurut Yuwana, pengobatan yang dilakukan secara rutin dapat membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.

    “Kalau dia begitu ketahuan, ‘Oh, ini positif.’ Kemudian diberikan obat ARV itu nanti pengobatan harus rutin,” jelasnya.

    Setelah menjalani pengobatan dalam periode tertentu, pasien akan menjalani pemeriksaan viral load untuk melihat keberhasilan pengobatan. Jika viral load sudah mencapai angka tertentu, pasien tidak akan menularkan HIV kepada orang lain.

    Karena itu, Yuwana menilai pemeriksaan sejak dini penting dilakukan. HIV pada awalnya belum tentu menimbulkan gejala, sehingga seseorang dapat saja tidak mengetahui dirinya telah terinfeksi.

    “Tapi yang penting sekarang adalah edukasi siapapun itu, bahkan kita mungkin enggak merasa punya perilaku yang enggak benar atau mungkin kita merasa sehat saja, tidak ada salahnya kalau kita deteksi, deteksi dini untuk melakukan pemeriksaan HIV,” katanya.

    Untuk menjaga kenyamanan pasien, pelayanan HIV/AIDS juga disiapkan di fasilitas kesehatan. Puskesmas yang telah memiliki layanan tersebut dilengkapi tim dan obat, sementara di rumah sakit tersedia ruangan atau klinik khusus.

    Kerahasiaan menjadi bagian dari pelayanan tersebut. Pasien juga mendapatkan edukasi dan kadang diberikan tambahan makanan bergizi untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta mendukung keberhasilan pengobatan.

    “Jadi kan ini dirahasiakan. Jadi ruangannya pun khusus nanti ada edukasi, kemudian juga ada kadang ada pemberian tambahan makanan bergizi gitu ya supaya daya tahan tubuhnya cepat naik, pengobatannya berhasil begitu,” tuturnya.

    Program penanggulangan HIV/AIDS di Kutim sendiri tetap berjalan seiring dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi payung pelaksanaan di daerah. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung target eliminasi HIV pada 2030.

    (Sf/Lo)