Seputar Kaltim

    Jalan Tol Balsam Diusulkan Ganti Nama jadi Awang Faroek Ishak

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    25 Desember 2024 pukul 17:33 WITA

    Tol Balikpapan-Samarinda. (Foto: Dokumentasi PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam), proyek monumental yang menjadi tol pertama di Kalimantan, diusulkan untuk berganti nama menjadi Jalan Tol Prof Awang Faroek Ishak. Usulan ini diajukan oleh Ketua Umum Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Syaharie Jaang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar almarhum Awang Faroek Ishak, mantan Gubernur Kalimantan Timur periode 2008–2018.  

    Jaang mengungkapkan, jalan tol ini merupakan salah satu warisan terbesar yang lahir dari visi dan perjuangan Awang Faroek. “Jalan Tol Balsam adalah bukti nyata keberanian dan kegigihan Pak Awang Faroek dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur strategis di Kaltim, meskipun menghadapi tantangan besar, termasuk persoalan anggaran,” ujar Jaang, Selasa (24/12/2024).  

    Proyek ini dimulai pada awal 2011 saat Awang Faroek menjabat sebagai gubernur, dan baru selesai secara penuh delapan tahun kemudian. Jalan tol yang menghubungkan dua kota utama, Balikpapan dan Samarinda, itu kini menjadi tulang punggung konektivitas ekonomi di wilayah Kaltim, terutama setelah sebagian besar jalannya resmi beroperasi pada 2019 dan sisanya pada 2021.  

    Jaang menambahkan, meskipun sempat diragukan karena populasi Kaltim yang relatif kecil dibandingkan Pulau Jawa, manfaat jalan tol ini telah terbukti. “Sekarang kita melihat dampak besar yang dihasilkan, baik dalam memangkas waktu tempuh maupun meningkatkan ekonomi. Setiap melintasi jalan tol ini, saya selalu mengingat jasa Pak Awang Faroek,” ungkapnya.  

    Sebagai gubernur kala itu, ia menuturkan bahwa Awang Faroek dikenal gigih memperjuangkan proyek ini, termasuk mengatasi hambatan yang muncul, seperti melintasi kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Soeharto. Berkat lobi intensif ke pemerintah pusat, tantangan tersebut berhasil diatasi.  

    Jaang berharap, usulan untuk mengabadikan nama Awang Faroek sebagai nama jalan tol ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait. Menurutnya, langkah ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga pengingat bagi generasi mendatang akan pentingnya keberanian dan visi dalam membangun masa depan.  

    Pengusulan ini menurutnya juga dinilai relevan dengan peran strategis jalan tol tersebut dalam mendukung Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang baru, sekaligus membuka peluang investasi dan memperkuat konektivitas regional.  

    “Ini cara kita menghormati jasa beliau yang telah membawa perubahan besar di Kaltim. Jalan tol ini adalah saksi bisu perjuangan dan dedikasi beliau,” pungkasnya.  

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Jalan Tol Balsam Diusulkan Ganti Nama jadi Awang Faroek Ishak

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    25 Desember 2024 pukul 17:33 WITA

    Tol Balikpapan-Samarinda. (Foto: Dokumentasi PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam), proyek monumental yang menjadi tol pertama di Kalimantan, diusulkan untuk berganti nama menjadi Jalan Tol Prof Awang Faroek Ishak. Usulan ini diajukan oleh Ketua Umum Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Syaharie Jaang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar almarhum Awang Faroek Ishak, mantan Gubernur Kalimantan Timur periode 2008–2018.  

    Jaang mengungkapkan, jalan tol ini merupakan salah satu warisan terbesar yang lahir dari visi dan perjuangan Awang Faroek. “Jalan Tol Balsam adalah bukti nyata keberanian dan kegigihan Pak Awang Faroek dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur strategis di Kaltim, meskipun menghadapi tantangan besar, termasuk persoalan anggaran,” ujar Jaang, Selasa (24/12/2024).  

    Proyek ini dimulai pada awal 2011 saat Awang Faroek menjabat sebagai gubernur, dan baru selesai secara penuh delapan tahun kemudian. Jalan tol yang menghubungkan dua kota utama, Balikpapan dan Samarinda, itu kini menjadi tulang punggung konektivitas ekonomi di wilayah Kaltim, terutama setelah sebagian besar jalannya resmi beroperasi pada 2019 dan sisanya pada 2021.  

    Jaang menambahkan, meskipun sempat diragukan karena populasi Kaltim yang relatif kecil dibandingkan Pulau Jawa, manfaat jalan tol ini telah terbukti. “Sekarang kita melihat dampak besar yang dihasilkan, baik dalam memangkas waktu tempuh maupun meningkatkan ekonomi. Setiap melintasi jalan tol ini, saya selalu mengingat jasa Pak Awang Faroek,” ungkapnya.  

    Sebagai gubernur kala itu, ia menuturkan bahwa Awang Faroek dikenal gigih memperjuangkan proyek ini, termasuk mengatasi hambatan yang muncul, seperti melintasi kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Soeharto. Berkat lobi intensif ke pemerintah pusat, tantangan tersebut berhasil diatasi.  

    Jaang berharap, usulan untuk mengabadikan nama Awang Faroek sebagai nama jalan tol ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait. Menurutnya, langkah ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga pengingat bagi generasi mendatang akan pentingnya keberanian dan visi dalam membangun masa depan.  

    Pengusulan ini menurutnya juga dinilai relevan dengan peran strategis jalan tol tersebut dalam mendukung Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang baru, sekaligus membuka peluang investasi dan memperkuat konektivitas regional.  

    “Ini cara kita menghormati jasa beliau yang telah membawa perubahan besar di Kaltim. Jalan tol ini adalah saksi bisu perjuangan dan dedikasi beliau,” pungkasnya.  

    (Sf/Rs)