Cari disini...
Seputar Kaltim
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengambil peran penting dalam mengembangkan pertanian modern dan energi terbarukan di kawasan transmigrasi Maloy Kaliorang, Kutai Timur.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, mengatakan Maloy Kaliorang cocok untuk beberapa komoditas unggulan, seperti padi, jagung, pisang, tebu, dan sorgum.
“Pisang dan padi sangat cocok ditanam di Maloy Kaliorang. Kami juga melihat peluang dari tebu, terutama sebagai bahan baku bioetanol yang saat ini sedang didorong pemerintah lewat program E10,” jelas Fadlilatul.
Selain itu, ITS juga menyoroti potensi tanaman sorgum yang memiliki keunggulan cepat panen dan multifungsi yang cocok di tanam di daerah tersebut.
“Sorgum hanya butuh waktu tiga bulan untuk panen. Batangnya bisa menghasilkan nira seperti tebu, sedangkan bijinya bisa menjadi pengganti beras atau tepung bebas gluten,” jelasnya.
Potensi energi terbarukan juga menjadi perhatian, ITS meneliti potensi biomassa dari limbah kelapa sawit dan kayu gamal untuk menghasilkan bioenergi dan briket, yang bahkan bisa diekspor.
ITS pun menyiapkan konsep mini pabrik kelapa sawit menyesuaikan kapasitas lahan lokal, agar hasil panen masyarakat bisa diolah lebih efisien.
“Pabrik mini ini kapasitasnya sekitar 3 hingga 5 ton per jam, cocok untuk wilayah dengan luas lahan sekitar seribu hektar,” pungkasnya.
Lewat kerja sama ITS, Pemkab Kutim, dan masyarakat, kawasan Maloy Kaliorang diharapkan bisa menjadi contoh pertanian modern di Kalimantan Timur.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengambil peran penting dalam mengembangkan pertanian modern dan energi terbarukan di kawasan transmigrasi Maloy Kaliorang, Kutai Timur.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, mengatakan Maloy Kaliorang cocok untuk beberapa komoditas unggulan, seperti padi, jagung, pisang, tebu, dan sorgum.
“Pisang dan padi sangat cocok ditanam di Maloy Kaliorang. Kami juga melihat peluang dari tebu, terutama sebagai bahan baku bioetanol yang saat ini sedang didorong pemerintah lewat program E10,” jelas Fadlilatul.
Selain itu, ITS juga menyoroti potensi tanaman sorgum yang memiliki keunggulan cepat panen dan multifungsi yang cocok di tanam di daerah tersebut.
“Sorgum hanya butuh waktu tiga bulan untuk panen. Batangnya bisa menghasilkan nira seperti tebu, sedangkan bijinya bisa menjadi pengganti beras atau tepung bebas gluten,” jelasnya.
Potensi energi terbarukan juga menjadi perhatian, ITS meneliti potensi biomassa dari limbah kelapa sawit dan kayu gamal untuk menghasilkan bioenergi dan briket, yang bahkan bisa diekspor.
ITS pun menyiapkan konsep mini pabrik kelapa sawit menyesuaikan kapasitas lahan lokal, agar hasil panen masyarakat bisa diolah lebih efisien.
“Pabrik mini ini kapasitasnya sekitar 3 hingga 5 ton per jam, cocok untuk wilayah dengan luas lahan sekitar seribu hektar,” pungkasnya.
Lewat kerja sama ITS, Pemkab Kutim, dan masyarakat, kawasan Maloy Kaliorang diharapkan bisa menjadi contoh pertanian modern di Kalimantan Timur.
(Sf/Rs)