Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNK Bontang, Cokorda saat menyampaikan materi terkait bahaya narkoba. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Penemuan dua siswa Bontang yang positif menggunakan sabu pada Oktober 2025 membuka satu persoalan yang lebih dalam dari sekadar penyalahgunaan narkotika.
Dari penelusuran Badan Nasional Narkotika Kota (BNNK) Bontang, salah satu siswa ternyata memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tua, khususnya ayah, sering dikenal dengan isu fatherless.
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNK Bontang, Cokorda mengatakan kondisi keluarga ini menjadi salah satu faktor kerentanan yang membuat remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan.
“Setelah kami dalami, salah satu dari mereka punya hubungan yang kurang harmonis dengan orang tuanya, terutama ayah. Ini membuat anak lebih rentan mencari perhatian dan kedekatan di luar rumah,” ujar Cokorda.
Temuan ini berangkat dari hasil tes urin yang dilakukan atas pengajuan pihak sekolah. Dari sepuluh siswa yang diperiksa, dua di antaranya terbukti positif sabu. Bagi BNNK, yang menggelisahkan bukan hanya jenis narkotika yang dipakai, tetapi konteks sosial yang memungkinkan remaja masuk ke lingkaran tersebut.
“Biasanya kasus yang kami temui itu ngelem atau ngoteng. Untuk sabu, ini pertama kali kami temukan di usia remaja. Artinya ada tekanan dan kerentanan sosial yang lebih besar dari sekadar salah pergaulan,” ucapnya.
Kedua pelajar kini menjalani rehabilitasi. Salah satu harus dirawat inap selama tiga bulan karena tingkat ketergantungan yang cukup berat, sementara satu lainnya menjalani rawat jalan dan tetap bersekolah sambil melapor rutin kepada petugas.
Menurut BNNK, pola komunikasi keluarga perlu menyesuaikan dengan karakter generasi Z yang lebih terbuka, kritis dan membutuhkan komunikasi dua arah.
“Anak-anak sekarang itu beda. Mereka butuh diajak ngobrol, bukan cuma ditegur atau diberi aturan. Kalau tidak ada kedekatan emosional, mereka mudah mencari pengganti itu di luar,” lanjutnya.
Ia menilai ketidakhadiran ayah dalam rutinitas anak, baik secara emosional maupun fisik, menciptakan celah yang membuat remaja mudah masuk ke lingkungan yang salah.
Temuan ini, kata Cokorda, selaras dengan program yang mulai didorong Pemerintah Kota Bontang, mengajak ayah untuk lebih aktif dalam kehidupan sehari-hari anak, termasuk gerakan mengantar sekolah.
“Gerakan seperti ayah mengantar anak ke sekolah itu bukan hal sepele. Itu membangun kedekatan, yang justru jadi tameng terkuat bagi anak,” ungkapnya.
BNNK menegaskan komunikasi hangat, keterlibatan ayah dan perhatian emosional di dalam rumah adalah faktor-faktor yang mampu mencegah remaja terjerumus ke penyalahgunaan narkotika.
“Ini bukan soal disiplin semata. Ini soal hadir untuk anak. Kalau ruang emosional itu kosong, lingkungan luar yang akan mengisinya,” tutupnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim

Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNK Bontang, Cokorda saat menyampaikan materi terkait bahaya narkoba. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Penemuan dua siswa Bontang yang positif menggunakan sabu pada Oktober 2025 membuka satu persoalan yang lebih dalam dari sekadar penyalahgunaan narkotika.
Dari penelusuran Badan Nasional Narkotika Kota (BNNK) Bontang, salah satu siswa ternyata memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tua, khususnya ayah, sering dikenal dengan isu fatherless.
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNK Bontang, Cokorda mengatakan kondisi keluarga ini menjadi salah satu faktor kerentanan yang membuat remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan.
“Setelah kami dalami, salah satu dari mereka punya hubungan yang kurang harmonis dengan orang tuanya, terutama ayah. Ini membuat anak lebih rentan mencari perhatian dan kedekatan di luar rumah,” ujar Cokorda.
Temuan ini berangkat dari hasil tes urin yang dilakukan atas pengajuan pihak sekolah. Dari sepuluh siswa yang diperiksa, dua di antaranya terbukti positif sabu. Bagi BNNK, yang menggelisahkan bukan hanya jenis narkotika yang dipakai, tetapi konteks sosial yang memungkinkan remaja masuk ke lingkaran tersebut.
“Biasanya kasus yang kami temui itu ngelem atau ngoteng. Untuk sabu, ini pertama kali kami temukan di usia remaja. Artinya ada tekanan dan kerentanan sosial yang lebih besar dari sekadar salah pergaulan,” ucapnya.
Kedua pelajar kini menjalani rehabilitasi. Salah satu harus dirawat inap selama tiga bulan karena tingkat ketergantungan yang cukup berat, sementara satu lainnya menjalani rawat jalan dan tetap bersekolah sambil melapor rutin kepada petugas.
Menurut BNNK, pola komunikasi keluarga perlu menyesuaikan dengan karakter generasi Z yang lebih terbuka, kritis dan membutuhkan komunikasi dua arah.
“Anak-anak sekarang itu beda. Mereka butuh diajak ngobrol, bukan cuma ditegur atau diberi aturan. Kalau tidak ada kedekatan emosional, mereka mudah mencari pengganti itu di luar,” lanjutnya.
Ia menilai ketidakhadiran ayah dalam rutinitas anak, baik secara emosional maupun fisik, menciptakan celah yang membuat remaja mudah masuk ke lingkungan yang salah.
Temuan ini, kata Cokorda, selaras dengan program yang mulai didorong Pemerintah Kota Bontang, mengajak ayah untuk lebih aktif dalam kehidupan sehari-hari anak, termasuk gerakan mengantar sekolah.
“Gerakan seperti ayah mengantar anak ke sekolah itu bukan hal sepele. Itu membangun kedekatan, yang justru jadi tameng terkuat bagi anak,” ungkapnya.
BNNK menegaskan komunikasi hangat, keterlibatan ayah dan perhatian emosional di dalam rumah adalah faktor-faktor yang mampu mencegah remaja terjerumus ke penyalahgunaan narkotika.
“Ini bukan soal disiplin semata. Ini soal hadir untuk anak. Kalau ruang emosional itu kosong, lingkungan luar yang akan mengisinya,” tutupnya.
(Sf/Lo)