Seputar Kaltim

    ISPA di Kutim Tembus 14 Ribu Kasus, 108 Balita Harus Dirawat Inap

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    26 Oktober 2026 pukul 13:00 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sebanyak 108 balita menjalani rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selama Juli hingga September 2026. Jumlah itu mencapai 64,3 persen dari total 168 pasien ISPA yang menjalani rawat inap dalam tiga bulan tersebut.

    Di tengah tingginya kasus ISPA, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai paparan kabut asap dan debu. Keduanya dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

    “ISPA ini memang banyak penyebabnya. Terutama kabut asap, pengaruhnya sangat besar. Kemudian juga debu,” ujar dr Yuwana.

    Data Dinkes Kutim mencatat 14.014 kasus ISPA selama tiga bulan tersebut. Jumlahnya terus bertambah, dari 3.973 kasus pada Juli menjadi 4.595 kasus pada Agustus, lalu mencapai 5.446 kasus pada September. Secara keseluruhan, kasus bulanan meningkat 37,1 persen dari Juli hingga September.

    Balita berusia 0–4 tahun menjadi salah satu kelompok yang banyak tercatat mengalami ISPA. Selama periode tersebut, jumlah kasus pada kelompok ini mencapai 3.874 kasus atau sekitar 27,6 persen dari total kasus ISPA.

    Rinciannya, sebanyak 1.054 kasus tercatat pada Juli, kemudian naik menjadi 1.299 kasus pada Agustus dan 1.521 kasus pada September. Pada kelompok yang sama, jumlah pasien rawat inap mencapai 33 kasus pada Juli, meningkat menjadi 50 kasus pada Agustus, lalu turun menjadi 25 kasus pada September.

    Dia mengatakan, debu dan kabut asap juga dapat memicu kekambuhan penyakit pada orang yang memiliki alergi, penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta lansia.

    “Pada pasien-pasien khusus yang memang punya alergi atau PPOK, pada orang lansia itu gampang sekali tercetus, penyakitnya kambuh karena debu, karena kabut asap. Ini memang kita masih harus tetap waspada terus,” katanya.

    Selain balita, kelompok dewasa berusia 25–59 tahun mencatat kasus ISPA terbanyak berdasarkan kelompok umur, yakni 5.710 kasus atau sekitar 40,7 persen dari total kasus. Anak usia 5–14 tahun tercatat sebanyak 2.259 kasus, kelompok usia 15–24 tahun sebanyak 1.606 kasus, sedangkan lansia berusia 60 tahun ke atas sebanyak 565 kasus.

    Secara keseluruhan, pasien ISPA yang menjalani rawat inap tercatat 63 kasus pada Juli dan meningkat menjadi 76 kasus pada Agustus. Pada September, jumlahnya turun menjadi 29 kasus. Meski demikian, balita masih mendominasi jumlah pasien rawat inap selama tiga bulan tersebut.

    Ia menyebut, bayi, balita, anak-anak di bawah usia 12 tahun, ibu hamil, lansia, serta penderita gangguan saluran pernapasan dan penyakit kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

    “Jadi yang masuk di dalam kelompok rentan yang harus selalu kita lindungi, kemudian juga pada penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular,” jelasnya.

    Ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap paparan debu dan kabut asap. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah serta mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk menjadi langkah yang dapat dilakukan, terutama bagi kelompok rentan.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    ISPA di Kutim Tembus 14 Ribu Kasus, 108 Balita Harus Dirawat Inap

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    26 Oktober 2026 pukul 13:00 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sebanyak 108 balita menjalani rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selama Juli hingga September 2026. Jumlah itu mencapai 64,3 persen dari total 168 pasien ISPA yang menjalani rawat inap dalam tiga bulan tersebut.

    Di tengah tingginya kasus ISPA, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai paparan kabut asap dan debu. Keduanya dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

    “ISPA ini memang banyak penyebabnya. Terutama kabut asap, pengaruhnya sangat besar. Kemudian juga debu,” ujar dr Yuwana.

    Data Dinkes Kutim mencatat 14.014 kasus ISPA selama tiga bulan tersebut. Jumlahnya terus bertambah, dari 3.973 kasus pada Juli menjadi 4.595 kasus pada Agustus, lalu mencapai 5.446 kasus pada September. Secara keseluruhan, kasus bulanan meningkat 37,1 persen dari Juli hingga September.

    Balita berusia 0–4 tahun menjadi salah satu kelompok yang banyak tercatat mengalami ISPA. Selama periode tersebut, jumlah kasus pada kelompok ini mencapai 3.874 kasus atau sekitar 27,6 persen dari total kasus ISPA.

    Rinciannya, sebanyak 1.054 kasus tercatat pada Juli, kemudian naik menjadi 1.299 kasus pada Agustus dan 1.521 kasus pada September. Pada kelompok yang sama, jumlah pasien rawat inap mencapai 33 kasus pada Juli, meningkat menjadi 50 kasus pada Agustus, lalu turun menjadi 25 kasus pada September.

    Dia mengatakan, debu dan kabut asap juga dapat memicu kekambuhan penyakit pada orang yang memiliki alergi, penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta lansia.

    “Pada pasien-pasien khusus yang memang punya alergi atau PPOK, pada orang lansia itu gampang sekali tercetus, penyakitnya kambuh karena debu, karena kabut asap. Ini memang kita masih harus tetap waspada terus,” katanya.

    Selain balita, kelompok dewasa berusia 25–59 tahun mencatat kasus ISPA terbanyak berdasarkan kelompok umur, yakni 5.710 kasus atau sekitar 40,7 persen dari total kasus. Anak usia 5–14 tahun tercatat sebanyak 2.259 kasus, kelompok usia 15–24 tahun sebanyak 1.606 kasus, sedangkan lansia berusia 60 tahun ke atas sebanyak 565 kasus.

    Secara keseluruhan, pasien ISPA yang menjalani rawat inap tercatat 63 kasus pada Juli dan meningkat menjadi 76 kasus pada Agustus. Pada September, jumlahnya turun menjadi 29 kasus. Meski demikian, balita masih mendominasi jumlah pasien rawat inap selama tiga bulan tersebut.

    Ia menyebut, bayi, balita, anak-anak di bawah usia 12 tahun, ibu hamil, lansia, serta penderita gangguan saluran pernapasan dan penyakit kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

    “Jadi yang masuk di dalam kelompok rentan yang harus selalu kita lindungi, kemudian juga pada penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular,” jelasnya.

    Ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap paparan debu dan kabut asap. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah serta mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk menjadi langkah yang dapat dilakukan, terutama bagi kelompok rentan.

    (Sf/Lo)