Seputar Fakta

    Seputar Kaltim

    Ironi Anggaran Rp5,7 Miliar Porprov PPU 2026: Target 4 Besar, TC dan Baju Tanding Tak Dianggarkan

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2026 pukul 15:06 WITA

    Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) PPU, Samir Paturusi. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kegelisahan menyelimuti cabang olahraga (cabor) di Penajam Paser Utara (PPU) menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 di Paser, 14-27 November mendatang.

    Target empat besar yang dipasang Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) PPU, berbanding terbalik dengan kesiapan anggaran.

    Ketua PSTI PPU, Samir Paturusi, berterus terang menyampaikan dari total anggaran Rp5,7 miliar yang dialokasikan Pemda untuk Porprov, tidak ada pos untuk Training Center (TC), baju tanding, hingga sepatu khusus tanding.

    "Terus terang sampai saat ini untuk anggaran TC atlet menuju Porprov ternyata tidak dianggarkan. Kedua, alat kelengkapan tanding seperti sepatu dan baju tanding tidak dianggarkan di anggaran Rp5,7 miliar itu," kata Samir, Selasa (3/11/2026).

    Akibatnya, masing-masing induk organisasi cabor harus memutar otak. TC jalan mandiri, baju tanding urunan pengurus. Sementara, apabila tidak menyelenggarakan latihan sebelum menghadapi pertandingan, akan berdampak pada penurunan kekompakan tim.

    "KONI PPU menargetkan daerah memperoleh posisi empat besar. Ini persoalan. Ironis sekali, kondisi ini menyulitkan seluduh cabor karena harus mengeluarkan biata sendiri. Mereka meminta TC mandiri, saya tidak bisa jawab karena tidak dianggarkan, sementara baju tanding kami urunan pengurus," tegasnya.

    Samir membandingkan, Mahulu dan Kubar dengan APBD yang hampir sama, dana TC mereka sudah cair. Ia pun meminta Pemda menjadikan olahraga sebagai skala prioritas peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

    "Masa kita kalah dengan Mahulu dan Kubar, dana TC mereka sudah cair. APBD juga hampir sama kok. Kasihan atlet berangkat ke Porprov kesiapannya kurang matang. Ke depan, ini harus jadi evaluasi," kata dia.

    Menanggapi keluhan itu, Plt Kepala Disdikpora PPU, Muhtar, menjelaskan anggaran Rp5,7 miliar memang hanya untuk akomodasi, baju kontingen, konsumsi, transportasi, uang saku atlet dan obat-obatan, sesuai pos DPA yang ada.

    "Makanya hanya itu itemnya yang ada sesuai DPA, tidak cukup untuk pengadaan seragam tanding," ujar Muhtar.

    Soal TC, ia mengaku sempat dianggarkan, namun Disdikpora tidak ikut dalam asistensi. Anggaran Porprov memang ditaruh di Dinas Pendidikan, namun pelaksanaan teknis di pihak KONI.

    "Untuk keluhan ini, ya tidak bisa lagi. Anggarannya memang itu yang sudah disediakan. Kalau kurang itu dari cabor masing-masing, menyediakan, seperti PBSI," ucapnya.

    Untuk menutup kekurangan anggaran, opsi pendanaan melalui CSR atau sponsor dinilai akan sulit ditempuh karena waktu yang tersisa terlalu singkat.

    "Kita usaha gimana lagi, CSR, waktunya mepet. Mudahan bukan jadi hambatan para atlet menggoreskan prestasi. Insyaallah atlet-atlet PPU sudah dari dulu tertempa, saya yakin mereka berjuang pantang menyerah. Atlet kita orang-orang hebat," katanya.

    Terkait bonus atlet berprestasi, Pihaknya mengaku belum membahas. Muhtar bilanh sudah menyampaikan referensi ke pimpinan, yakni Rp50 juta hingga Rp75 juta seperti di Balikpapan dan Samarinda.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ironi Anggaran Rp5,7 Miliar Porprov PPU 2026: Target 4 Besar, TC dan Baju Tanding Tak Dianggarkan

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2026 pukul 15:06 WITA

    Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) PPU, Samir Paturusi. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kegelisahan menyelimuti cabang olahraga (cabor) di Penajam Paser Utara (PPU) menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 di Paser, 14-27 November mendatang.

    Target empat besar yang dipasang Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) PPU, berbanding terbalik dengan kesiapan anggaran.

    Ketua PSTI PPU, Samir Paturusi, berterus terang menyampaikan dari total anggaran Rp5,7 miliar yang dialokasikan Pemda untuk Porprov, tidak ada pos untuk Training Center (TC), baju tanding, hingga sepatu khusus tanding.

    "Terus terang sampai saat ini untuk anggaran TC atlet menuju Porprov ternyata tidak dianggarkan. Kedua, alat kelengkapan tanding seperti sepatu dan baju tanding tidak dianggarkan di anggaran Rp5,7 miliar itu," kata Samir, Selasa (3/11/2026).

    Akibatnya, masing-masing induk organisasi cabor harus memutar otak. TC jalan mandiri, baju tanding urunan pengurus. Sementara, apabila tidak menyelenggarakan latihan sebelum menghadapi pertandingan, akan berdampak pada penurunan kekompakan tim.

    "KONI PPU menargetkan daerah memperoleh posisi empat besar. Ini persoalan. Ironis sekali, kondisi ini menyulitkan seluduh cabor karena harus mengeluarkan biata sendiri. Mereka meminta TC mandiri, saya tidak bisa jawab karena tidak dianggarkan, sementara baju tanding kami urunan pengurus," tegasnya.

    Samir membandingkan, Mahulu dan Kubar dengan APBD yang hampir sama, dana TC mereka sudah cair. Ia pun meminta Pemda menjadikan olahraga sebagai skala prioritas peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

    "Masa kita kalah dengan Mahulu dan Kubar, dana TC mereka sudah cair. APBD juga hampir sama kok. Kasihan atlet berangkat ke Porprov kesiapannya kurang matang. Ke depan, ini harus jadi evaluasi," kata dia.

    Menanggapi keluhan itu, Plt Kepala Disdikpora PPU, Muhtar, menjelaskan anggaran Rp5,7 miliar memang hanya untuk akomodasi, baju kontingen, konsumsi, transportasi, uang saku atlet dan obat-obatan, sesuai pos DPA yang ada.

    "Makanya hanya itu itemnya yang ada sesuai DPA, tidak cukup untuk pengadaan seragam tanding," ujar Muhtar.

    Soal TC, ia mengaku sempat dianggarkan, namun Disdikpora tidak ikut dalam asistensi. Anggaran Porprov memang ditaruh di Dinas Pendidikan, namun pelaksanaan teknis di pihak KONI.

    "Untuk keluhan ini, ya tidak bisa lagi. Anggarannya memang itu yang sudah disediakan. Kalau kurang itu dari cabor masing-masing, menyediakan, seperti PBSI," ucapnya.

    Untuk menutup kekurangan anggaran, opsi pendanaan melalui CSR atau sponsor dinilai akan sulit ditempuh karena waktu yang tersisa terlalu singkat.

    "Kita usaha gimana lagi, CSR, waktunya mepet. Mudahan bukan jadi hambatan para atlet menggoreskan prestasi. Insyaallah atlet-atlet PPU sudah dari dulu tertempa, saya yakin mereka berjuang pantang menyerah. Atlet kita orang-orang hebat," katanya.

    Terkait bonus atlet berprestasi, Pihaknya mengaku belum membahas. Muhtar bilanh sudah menyampaikan referensi ke pimpinan, yakni Rp50 juta hingga Rp75 juta seperti di Balikpapan dan Samarinda.

    (Sf/Rs)