Seputar Kaltim

    Investasi di Kutim Masih Lambat, Mahyunadi Singgung Dugaan Gratifikasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 Agustus 2026 pukul 14:48 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menyoroti masih lambannya proses investasi di daerah. Ia meminta pemerintah mempercepat pelayanan dan memastikan tidak ada praktik yang dapat menghambat masuknya penanam modal.

    Menurutnya, kemudahan investasi menjadi hal penting jika Kutim ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik lebih banyak penanam modal. Ia menilai, proses yang semestinya dapat berjalan cepat tidak boleh menjadi lambat karena urusan birokrasi.

    Mahyunadi menyinggung kemungkinan gratifikasi menjadi salah satu faktor yang membuat pelayanan investasi berjalan lambat.

    “Mungkin saja karena lambatnya urusan yang kita lakukan itu karena menunggu gratifikasi, mungkin,” ujar Mahyunadisaat Sosialisasi Antikorupsi dan Pengendalian Gratifikasi. 

    Ia mengatakan, Kutim sebenarnya memiliki modal untuk menarik investasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Investor yang menanamkan modal di kawasan tersebut mendapatkan sejumlah kemudahan, termasuk fasilitas perpajakan.

    “Sementara Kutim punya kawasan ekonomi khusus Maloy yang perusahaan investor menanamkan modal di sana dapat potongan pajak. Dapat kemudahan-kemudahan,” katanya.

    Karena itu, Mahyunadi mempertanyakan masih adanya kendala yang membuat investasi belum berkembang maksimal. Keberadaan fasilitas investasi harus diikuti dengan pelayanan pemerintah yang cepat dan memberikan kepastian kepada pelaku usaha.

    Ia menegaskan, pemerintah daerah perlu segera melakukan transformasi, terutama dalam memperbaiki pelayanan yang berkaitan dengan investasi. “Oleh karena itulah ke depan kita harus segera bertransformasi,” tegasnya.

    Mahyunadi mengatakan percepatan investasi juga berkaitan dengan arah pembangunan Kutim yang tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertambangan. Pemerintah, kata dia, perlu mendorong hilirisasi di berbagai sektor yang memiliki potensi ekonomi.

    “Salah satu misi Kutim yaitu percepatan pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan pariwisata,” jelasnya.

    Hilirisasi perlu digenjot agar komoditas yang dihasilkan di Kutim dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah.

    “Oleh karena itulah yang berkaitan dengan hilir harus segera kita genjot. Karena kita tidak bisa mengandalkan batu bara lagi,” ucapnya.

    Mahyunadi menilai pemerintah yang bersih dan pelayanan yang cepat akan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor.

    Di sisi lain, Mahyunadi menyebut investasi pabrik minyak goreng oleh PT IPS sebagai salah satu investasi yang telah masuk ke Kutim. Ia juga menyinggung rencana menjadikan bandara khusus sebagai bandara umum yang diharapkan dapat mendukung aktivitas investasi dan pembangunan.

    Mahyunadi mengatakan perubahan status bandara dari bandara khusus menjadi bandara umum masih membutuhkan kajian. Lokasinya yang berada di wilayah transmigrasi juga membuat proses tersebut perlu dikoordinasikan lebih lanjut.

    Ia berharap seluruh proses dapat segera diselesaikan sehingga infrastruktur pendukung investasi di Kutim semakin kuat.

    “Mudah-mudahan ini bisa cepat, ini bisa menarik percepatan pembangunan di Kabupaten Kutim,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Investasi di Kutim Masih Lambat, Mahyunadi Singgung Dugaan Gratifikasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 Agustus 2026 pukul 14:48 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menyoroti masih lambannya proses investasi di daerah. Ia meminta pemerintah mempercepat pelayanan dan memastikan tidak ada praktik yang dapat menghambat masuknya penanam modal.

    Menurutnya, kemudahan investasi menjadi hal penting jika Kutim ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik lebih banyak penanam modal. Ia menilai, proses yang semestinya dapat berjalan cepat tidak boleh menjadi lambat karena urusan birokrasi.

    Mahyunadi menyinggung kemungkinan gratifikasi menjadi salah satu faktor yang membuat pelayanan investasi berjalan lambat.

    “Mungkin saja karena lambatnya urusan yang kita lakukan itu karena menunggu gratifikasi, mungkin,” ujar Mahyunadisaat Sosialisasi Antikorupsi dan Pengendalian Gratifikasi. 

    Ia mengatakan, Kutim sebenarnya memiliki modal untuk menarik investasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Investor yang menanamkan modal di kawasan tersebut mendapatkan sejumlah kemudahan, termasuk fasilitas perpajakan.

    “Sementara Kutim punya kawasan ekonomi khusus Maloy yang perusahaan investor menanamkan modal di sana dapat potongan pajak. Dapat kemudahan-kemudahan,” katanya.

    Karena itu, Mahyunadi mempertanyakan masih adanya kendala yang membuat investasi belum berkembang maksimal. Keberadaan fasilitas investasi harus diikuti dengan pelayanan pemerintah yang cepat dan memberikan kepastian kepada pelaku usaha.

    Ia menegaskan, pemerintah daerah perlu segera melakukan transformasi, terutama dalam memperbaiki pelayanan yang berkaitan dengan investasi. “Oleh karena itulah ke depan kita harus segera bertransformasi,” tegasnya.

    Mahyunadi mengatakan percepatan investasi juga berkaitan dengan arah pembangunan Kutim yang tidak lagi hanya mengandalkan sektor pertambangan. Pemerintah, kata dia, perlu mendorong hilirisasi di berbagai sektor yang memiliki potensi ekonomi.

    “Salah satu misi Kutim yaitu percepatan pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan pariwisata,” jelasnya.

    Hilirisasi perlu digenjot agar komoditas yang dihasilkan di Kutim dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah.

    “Oleh karena itulah yang berkaitan dengan hilir harus segera kita genjot. Karena kita tidak bisa mengandalkan batu bara lagi,” ucapnya.

    Mahyunadi menilai pemerintah yang bersih dan pelayanan yang cepat akan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor.

    Di sisi lain, Mahyunadi menyebut investasi pabrik minyak goreng oleh PT IPS sebagai salah satu investasi yang telah masuk ke Kutim. Ia juga menyinggung rencana menjadikan bandara khusus sebagai bandara umum yang diharapkan dapat mendukung aktivitas investasi dan pembangunan.

    Mahyunadi mengatakan perubahan status bandara dari bandara khusus menjadi bandara umum masih membutuhkan kajian. Lokasinya yang berada di wilayah transmigrasi juga membuat proses tersebut perlu dikoordinasikan lebih lanjut.

    Ia berharap seluruh proses dapat segera diselesaikan sehingga infrastruktur pendukung investasi di Kutim semakin kuat.

    “Mudah-mudahan ini bisa cepat, ini bisa menarik percepatan pembangunan di Kabupaten Kutim,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)