Seputar Kaltim

    Intrusi Air Laut Makin Jauh ke Mahakam, Intake Tirta Mahakam di Anggana-Sangasanga Dibatasi ‎

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 September 2026 pukul 21:59 WITA

    Kondisi debit air Sungai Mahakam menurun saat musim kemarau (Dok: istimewa)

    Tenggarong - Kondisi aliran Sungai Mahakam yang debitnya relatif rendah membuat dorongan air laut masuk semakin jauh ke wilayah sungai. 

    ‎Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap pengambilan air baku untuk kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah hilir Kutai Kartanegara (Kukar).

    ‎Sebagai tindak lanjut, Perumda Tirta Mahakam kini menyesuaikan operasional intake di Kecamatan Anggana dan Sangasanga dengan kondisi kadar garam air sungai. Pengambilan air baku hanya dilakukan ketika kadar garam masih berada di bawah batas yang ditetapkan.

    ‎Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengatakan kondisi di Anggana dan Sangasanga berkaitan dengan satu aliran Sungai Mahakam yang kini terdampak intrusi air laut.

    ‎“Kondisinya sama karena itu satu aliran. Sangasanga dan Anggana. Sangasanga itu bedanya dia ada masuk Sungai Sangasanga, sementara kalau Anggana kan satu aliran dengan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, kasusnya sama,” ujar Suparno, Sabtu (12/9/2026).

    ‎Suparno menjelaskan operasional intake tidak serta-merta dihentikan akibat masuknya air laut. Pihaknya tetap mengambil air baku dengan melihat kondisi dan kadar garam yang terkandung di dalam sungai.

    ‎“Tidak setop, tapi melihat kondisi air. Jika itu di bawah 250, maka kita operasikan,” jelasnya.

    ‎Menurutnya, angka 250 ppm menjadi salah satu batas yang menjadi acuan dalam menentukan apakah intake masih dapat dioperasikan. 

    ‎Jika kadar garam berada di atas batas tersebut, pengambilan air baku harus dihentikan atau disesuaikan dengan kondisi.

    ‎Untuk memastikan perubahan kualitas air, petugas Perumda Tirta Mahakam melakukan pengecekan kadar garam secara berkala, bahkan setiap satu jam.

    ‎Pemantauan tersebut dilakukan karena kondisi air di permukaan sungai dengan bagian yang lebih dalam dapat berbeda, sementara air baku untuk kebutuhan produksi tidak diambil dari permukaan.

    ‎“Tiap jam kita cek. Ada perubahan apa gitu karena antara permukaan dengan yang di dalam kan berbeda biasanya. Lebih di dalam itu yang harus kita cermati,” jelasnya.

    ‎Suparno menyebut kondisi intrusi air laut pada Jumat (11/9/2026) diduga telah mencapai salah satu titik puncaknya.

    ‎Meski begitu, pihaknya masih terus memantau perubahan kadar garam, terutama mengikuti kondisi pasang dan surut air sungai.

    ‎“Ini memang hari ini kayaknya puncaknya, puncak dorongan air laut ini kayaknya,” ucapnya.

    ‎Saat air sungai surut, kadar garam cenderung mengalami penurunan. Namun, Perumda Tirta Mahakam tetap perlu melihat sejauh mana penurunan tersebut sebelum kembali mengoperasikan intake secara normal.

    ‎Akibat kondisi tersebut, intake di Anggana dan Sangasanga tidak dapat beroperasi penuh selama 24 jam. Pola pengambilan air baku harus menyesuaikan hasil pemantauan kualitas air setiap waktu.

    ‎Guna mengantisipasi berkurangnya produksi air bersih, Perumda Tirta Mahakam telah menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki. Upaya tersebut telah dilakukan sekitar dua pekan terakhir.

    ‎Suparno menyampaikan air untuk kebutuhan dropping berasal dari Loa Janan. Khusus Kecamatan Anggana, empat unit mobil tangki disiapkan untuk melayani masyarakat secara bergantian.

    ‎“Empat unit mobil tangki, semampu kita sampai. Soalnya kita buat dua sif, datang drop dan datang drop terus,” katanya.

    ‎Ia memastikan distribusi air tersebut tidak dibatasi selama kondisi intrusi air laut masih berlangsung. Langkah itu dilakukan untuk membantu mengurangi kekurangan pasokan air bersih yang dirasakan masyarakat.

    ‎“Tidak terbatas selama masih kondisi ini. Paling tidak itu mengurangi kekurangan,” tandasnya.

    ‎(Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Intrusi Air Laut Makin Jauh ke Mahakam, Intake Tirta Mahakam di Anggana-Sangasanga Dibatasi ‎

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 September 2026 pukul 21:59 WITA

    Kondisi debit air Sungai Mahakam menurun saat musim kemarau (Dok: istimewa)

    Tenggarong - Kondisi aliran Sungai Mahakam yang debitnya relatif rendah membuat dorongan air laut masuk semakin jauh ke wilayah sungai. 

    ‎Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap pengambilan air baku untuk kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah hilir Kutai Kartanegara (Kukar).

    ‎Sebagai tindak lanjut, Perumda Tirta Mahakam kini menyesuaikan operasional intake di Kecamatan Anggana dan Sangasanga dengan kondisi kadar garam air sungai. Pengambilan air baku hanya dilakukan ketika kadar garam masih berada di bawah batas yang ditetapkan.

    ‎Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengatakan kondisi di Anggana dan Sangasanga berkaitan dengan satu aliran Sungai Mahakam yang kini terdampak intrusi air laut.

    ‎“Kondisinya sama karena itu satu aliran. Sangasanga dan Anggana. Sangasanga itu bedanya dia ada masuk Sungai Sangasanga, sementara kalau Anggana kan satu aliran dengan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, kasusnya sama,” ujar Suparno, Sabtu (12/9/2026).

    ‎Suparno menjelaskan operasional intake tidak serta-merta dihentikan akibat masuknya air laut. Pihaknya tetap mengambil air baku dengan melihat kondisi dan kadar garam yang terkandung di dalam sungai.

    ‎“Tidak setop, tapi melihat kondisi air. Jika itu di bawah 250, maka kita operasikan,” jelasnya.

    ‎Menurutnya, angka 250 ppm menjadi salah satu batas yang menjadi acuan dalam menentukan apakah intake masih dapat dioperasikan. 

    ‎Jika kadar garam berada di atas batas tersebut, pengambilan air baku harus dihentikan atau disesuaikan dengan kondisi.

    ‎Untuk memastikan perubahan kualitas air, petugas Perumda Tirta Mahakam melakukan pengecekan kadar garam secara berkala, bahkan setiap satu jam.

    ‎Pemantauan tersebut dilakukan karena kondisi air di permukaan sungai dengan bagian yang lebih dalam dapat berbeda, sementara air baku untuk kebutuhan produksi tidak diambil dari permukaan.

    ‎“Tiap jam kita cek. Ada perubahan apa gitu karena antara permukaan dengan yang di dalam kan berbeda biasanya. Lebih di dalam itu yang harus kita cermati,” jelasnya.

    ‎Suparno menyebut kondisi intrusi air laut pada Jumat (11/9/2026) diduga telah mencapai salah satu titik puncaknya.

    ‎Meski begitu, pihaknya masih terus memantau perubahan kadar garam, terutama mengikuti kondisi pasang dan surut air sungai.

    ‎“Ini memang hari ini kayaknya puncaknya, puncak dorongan air laut ini kayaknya,” ucapnya.

    ‎Saat air sungai surut, kadar garam cenderung mengalami penurunan. Namun, Perumda Tirta Mahakam tetap perlu melihat sejauh mana penurunan tersebut sebelum kembali mengoperasikan intake secara normal.

    ‎Akibat kondisi tersebut, intake di Anggana dan Sangasanga tidak dapat beroperasi penuh selama 24 jam. Pola pengambilan air baku harus menyesuaikan hasil pemantauan kualitas air setiap waktu.

    ‎Guna mengantisipasi berkurangnya produksi air bersih, Perumda Tirta Mahakam telah menyiapkan distribusi air menggunakan mobil tangki. Upaya tersebut telah dilakukan sekitar dua pekan terakhir.

    ‎Suparno menyampaikan air untuk kebutuhan dropping berasal dari Loa Janan. Khusus Kecamatan Anggana, empat unit mobil tangki disiapkan untuk melayani masyarakat secara bergantian.

    ‎“Empat unit mobil tangki, semampu kita sampai. Soalnya kita buat dua sif, datang drop dan datang drop terus,” katanya.

    ‎Ia memastikan distribusi air tersebut tidak dibatasi selama kondisi intrusi air laut masih berlangsung. Langkah itu dilakukan untuk membantu mengurangi kekurangan pasokan air bersih yang dirasakan masyarakat.

    ‎“Tidak terbatas selama masih kondisi ini. Paling tidak itu mengurangi kekurangan,” tandasnya.

    ‎(Sf/Lo)