Seputar Kaltim
Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)
Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat penggunaan insinerator berhasil mereduksi sekitar 92 persen dari total 750 ton sampah yang dibakar selama periode Januari hingga Juli 2026.
Capaian tersebut setara dengan pengurangan volume sampah sekitar 690 ton, sementara sisanya sekitar 60 ton berupa abu yang tetap perlu dikelola.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengatakan hasil evaluasi operasional insinerator untuk periode tersebut telah disusun dalam laporan dan diteruskan kepada Wali Kota Samarinda.
Evaluasi itu kemudian dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten II bersama para kepala pengelola insinerator se-Kota Samarinda.
“Dari 750 ton sampah yang kita bakar, itu kita berhasil mereduksi sekitar 92 persen. Jadi sisanya 8 persen itu dalam bentuk abu, itu jumlahnya hanya kurang lebih 60 ton,” ujar Taufiq, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menjadi hasil positif dalam pemanfaatan insinerator untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Namun, ia mengingatkan bahwa fungsi utama insinerator bukan menghilangkan sampah sepenuhnya, melainkan mereduksi volumenya.
“Secara filosofis, insinerator ini prinsipnya bukan menghilangkan sampah sepenuhnya, tapi mereduksi atau mengurangi volume sampah. Sehingga beban sampah yang ada di TPA berkurang,” jelasnya.
Meski capaian reduksi dinilai positif, DLH masih melihat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, terutama volume pembakaran yang berkaitan dengan pemilihan jenis sampah sebelum dimasukkan ke insinerator.
Taufiq menjelaskan, tidak semua sampah dapat dibakar menggunakan teknologi tersebut. Pemilahan tidak cukup hanya dengan memisahkan sampah basah dan kering, sebab sejumlah sampah kering juga berpotensi menimbulkan masalah saat dibakar.
Ia menyebut styrofoam, material berbahan logam, kain, kertas, daun hijau maupun kering, hingga ranting pohon sebagai jenis sampah yang perlu diperhatikan dalam proses pemilahan.
Karena itu, menurutnya, pemilihan sampah yang sesuai menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kinerja insinerator.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar perbaikan pengelolaan sampah agar pemanfaatan insinerator dapat berjalan lebih optimal.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)
Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat penggunaan insinerator berhasil mereduksi sekitar 92 persen dari total 750 ton sampah yang dibakar selama periode Januari hingga Juli 2026.
Capaian tersebut setara dengan pengurangan volume sampah sekitar 690 ton, sementara sisanya sekitar 60 ton berupa abu yang tetap perlu dikelola.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengatakan hasil evaluasi operasional insinerator untuk periode tersebut telah disusun dalam laporan dan diteruskan kepada Wali Kota Samarinda.
Evaluasi itu kemudian dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten II bersama para kepala pengelola insinerator se-Kota Samarinda.
“Dari 750 ton sampah yang kita bakar, itu kita berhasil mereduksi sekitar 92 persen. Jadi sisanya 8 persen itu dalam bentuk abu, itu jumlahnya hanya kurang lebih 60 ton,” ujar Taufiq, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menjadi hasil positif dalam pemanfaatan insinerator untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Namun, ia mengingatkan bahwa fungsi utama insinerator bukan menghilangkan sampah sepenuhnya, melainkan mereduksi volumenya.
“Secara filosofis, insinerator ini prinsipnya bukan menghilangkan sampah sepenuhnya, tapi mereduksi atau mengurangi volume sampah. Sehingga beban sampah yang ada di TPA berkurang,” jelasnya.
Meski capaian reduksi dinilai positif, DLH masih melihat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, terutama volume pembakaran yang berkaitan dengan pemilihan jenis sampah sebelum dimasukkan ke insinerator.
Taufiq menjelaskan, tidak semua sampah dapat dibakar menggunakan teknologi tersebut. Pemilahan tidak cukup hanya dengan memisahkan sampah basah dan kering, sebab sejumlah sampah kering juga berpotensi menimbulkan masalah saat dibakar.
Ia menyebut styrofoam, material berbahan logam, kain, kertas, daun hijau maupun kering, hingga ranting pohon sebagai jenis sampah yang perlu diperhatikan dalam proses pemilahan.
Karena itu, menurutnya, pemilihan sampah yang sesuai menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kinerja insinerator.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar perbaikan pengelolaan sampah agar pemanfaatan insinerator dapat berjalan lebih optimal.
(Sf/Lo)