Cari disini...
Seputar Kaltim
Ikan menjadi komoditas yang turut mendorong inflasi Kabupaten PPU pada Juli 2026. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Inflasi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Juli 2026 tercatat 2,34 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih terkendali, tekanan harga pada bulan tersebut paling terasa dari kelompok pangan, terutama komoditas ikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) PPU, Suko Haryono, mengatakan inflasi PPU secara month to month (mtm) pada Juli tercatat 0,28 persen.
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, bahan bakar rumah tangga, terung, kangkung, bawang putih, bayam dan ikan kembung.
"Daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,31 persen untuk bulan ke bulan," kata Suko, Kamis (6/8/2026).
Sementara secara tahunan, ikan layang menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,45 persen.
Menurut Suko, tekanan harga ikan berkaitan dengan kondisi cuaca yang memengaruhi pasokan. Gelombang tinggi pada periode angin selatan membuat frekuensi nelayan melaut berkurang sehingga pasokan ikan menurun, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan.
"Kalau gelombang tinggi, frekuensi nelayan melaut berkurang. Suplai ikan berkurang, sementara permintaan tetap. Kondisi itu yang kemudian mendorong harga," ujarnya.
Ia menjelaskan kenaikan harga pada dasarnya dapat dipengaruhi faktor pasokan maupun permintaan. Keduanya juga dapat terjadi secara bersamaan.
Di PPU, tekanan dari sisi permintaan turut dipengaruhi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan. Aktivitas tersebut ikut meningkatkan kebutuhan bahan makanan, meski pengaruhnya perlu dilihat bersama faktor pasokan.
"Program MBG sudah berjalan, artinya dari sisi permintaan, khususnya makanan, tentu memiliki andil," jelas dia.
Berdasarkan rilis BPS Kalimantan Timur (Kaltim) pada 3 Agustus 2026, inflasi tahunan PPU sebesar 2,34 persen masih berada dalam kondisi terkendali.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ikan menjadi komoditas yang turut mendorong inflasi Kabupaten PPU pada Juli 2026. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Inflasi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Juli 2026 tercatat 2,34 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih terkendali, tekanan harga pada bulan tersebut paling terasa dari kelompok pangan, terutama komoditas ikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) PPU, Suko Haryono, mengatakan inflasi PPU secara month to month (mtm) pada Juli tercatat 0,28 persen.
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, bahan bakar rumah tangga, terung, kangkung, bawang putih, bayam dan ikan kembung.
"Daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,31 persen untuk bulan ke bulan," kata Suko, Kamis (6/8/2026).
Sementara secara tahunan, ikan layang menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,45 persen.
Menurut Suko, tekanan harga ikan berkaitan dengan kondisi cuaca yang memengaruhi pasokan. Gelombang tinggi pada periode angin selatan membuat frekuensi nelayan melaut berkurang sehingga pasokan ikan menurun, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan.
"Kalau gelombang tinggi, frekuensi nelayan melaut berkurang. Suplai ikan berkurang, sementara permintaan tetap. Kondisi itu yang kemudian mendorong harga," ujarnya.
Ia menjelaskan kenaikan harga pada dasarnya dapat dipengaruhi faktor pasokan maupun permintaan. Keduanya juga dapat terjadi secara bersamaan.
Di PPU, tekanan dari sisi permintaan turut dipengaruhi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan. Aktivitas tersebut ikut meningkatkan kebutuhan bahan makanan, meski pengaruhnya perlu dilihat bersama faktor pasokan.
"Program MBG sudah berjalan, artinya dari sisi permintaan, khususnya makanan, tentu memiliki andil," jelas dia.
Berdasarkan rilis BPS Kalimantan Timur (Kaltim) pada 3 Agustus 2026, inflasi tahunan PPU sebesar 2,34 persen masih berada dalam kondisi terkendali.
(Sf/Lo)