Cari disini...
Seputarfakta.com - Cindy -
Seputar Kaltim
Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten PPU, Krisna Aditama. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi sebesar 2,10 persen pada April 2026, menjadi yang terendah dibanding Balikpapan, Berau, dan Samarinda.
Di periode yang sama, inflasi Balikpapan dan Berau masing-masing berada di angka 2,19 persen, sementara Samarinda tercatat lebih tinggi, yakni 2,92 persen.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setkab PPU, Krisna Aditama, menyebut capaian ini mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten PPU, inflasi April menjadi yang terendah sepanjang 2026. Sebelumnya, Januari berada di angka 2,75 persen, Februari 4,13 persen, dan Maret 3,33 persen.
"Kami berhasil menjaga tren penurunan. Mudah-mudahan dalam delapan bulan ke depan, bersama OPD terkait, inflasi tetap terjaga di bawah standar nasional sebesar 2,5±1 persen," ucap Krisna, Selasa (5/5/2026).
Komoditas penyumbang inflasi antara lain tomat 0,29 persen, semangka 0,11 persen, bakso siap santap 0,08 persen, bawang merah 0,04 persen, dan minyak goreng 0,03 persen.
Sementara itu, andil deflasi tercatat pada daging ayam ras (-0,14 persen), cabai rawit (-0,09 persen), ikan tongkol (-0,05 persen), terong (-0,05 persen), dan kacang panjang (-0,02 persen).
Krisna menyebut, tekanan inflasi di PPU masih dipengaruhi ketersediaan bahan pokok, terutama minyak goreng yang sempat terbatas di pasaran. Sejumlah warga di beberapa wilayah dilaporkan kesulitan memperoleh komoditas tersebut.
Untuk menjaga pasokan, pemerintah daerah menggandeng distributor, ritel, serta Perumda Manuntung Sukses Balikpapan guna mengatasi kekurangan minyak goreng, khususnya Minyak Kita.
Selain itu, pengendalian dilakukan lewat pemantauan harga bahan pokok penting (bapokting), gerakan pangan murah bersama Bulog, hingga operasi pasar.
"Sidak dan monitoring rutin kami lakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional, agen distribusi, hingga toko swalayan di PPU," katanya.
Menjelang Iduladha, pemerintah memprediksi tekanan inflasi akan datang dari komoditas seperti telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi.
"Komoditas dengan konsumsi tinggi masyarakat itu yang harus tetap kita jaga harganya," ujarnya.
Melalui langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah berharap laju inflasi hingga akhir tahun tetap terkendali.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Cindy -
Seputar Kaltim

Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten PPU, Krisna Aditama. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi sebesar 2,10 persen pada April 2026, menjadi yang terendah dibanding Balikpapan, Berau, dan Samarinda.
Di periode yang sama, inflasi Balikpapan dan Berau masing-masing berada di angka 2,19 persen, sementara Samarinda tercatat lebih tinggi, yakni 2,92 persen.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setkab PPU, Krisna Aditama, menyebut capaian ini mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten PPU, inflasi April menjadi yang terendah sepanjang 2026. Sebelumnya, Januari berada di angka 2,75 persen, Februari 4,13 persen, dan Maret 3,33 persen.
"Kami berhasil menjaga tren penurunan. Mudah-mudahan dalam delapan bulan ke depan, bersama OPD terkait, inflasi tetap terjaga di bawah standar nasional sebesar 2,5±1 persen," ucap Krisna, Selasa (5/5/2026).
Komoditas penyumbang inflasi antara lain tomat 0,29 persen, semangka 0,11 persen, bakso siap santap 0,08 persen, bawang merah 0,04 persen, dan minyak goreng 0,03 persen.
Sementara itu, andil deflasi tercatat pada daging ayam ras (-0,14 persen), cabai rawit (-0,09 persen), ikan tongkol (-0,05 persen), terong (-0,05 persen), dan kacang panjang (-0,02 persen).
Krisna menyebut, tekanan inflasi di PPU masih dipengaruhi ketersediaan bahan pokok, terutama minyak goreng yang sempat terbatas di pasaran. Sejumlah warga di beberapa wilayah dilaporkan kesulitan memperoleh komoditas tersebut.
Untuk menjaga pasokan, pemerintah daerah menggandeng distributor, ritel, serta Perumda Manuntung Sukses Balikpapan guna mengatasi kekurangan minyak goreng, khususnya Minyak Kita.
Selain itu, pengendalian dilakukan lewat pemantauan harga bahan pokok penting (bapokting), gerakan pangan murah bersama Bulog, hingga operasi pasar.
"Sidak dan monitoring rutin kami lakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional, agen distribusi, hingga toko swalayan di PPU," katanya.
Menjelang Iduladha, pemerintah memprediksi tekanan inflasi akan datang dari komoditas seperti telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi.
"Komoditas dengan konsumsi tinggi masyarakat itu yang harus tetap kita jaga harganya," ujarnya.
Melalui langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah berharap laju inflasi hingga akhir tahun tetap terkendali.
(Sf/Rs)