Cari disini...
Seputarfakta.com - Maya Sari -
Seputar Kaltim
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: dok/Seputarfakta.com)
Balikpapan — Laju inflasi di Kota Balikpapan pada April 2026 menunjukkan tren melandai. Kondisi ini didorong oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, serta terjaganya pasokan bahan pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi menyebutkan, stabilnya inflasi juga merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di kedua wilayah tersebut. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam target nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
“Pada April 2026, Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan pangan di tengah permintaan yang kembali normal setelah Idulfitri,” ucap Robi dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,19 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen dan inflasi gabungan empat kota di Kaltim sebesar 2,50 persen.
Di Balikpapan, deflasi terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, serta bahan bakar rumah tangga.
“Penurunan harga ini dipicu meningkatnya pasokan, baik dari daerah lokal maupun luar daerah, serta kondisi cuaca yang mendukung hasil tangkapan nelayan. Selain itu, panen di sentra produksi juga turut menambah pasokan cabai,” lanjutnya.
Namun demikian, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan, seiring penyesuaian tarif penerbangan akibat kenaikan harga avtur.
Beberapa komoditas lain seperti tomat, semangka, kangkung, minyak goreng, serta jasa servis kendaraan juga mengalami kenaikan harga.
Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko ke depan, terutama memasuki musim kemarau yang diperkirakan mulai Juli hingga Agustus 2026.
“Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan, baik di Kaltim maupun Pulau Jawa sebagai daerah pemasok utama,” terangnya.
Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi dan program pemerintah juga berpotensi mendorong permintaan pangan, sehingga perlu diantisipasi agar tidak memicu kenaikan harga.
Sebagai langkah pengendalian, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui TPID terus memperkuat koordinasi. Berbagai upaya dilakukan, seperti operasi pasar, distribusi bantuan pangan, kerja sama antar daerah, hingga program ketahanan pangan seperti gerakan menanam cabai, padi, dan jagung.
“Selain itu, kegiatan pasar murah dan gerakan pangan murah juga terus digencarkan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat,” paparnya.
Bank Indonesia menegaskan akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas inflasi daerah, sekaligus memastikan pasokan pangan tetap terjaga.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maya Sari -
Seputar Kaltim

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: dok/Seputarfakta.com)
Balikpapan — Laju inflasi di Kota Balikpapan pada April 2026 menunjukkan tren melandai. Kondisi ini didorong oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, serta terjaganya pasokan bahan pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi menyebutkan, stabilnya inflasi juga merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di kedua wilayah tersebut. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam target nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
“Pada April 2026, Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan pangan di tengah permintaan yang kembali normal setelah Idulfitri,” ucap Robi dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,19 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen dan inflasi gabungan empat kota di Kaltim sebesar 2,50 persen.
Di Balikpapan, deflasi terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, serta bahan bakar rumah tangga.
“Penurunan harga ini dipicu meningkatnya pasokan, baik dari daerah lokal maupun luar daerah, serta kondisi cuaca yang mendukung hasil tangkapan nelayan. Selain itu, panen di sentra produksi juga turut menambah pasokan cabai,” lanjutnya.
Namun demikian, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan, seiring penyesuaian tarif penerbangan akibat kenaikan harga avtur.
Beberapa komoditas lain seperti tomat, semangka, kangkung, minyak goreng, serta jasa servis kendaraan juga mengalami kenaikan harga.
Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko ke depan, terutama memasuki musim kemarau yang diperkirakan mulai Juli hingga Agustus 2026.
“Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan, baik di Kaltim maupun Pulau Jawa sebagai daerah pemasok utama,” terangnya.
Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi dan program pemerintah juga berpotensi mendorong permintaan pangan, sehingga perlu diantisipasi agar tidak memicu kenaikan harga.
Sebagai langkah pengendalian, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui TPID terus memperkuat koordinasi. Berbagai upaya dilakukan, seperti operasi pasar, distribusi bantuan pangan, kerja sama antar daerah, hingga program ketahanan pangan seperti gerakan menanam cabai, padi, dan jagung.
“Selain itu, kegiatan pasar murah dan gerakan pangan murah juga terus digencarkan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat,” paparnya.
Bank Indonesia menegaskan akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas inflasi daerah, sekaligus memastikan pasokan pangan tetap terjaga.
(Sf/Rs)