Seputar Kaltim

    Imbas Kasus Bom di SMAN 72 Jakarta, ABKIN Samarinda Arahkan Guru Lakukan Pencegahan dan Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    15 November 2025 pukul 13:22 WITA

    Ilustrasi perhatian kesehatan mental dimulai dari guru Bimbingan Konseling. (Foto: Freepik)

    Samarinda - Insiden peledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada 11 November 2025 lalu menjadi sorotan serius Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB ABKIN). 

    Peristiwa yang diduga dipicu oleh paparan konten daring dan dinamika psikososial ini mendorong PB ABKIN mengeluarkan Maklumat resmi.

    Maklumat Nomor 108/PB-ABKIN/XI/2025 tersebut menegaskan enam poin penting, salah satunya adalah menekankan urgensi literasi digital dan penggunaan media daring yang positif. 

    PB ABKIN juga menghimbau seluruh anggotanya, terutama guru Bimbingan dan Konseling (BK), untuk fokus dan peduli terhadap dinamika kesehatan mental murid untuk mengoptimalkan upaya mencegah dan mengatasi masalah psikis serta perilaku murid.

    PB ABKIN Pusat juga menyatakan siap berkolaborasi dengan aparat penegak hukum dan lembaga terkait dalam memberikan pendampingan fisik dan psikis, pelatihan, serta program pencegahan masalah kesehatan mental, perundungan (bullying), dan kekerasan di sekolah.

    Menanggapi maklumat tersebut, ABKIN Samarinda melalui salah satu anggotanya, Siti Nurul H.Q. M, menekankan pentingnya peran guru BK di sekolah sebagai garda terdepan. 

    Menurut Nurul, masalah perilaku ekstrem seperti yang terjadi di Jakarta dapat berakar dari masalah psikologis yang lebih dalam.

    "Itu bisa jadi karena bisa saja ada pengalaman-pengalaman pahit atau hal-hal yang memang ada dari tugas perkembangannya yang kosong sebagai individu dan itu tidak terisi hingga mencari tempat pelampiasan lain," jelas Siti Nurul dihubungi di Samarinda, Sabtu (15/11/2025).

    Pelampiasan ini, lanjutnya, bisa berupa keterlibatan dalam game yang mengandung kekerasan. Namun, Nurul menegaskan bahwa game seperti PUBG hanya menjadi alat yang memberikan rasa puas, bukan akar masalah utamanya.

    "Mungkin saja di game itu dia merasa puas ketika menembak orang. Itu kan memang ada perasaan-perasaan lega di situ," ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menganalogikan kondisi kejiwaan bermasalah sebagai fenomena gunung es. Perilaku yang terlihat di permukaan, seperti aksi kekerasan, hanyalah puncak kecil dari gejolak psikologis yang jauh lebih kacau di bawahnya.

    "Sederhananya, ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa I'm not okay atau agar di-notice," kata Nurul, meskipun ia mengakui istilah "mencari perhatian" terkesan terlalu jahat.

    Nurul menambahkan bahwa cikal bakal perilaku berbahaya dapat dideteksi sejak dini, bahkan melalui perilaku bullying atau perundungan di tingkat sekolah dasar. Ia menceritakan kasus anak SD di Samarinda yang senang bikin onar dan bersikap manipulatif.

    "Makanya untuk pendeteksian bully di sekolah itu sangat penting dan bahkan bullying masuk dari tiga dosa besar pendidikan, kan," tegasnya.

    ABKIN Samarinda sangat mendukung instruksi dari pusat untuk menitikberatkan pada pencegahan dan deteksi sejak dini perilaku-perilaku bermasalah. 

    Nurul pun mengimbau masyarakat luas bahwa kesehatan mental bukan hal sepele dan perlu maintenance rutin.

    "Kami selalu mengkampanyekan bahwa it's okay, hari ini baik-baik saja atau enggak baik-baik saja itu tetap melakukan maintenance ke psikolog, ke psikiater. Enggak mesti tunggu sakit," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Imbas Kasus Bom di SMAN 72 Jakarta, ABKIN Samarinda Arahkan Guru Lakukan Pencegahan dan Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    15 November 2025 pukul 13:22 WITA

    Ilustrasi perhatian kesehatan mental dimulai dari guru Bimbingan Konseling. (Foto: Freepik)

    Samarinda - Insiden peledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada 11 November 2025 lalu menjadi sorotan serius Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB ABKIN). 

    Peristiwa yang diduga dipicu oleh paparan konten daring dan dinamika psikososial ini mendorong PB ABKIN mengeluarkan Maklumat resmi.

    Maklumat Nomor 108/PB-ABKIN/XI/2025 tersebut menegaskan enam poin penting, salah satunya adalah menekankan urgensi literasi digital dan penggunaan media daring yang positif. 

    PB ABKIN juga menghimbau seluruh anggotanya, terutama guru Bimbingan dan Konseling (BK), untuk fokus dan peduli terhadap dinamika kesehatan mental murid untuk mengoptimalkan upaya mencegah dan mengatasi masalah psikis serta perilaku murid.

    PB ABKIN Pusat juga menyatakan siap berkolaborasi dengan aparat penegak hukum dan lembaga terkait dalam memberikan pendampingan fisik dan psikis, pelatihan, serta program pencegahan masalah kesehatan mental, perundungan (bullying), dan kekerasan di sekolah.

    Menanggapi maklumat tersebut, ABKIN Samarinda melalui salah satu anggotanya, Siti Nurul H.Q. M, menekankan pentingnya peran guru BK di sekolah sebagai garda terdepan. 

    Menurut Nurul, masalah perilaku ekstrem seperti yang terjadi di Jakarta dapat berakar dari masalah psikologis yang lebih dalam.

    "Itu bisa jadi karena bisa saja ada pengalaman-pengalaman pahit atau hal-hal yang memang ada dari tugas perkembangannya yang kosong sebagai individu dan itu tidak terisi hingga mencari tempat pelampiasan lain," jelas Siti Nurul dihubungi di Samarinda, Sabtu (15/11/2025).

    Pelampiasan ini, lanjutnya, bisa berupa keterlibatan dalam game yang mengandung kekerasan. Namun, Nurul menegaskan bahwa game seperti PUBG hanya menjadi alat yang memberikan rasa puas, bukan akar masalah utamanya.

    "Mungkin saja di game itu dia merasa puas ketika menembak orang. Itu kan memang ada perasaan-perasaan lega di situ," ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menganalogikan kondisi kejiwaan bermasalah sebagai fenomena gunung es. Perilaku yang terlihat di permukaan, seperti aksi kekerasan, hanyalah puncak kecil dari gejolak psikologis yang jauh lebih kacau di bawahnya.

    "Sederhananya, ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa I'm not okay atau agar di-notice," kata Nurul, meskipun ia mengakui istilah "mencari perhatian" terkesan terlalu jahat.

    Nurul menambahkan bahwa cikal bakal perilaku berbahaya dapat dideteksi sejak dini, bahkan melalui perilaku bullying atau perundungan di tingkat sekolah dasar. Ia menceritakan kasus anak SD di Samarinda yang senang bikin onar dan bersikap manipulatif.

    "Makanya untuk pendeteksian bully di sekolah itu sangat penting dan bahkan bullying masuk dari tiga dosa besar pendidikan, kan," tegasnya.

    ABKIN Samarinda sangat mendukung instruksi dari pusat untuk menitikberatkan pada pencegahan dan deteksi sejak dini perilaku-perilaku bermasalah. 

    Nurul pun mengimbau masyarakat luas bahwa kesehatan mental bukan hal sepele dan perlu maintenance rutin.

    "Kami selalu mengkampanyekan bahwa it's okay, hari ini baik-baik saja atau enggak baik-baik saja itu tetap melakukan maintenance ke psikolog, ke psikiater. Enggak mesti tunggu sakit," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)