Cari disini...
Seputar Kaltim
Seorang petani Kopi Liberika Kaltim yang memegang setumpuk biji kopi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kopi jenis Liberika asal Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini kerap dipandang sebelah mata, kalah pamor dari dominasi arabika dan robusta.
Namun, berkat kegigihan petani dan tangan dingin para barista, kopi beraroma unik dari Benua Etam ini akhirnya siap unjuk gigi di kancah nasional.
Panggung pembuktian itu adalah Indonesia Brewers Cup Regional (IBRC) 2026 yang bakal dihelat di Jakarta pada 9-12 Juli mendatang.
Di balik tiket menuju kompetisi bergengsi ini, ada kolaborasi ekstra keras yang terjalin dari hulu ke hilir demi mengangkat derajat kopi lokal.
Utari Citra Ihsani, barista dari Ethics Coffee yang mewakili Kaltim, mengakui perjalanan menuju IBRC tidaklah mudah. Waktu persiapan yang dimiliki timnya sangat terbatas.
“Persiapannya memang sangat mepet, hanya sekitar dua bulan. Tapi kami bersama tim akan berusaha semaksimal mungkin. Kami ingin membawa kopi Kaltim ke ranah yang berbeda, di tingkat yang berbeda,” ungkapnya.
Dalam waktu dua bulan, Uci harus berpacu dengan waktu. Ia berkoordinasi intensif dengan petani dan roastery guna memastikan biji Liberika yang diseduh nantinya memiliki kualitas maksimal saat berhadapan dengan juri dan pelaku industri kopi se-Nusantara.
Uci menegaskan, keikutsertaannya bukan semata untuk memburu trofi. Ada misi yang lebih besar dengan membuka mata pasar nasional terhadap potensi Liberika Kaltim, sekaligus memotivasi lebih banyak barista perempuan agar berani turun gunung di kompetisi bergengsi.
Kerja keras di meja seduh ini disambut optimisme dari para pelaku di kebun. Slamet Prayoga, salah seorang petani Kopi Liberika Kaltim, memandang ajang IBRC sebagai kunci untuk mendobrak pintu pasar yang selama ini sulit ditembus.
Bagi Yoga, tantangan terbesar petani Kaltim saat ini bukanlah mengalahkan kopi unggulan dari daerah lain, melainkan memastikan eksistensi Liberika Kaltim diakui secara luas.
“Intinya kita mengenalkan bahwa Kaltim juga punya kopi khasnya. Kalau petaninya cukup banyak, pasar yang akan datang. Jadi saya tidak melihat siapa lawannya, tapi bagaimana caranya mendapatkan pasar dari luar dan memperkenalkan kopi Liberika asal Kaltim,” tuturnya.
Sebagai senjata, Liberika Kaltim membawa profil cita rasa yang tidak biasa. Yoga menyebut kopi ini memiliki aroma buah nangka yang sangat kuat, sebuah karakter yang diyakini bisa menjadi daya tarik utama bagi penikmat kopi yang bosan dengan rasa arus utama.
Lebih jauh, tanaman Liberika punya ketahanan yang baik dan mampu tumbuh optimal di dataran rendah Kaltim. Fakta ini membuat potensinya sangat terbuka untuk dikembangkan dalam skala besar.
"Semakin banyak petani kopi, apalagi generasi muda yang tertarik membudidayakan Liberika ini, tentu bisa berpotensi menjadi komoditas unggulan baru di Kaltim," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Seorang petani Kopi Liberika Kaltim yang memegang setumpuk biji kopi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kopi jenis Liberika asal Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini kerap dipandang sebelah mata, kalah pamor dari dominasi arabika dan robusta.
Namun, berkat kegigihan petani dan tangan dingin para barista, kopi beraroma unik dari Benua Etam ini akhirnya siap unjuk gigi di kancah nasional.
Panggung pembuktian itu adalah Indonesia Brewers Cup Regional (IBRC) 2026 yang bakal dihelat di Jakarta pada 9-12 Juli mendatang.
Di balik tiket menuju kompetisi bergengsi ini, ada kolaborasi ekstra keras yang terjalin dari hulu ke hilir demi mengangkat derajat kopi lokal.
Utari Citra Ihsani, barista dari Ethics Coffee yang mewakili Kaltim, mengakui perjalanan menuju IBRC tidaklah mudah. Waktu persiapan yang dimiliki timnya sangat terbatas.
“Persiapannya memang sangat mepet, hanya sekitar dua bulan. Tapi kami bersama tim akan berusaha semaksimal mungkin. Kami ingin membawa kopi Kaltim ke ranah yang berbeda, di tingkat yang berbeda,” ungkapnya.
Dalam waktu dua bulan, Uci harus berpacu dengan waktu. Ia berkoordinasi intensif dengan petani dan roastery guna memastikan biji Liberika yang diseduh nantinya memiliki kualitas maksimal saat berhadapan dengan juri dan pelaku industri kopi se-Nusantara.
Uci menegaskan, keikutsertaannya bukan semata untuk memburu trofi. Ada misi yang lebih besar dengan membuka mata pasar nasional terhadap potensi Liberika Kaltim, sekaligus memotivasi lebih banyak barista perempuan agar berani turun gunung di kompetisi bergengsi.
Kerja keras di meja seduh ini disambut optimisme dari para pelaku di kebun. Slamet Prayoga, salah seorang petani Kopi Liberika Kaltim, memandang ajang IBRC sebagai kunci untuk mendobrak pintu pasar yang selama ini sulit ditembus.
Bagi Yoga, tantangan terbesar petani Kaltim saat ini bukanlah mengalahkan kopi unggulan dari daerah lain, melainkan memastikan eksistensi Liberika Kaltim diakui secara luas.
“Intinya kita mengenalkan bahwa Kaltim juga punya kopi khasnya. Kalau petaninya cukup banyak, pasar yang akan datang. Jadi saya tidak melihat siapa lawannya, tapi bagaimana caranya mendapatkan pasar dari luar dan memperkenalkan kopi Liberika asal Kaltim,” tuturnya.
Sebagai senjata, Liberika Kaltim membawa profil cita rasa yang tidak biasa. Yoga menyebut kopi ini memiliki aroma buah nangka yang sangat kuat, sebuah karakter yang diyakini bisa menjadi daya tarik utama bagi penikmat kopi yang bosan dengan rasa arus utama.
Lebih jauh, tanaman Liberika punya ketahanan yang baik dan mampu tumbuh optimal di dataran rendah Kaltim. Fakta ini membuat potensinya sangat terbuka untuk dikembangkan dalam skala besar.
"Semakin banyak petani kopi, apalagi generasi muda yang tertarik membudidayakan Liberika ini, tentu bisa berpotensi menjadi komoditas unggulan baru di Kaltim," pungkasnya.
(Sf/Lo)