Seputar Kaltim
Kepala BPBD PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Hujan yang mengguyur Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam beberapa hari terakhir menekan aktivitas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski laporan kejadian menurun drastis, titik panas atau hotspot masih terdeteksi sehingga pemantauan lapangan tetap dilakukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, menegaskan hujan belum sepenuhnya menghilangkan potensi kebakaran. Petugas masih melakukan pemantauan dan pengecekan langsung ke lokasi untuk memastikan titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Turunnya hujan tidak berarti intensitas terjadinya karhutla hilang. Beberapa hari terakhir masih ditemukan hotspot, sehingga fungsi pemantauan dan pengecekan langsung ke lapangan harus dioptimalkan agar api tidak meluas," kata Nurlaila, Selasa (3/11/2026).
Dari sisi penanganan, beban operasional petugas mulai berkurang dibandingkan saat karhutla meningkat. Laporan kejadian yang masuk kini jauh lebih sedikit.
Penanganan kebakaran di wilayah tertentu juga dapat langsung dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) melalui pos terdekat.
Kendati aktivitas pemadaman menurun, BPBD tetap mempertahankan kesiapsiagaan hingga 31 Desember 2026, sesuai perpanjangan status siaga yang ditetapkan pemerintah daerah.
Perhatian penanganan bencana kini juga mencakup ancaman hidrometeorologi yang meningkat seiring perubahan cuaca.
Nurlaila menyebut hujan yang mulai turun turut disertai angin kencang. Bahkan, pada Minggu dini hari, sejumlah pohon tumbang dan beberapa rumah warga dilaporkan terdampak angin dengan intensitas cukup kuat.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah perlu mengantisipasi potensi kerusakan bangunan maupun gangguan keselamatan warga.
BPBD meminta pemerintah desa, kelurahan, dan pengurus RT mengidentifikasi titik rawan serta mendata rumah yang terdampak cuaca ekstrem.
"Kami berharap RT, kelurahan, dan desa mengidentifikasi wilayah masing-masing. Jika ditemukan rumah warga terdampak atau potensi bahaya, segera laporkan kepada BPBD dan Disperkimtan agar bisa ditangani bersama," ujarnya.
BPBD juga meminta kesiapan personel dan peralatan diperhatikan menjelang puncak musim hujan. Nurlaila menyebut curah hujan diperkirakan meningkat pada Desember dan berlanjut hingga Januari-Februari. Sementara itu, potensi El Nino diperkirakan masih berlanjut hingga 2027.
"Prediksi BMKG seperti itu. Harapannya pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder benar-benar mengoptimalkan kesiapsiagaan, baik dari sisi peralatan maupun personel. Penanganan harus disiapkan untuk menghadapi berbagai potensi bencana," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala BPBD PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Hujan yang mengguyur Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam beberapa hari terakhir menekan aktivitas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski laporan kejadian menurun drastis, titik panas atau hotspot masih terdeteksi sehingga pemantauan lapangan tetap dilakukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, menegaskan hujan belum sepenuhnya menghilangkan potensi kebakaran. Petugas masih melakukan pemantauan dan pengecekan langsung ke lokasi untuk memastikan titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Turunnya hujan tidak berarti intensitas terjadinya karhutla hilang. Beberapa hari terakhir masih ditemukan hotspot, sehingga fungsi pemantauan dan pengecekan langsung ke lapangan harus dioptimalkan agar api tidak meluas," kata Nurlaila, Selasa (3/11/2026).
Dari sisi penanganan, beban operasional petugas mulai berkurang dibandingkan saat karhutla meningkat. Laporan kejadian yang masuk kini jauh lebih sedikit.
Penanganan kebakaran di wilayah tertentu juga dapat langsung dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) melalui pos terdekat.
Kendati aktivitas pemadaman menurun, BPBD tetap mempertahankan kesiapsiagaan hingga 31 Desember 2026, sesuai perpanjangan status siaga yang ditetapkan pemerintah daerah.
Perhatian penanganan bencana kini juga mencakup ancaman hidrometeorologi yang meningkat seiring perubahan cuaca.
Nurlaila menyebut hujan yang mulai turun turut disertai angin kencang. Bahkan, pada Minggu dini hari, sejumlah pohon tumbang dan beberapa rumah warga dilaporkan terdampak angin dengan intensitas cukup kuat.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah perlu mengantisipasi potensi kerusakan bangunan maupun gangguan keselamatan warga.
BPBD meminta pemerintah desa, kelurahan, dan pengurus RT mengidentifikasi titik rawan serta mendata rumah yang terdampak cuaca ekstrem.
"Kami berharap RT, kelurahan, dan desa mengidentifikasi wilayah masing-masing. Jika ditemukan rumah warga terdampak atau potensi bahaya, segera laporkan kepada BPBD dan Disperkimtan agar bisa ditangani bersama," ujarnya.
BPBD juga meminta kesiapan personel dan peralatan diperhatikan menjelang puncak musim hujan. Nurlaila menyebut curah hujan diperkirakan meningkat pada Desember dan berlanjut hingga Januari-Februari. Sementara itu, potensi El Nino diperkirakan masih berlanjut hingga 2027.
"Prediksi BMKG seperti itu. Harapannya pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder benar-benar mengoptimalkan kesiapsiagaan, baik dari sisi peralatan maupun personel. Penanganan harus disiapkan untuk menghadapi berbagai potensi bencana," tutupnya.
(Sf/Rs)