Seputar Kaltim

    Hujan Balikpapan Dipicu Fenomena Atmosfer, BMKG Sebut Murni Alami

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    08 September 2026 pukul 11:36 WITA

    Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG, Huda Abshor Mukhsinin saat ditemui di kantornya. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kota Balikpapan pada 7 September 2026 dipastikan terjadi secara alami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, menyebut hujan tersebut dipengaruhi kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan di sekitar Kaltim.

    “Salah satu faktor yang memicu hujan adalah aktifnya gelombang Kelvin yang bergerak dari barat ke timur Indonesia,” ucap Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG, Huda Abshor Mukhsinin saat ditemui di kantornya, Selasa (8/9/2026).

    Menurut Huda, gelombang Kelvin merupakan fenomena atmosfer yang membawa kumpulan awan hujan aktif. Gelombang tersebut biasanya bergerak dalam waktu relatif singkat, sekitar dua hingga tujuh hari.

    “Kalau kami lihat pada 3 September hingga 9 September 2026, ada garis biru yang secara waktu ke waktu menjalar dari barat ke timur Indonesia. Garis biru ini merupakan tanda sinyal gelombang Kelvin,” jelasnya.

    Ketika gelombang Kelvin berada di sekitar Kaltim, kondisi atmosfer menjadi lebih mendukung terbentuknya awan hujan. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh adanya gelombang Rossby yang bergerak berlawanan arah, yakni dari timur ke barat.

    “Pertemuan kedua gelombang tersebut terjadi di sekitar perairan Selat Makassar. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut menjadi lebih masif,” terangnya.

    Pertumbuhan awan yang intens di kawasan perairan tersebut kemudian mendorong massa udara lembap menuju wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Kondisi inilah yang membuat awan hujan berkembang dan kemudian memasuki wilayah daratan.

    Ia menegaskan, hujan yang terjadi di Balikpapan bukan merupakan hujan buatan, melainkan murni terbentuk akibat proses atmosfer secara alami.

    “Ya, murni, bukan hujan buatan. Karena adanya gangguan lokal yang mendukung di sana, suhu permukaan lautnya yang hangat dan dangkal, ditambah dengan adanya gangguan secara global, yaitu gangguan gelombang Rossby dan Kelvin yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujarnya.

    Meski hujan terjadi di sejumlah wilayah Balikpapan, intensitasnya tidak merata. Dia menyebut ada kawasan yang hanya mengalami hujan ringan, sementara wilayah lainnya sempat diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat.

    Namun, hujan dengan intensitas tinggi tersebut berlangsung dalam durasi relatif singkat, sekitar 30 menit hingga satu jam. 

    “Karena itu, jika dihitung berdasarkan akumulasi curah hujan dalam satu hari, kondisi tersebut masih berada dalam kategori ringan hingga sedang,” ungkapnya.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan deras dalam waktu singkat tidak serta-merta membuat akumulasi curah hujan harian berada pada kategori tinggi.

    Sementara itu, kondisi atmosfer di Balikpapan masih berpotensi berubah dalam beberapa hari ke depan. Pada 7 hingga 10 September 2026, gelombang Rossby masih berpotensi aktif di wilayah tersebut.

    Namun, pengaruh gelombang tersebut diperkirakan masih akan ditekan oleh kondisi El Nino yang saat ini masih kuat. Pihaknya memperkirakan kondisi cuaca pada 10 hingga 14 September 2026 berpotensi menjadi lebih kering.

    “Ke depan untuk wilayah Balikpapan tanggal 7 hingga tanggal 10 September ini masih ada potensi gelombang Rossby akan aktif. Namun, memang tertekan oleh pengaruh yang lebih besar, yang kami bisa sebut El Nino,” katanya.

    Secara klimatologis, September juga masih termasuk periode puncak musim kemarau di Balikpapan. Musim kemarau berlangsung pada Juli, Agustus, hingga September, sebelum memasuki masa peralihan sekitar Oktober dan November.

    Menurutnya, Balikpapan diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November. Namun, kondisi tersebut tetap dipengaruhi oleh keberadaan El Nino yang dapat menyebabkan akumulasi curah hujan berada di bawah kondisi normal.

    “BMKG memperkirakan El Nino masih dapat bertahan hingga Februari 2027, meskipun intensitasnya diprediksi berangsur menurun dari kategori sangat kuat menjadi kuat hingga moderat,” sebutnya.

    Saat ini, indeks El Nino masih berada pada kategori sangat kuat, meskipun menunjukkan tren penurunan. Huda menyebut indeks yang sebelumnya berada di angka 2,9 kini telah turun menjadi sekitar 2,7.

    Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG, karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat.

    “Kami lihat ke depannya. Soalnya memang dinamika atmosfer ini cepat berubah sebenarnya. Harus ada update berkala,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Hujan Balikpapan Dipicu Fenomena Atmosfer, BMKG Sebut Murni Alami

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    08 September 2026 pukul 11:36 WITA

    Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG, Huda Abshor Mukhsinin saat ditemui di kantornya. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kota Balikpapan pada 7 September 2026 dipastikan terjadi secara alami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, menyebut hujan tersebut dipengaruhi kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan di sekitar Kaltim.

    “Salah satu faktor yang memicu hujan adalah aktifnya gelombang Kelvin yang bergerak dari barat ke timur Indonesia,” ucap Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG, Huda Abshor Mukhsinin saat ditemui di kantornya, Selasa (8/9/2026).

    Menurut Huda, gelombang Kelvin merupakan fenomena atmosfer yang membawa kumpulan awan hujan aktif. Gelombang tersebut biasanya bergerak dalam waktu relatif singkat, sekitar dua hingga tujuh hari.

    “Kalau kami lihat pada 3 September hingga 9 September 2026, ada garis biru yang secara waktu ke waktu menjalar dari barat ke timur Indonesia. Garis biru ini merupakan tanda sinyal gelombang Kelvin,” jelasnya.

    Ketika gelombang Kelvin berada di sekitar Kaltim, kondisi atmosfer menjadi lebih mendukung terbentuknya awan hujan. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh adanya gelombang Rossby yang bergerak berlawanan arah, yakni dari timur ke barat.

    “Pertemuan kedua gelombang tersebut terjadi di sekitar perairan Selat Makassar. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut menjadi lebih masif,” terangnya.

    Pertumbuhan awan yang intens di kawasan perairan tersebut kemudian mendorong massa udara lembap menuju wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Kondisi inilah yang membuat awan hujan berkembang dan kemudian memasuki wilayah daratan.

    Ia menegaskan, hujan yang terjadi di Balikpapan bukan merupakan hujan buatan, melainkan murni terbentuk akibat proses atmosfer secara alami.

    “Ya, murni, bukan hujan buatan. Karena adanya gangguan lokal yang mendukung di sana, suhu permukaan lautnya yang hangat dan dangkal, ditambah dengan adanya gangguan secara global, yaitu gangguan gelombang Rossby dan Kelvin yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujarnya.

    Meski hujan terjadi di sejumlah wilayah Balikpapan, intensitasnya tidak merata. Dia menyebut ada kawasan yang hanya mengalami hujan ringan, sementara wilayah lainnya sempat diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat.

    Namun, hujan dengan intensitas tinggi tersebut berlangsung dalam durasi relatif singkat, sekitar 30 menit hingga satu jam. 

    “Karena itu, jika dihitung berdasarkan akumulasi curah hujan dalam satu hari, kondisi tersebut masih berada dalam kategori ringan hingga sedang,” ungkapnya.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan deras dalam waktu singkat tidak serta-merta membuat akumulasi curah hujan harian berada pada kategori tinggi.

    Sementara itu, kondisi atmosfer di Balikpapan masih berpotensi berubah dalam beberapa hari ke depan. Pada 7 hingga 10 September 2026, gelombang Rossby masih berpotensi aktif di wilayah tersebut.

    Namun, pengaruh gelombang tersebut diperkirakan masih akan ditekan oleh kondisi El Nino yang saat ini masih kuat. Pihaknya memperkirakan kondisi cuaca pada 10 hingga 14 September 2026 berpotensi menjadi lebih kering.

    “Ke depan untuk wilayah Balikpapan tanggal 7 hingga tanggal 10 September ini masih ada potensi gelombang Rossby akan aktif. Namun, memang tertekan oleh pengaruh yang lebih besar, yang kami bisa sebut El Nino,” katanya.

    Secara klimatologis, September juga masih termasuk periode puncak musim kemarau di Balikpapan. Musim kemarau berlangsung pada Juli, Agustus, hingga September, sebelum memasuki masa peralihan sekitar Oktober dan November.

    Menurutnya, Balikpapan diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November. Namun, kondisi tersebut tetap dipengaruhi oleh keberadaan El Nino yang dapat menyebabkan akumulasi curah hujan berada di bawah kondisi normal.

    “BMKG memperkirakan El Nino masih dapat bertahan hingga Februari 2027, meskipun intensitasnya diprediksi berangsur menurun dari kategori sangat kuat menjadi kuat hingga moderat,” sebutnya.

    Saat ini, indeks El Nino masih berada pada kategori sangat kuat, meskipun menunjukkan tren penurunan. Huda menyebut indeks yang sebelumnya berada di angka 2,9 kini telah turun menjadi sekitar 2,7.

    Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG, karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat.

    “Kami lihat ke depannya. Soalnya memang dinamika atmosfer ini cepat berubah sebenarnya. Harus ada update berkala,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)