Cari disini...
Seputar Kaltim
Forum Konsultasi Publik Dinas Kesehatan Kota Bontang terkait penanggulangan TBC. (Foto: Prokompim Bontang)
Bontang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang telah menemukan dan menangani 441 kasus Tuberkulosis (TBC) hingga Agustus 2026. Angka tersebut berasal dari estimasi 1.132 kasus TBC yang ada di Kota Bontang.
Sekretaris Dinkes Kota Bontang, Cahyo Hadi Wicaksono, mengatakan penemuan kasus tersebut dilakukan melalui berbagai upaya pemeriksaan dan screening TBC yang digencarkan di masyarakat.
Hingga saat ini, layanan pemeriksaan kesehatan gratis melalui program screening TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah dilaksanakan di 35 titik lokus pelayanan masyarakat.
“Program ini ditargetkan menjangkau 73 titik yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Bontang. Setiap titik ditargetkan dapat mengakomodasi sekitar 100 kunjungan warga,” ucap Cahyo Hadi Wicaksono.
Pelaksanaan layanan akan terus dilakukan hingga November 2026. Pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan tersebut sebagai upaya mendeteksi TBC sedini mungkin.
Selain menemukan kasus baru, upaya screening juga menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memutus rantai penularan TBC di masyarakat.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Bontang, Akhmad Suharto, mengatakan pemerintah tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami sakit.
“Semakin cepat TBC ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan,” ujar Akhmad saat membuka Forum Konsultasi Publik Dinkes Kota Bontang bertema “Peningkatan Pelayanan Publik dalam Penanggulangan Tuberkulosis”, Kamis (17/9/2026).
Forum tersebut digelar di Auditorium 3 Dimensi, Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru. Kegiatan menjadi wadah untuk menghimpun masukan masyarakat terkait evaluasi pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanggulangan TBC.
Akhmad menegaskan, penanggulangan TBC tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dengan kualitas pelayanan publik dan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak takut atau malu menjalani pemeriksaan maupun pengobatan TBC. Dukungan terhadap pasien selama menjalani pengobatan juga diperlukan hingga dinyatakan sembuh.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Forum Konsultasi Publik Dinas Kesehatan Kota Bontang terkait penanggulangan TBC. (Foto: Prokompim Bontang)
Bontang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang telah menemukan dan menangani 441 kasus Tuberkulosis (TBC) hingga Agustus 2026. Angka tersebut berasal dari estimasi 1.132 kasus TBC yang ada di Kota Bontang.
Sekretaris Dinkes Kota Bontang, Cahyo Hadi Wicaksono, mengatakan penemuan kasus tersebut dilakukan melalui berbagai upaya pemeriksaan dan screening TBC yang digencarkan di masyarakat.
Hingga saat ini, layanan pemeriksaan kesehatan gratis melalui program screening TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah dilaksanakan di 35 titik lokus pelayanan masyarakat.
“Program ini ditargetkan menjangkau 73 titik yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Bontang. Setiap titik ditargetkan dapat mengakomodasi sekitar 100 kunjungan warga,” ucap Cahyo Hadi Wicaksono.
Pelaksanaan layanan akan terus dilakukan hingga November 2026. Pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan tersebut sebagai upaya mendeteksi TBC sedini mungkin.
Selain menemukan kasus baru, upaya screening juga menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memutus rantai penularan TBC di masyarakat.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Bontang, Akhmad Suharto, mengatakan pemerintah tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami sakit.
“Semakin cepat TBC ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan,” ujar Akhmad saat membuka Forum Konsultasi Publik Dinkes Kota Bontang bertema “Peningkatan Pelayanan Publik dalam Penanggulangan Tuberkulosis”, Kamis (17/9/2026).
Forum tersebut digelar di Auditorium 3 Dimensi, Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru. Kegiatan menjadi wadah untuk menghimpun masukan masyarakat terkait evaluasi pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanggulangan TBC.
Akhmad menegaskan, penanggulangan TBC tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dengan kualitas pelayanan publik dan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak takut atau malu menjalani pemeriksaan maupun pengobatan TBC. Dukungan terhadap pasien selama menjalani pengobatan juga diperlukan hingga dinyatakan sembuh.
(Sf/Rs)