Seputar Kaltim

    Hilangnya Ubur-Ubur di Kakaban Jadi Pelajaran Berharga untuk Pariwisata Berkelanjutan Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    14 Desember 2024 pukul 12:22 WITA

    Kepala Dinas Pariwisata, Ririn Sari Dewi dalam bincang santai pariwisata. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Fenomena hilangnya ubur-ubur di Danau Kakaban, Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi alarm bagi sektor pariwisata daerah di Benua Etam.

    Sebab, pulau yang dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya, khususnya karena keberadaan ubur-ubur tidak menyengat kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi dalam acara Bincang-bincang Pariwisata di Samarinda mengatakan kejadian ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata.

    "Kaltim memiliki potensi wisata yang sangat besar, namun kita harus bijak dalam mengelola agar tidak merusak lingkungan. Kasus Kakaban menjadi contoh nyata bahwa pariwisata yang tidak berkelanjutan akan berdampak buruk bagi ekosistem," tegas Ririn.

    Sejalan dengan arahan pemerintah pusat, Kaltim tengah berupaya untuk menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan pada tahun 2025.

    Ririn mengungkapkan kini Kaltim memiliki sekitar 600 destinasi wisata baru yang terus dikembangkan. "Ekowisata dan budaya lokal menjadi daya tarik utama yang kita tawarkan. Tapi, kita juga harus memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam pengembangan pariwisata," ujarnya.

    Meski memiliki potensi besar, pengembangan pariwisata di Kaltim masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti infrastruktur yang belum memadai, keterbatasan anggaran dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

    "Kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Kejadian hilangnya ubur-ubur di Kakaban, yang diduga akibat penggunaan tabir surya oleh wisatawan, harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua," pungkas Ririn.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Hilangnya Ubur-Ubur di Kakaban Jadi Pelajaran Berharga untuk Pariwisata Berkelanjutan Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    14 Desember 2024 pukul 12:22 WITA

    Kepala Dinas Pariwisata, Ririn Sari Dewi dalam bincang santai pariwisata. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Fenomena hilangnya ubur-ubur di Danau Kakaban, Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi alarm bagi sektor pariwisata daerah di Benua Etam.

    Sebab, pulau yang dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya, khususnya karena keberadaan ubur-ubur tidak menyengat kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi dalam acara Bincang-bincang Pariwisata di Samarinda mengatakan kejadian ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata.

    "Kaltim memiliki potensi wisata yang sangat besar, namun kita harus bijak dalam mengelola agar tidak merusak lingkungan. Kasus Kakaban menjadi contoh nyata bahwa pariwisata yang tidak berkelanjutan akan berdampak buruk bagi ekosistem," tegas Ririn.

    Sejalan dengan arahan pemerintah pusat, Kaltim tengah berupaya untuk menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan pada tahun 2025.

    Ririn mengungkapkan kini Kaltim memiliki sekitar 600 destinasi wisata baru yang terus dikembangkan. "Ekowisata dan budaya lokal menjadi daya tarik utama yang kita tawarkan. Tapi, kita juga harus memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam pengembangan pariwisata," ujarnya.

    Meski memiliki potensi besar, pengembangan pariwisata di Kaltim masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti infrastruktur yang belum memadai, keterbatasan anggaran dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

    "Kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Kejadian hilangnya ubur-ubur di Kakaban, yang diduga akibat penggunaan tabir surya oleh wisatawan, harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua," pungkas Ririn.

    (Sf/By)