Hilal Tak Tampak di Balikpapan

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Seputar Kaltim

    19 Maret 2026 11:27 WIB

    Pemerintah Kota Balikpapan lakukan pemantauan hilal 1 Syawal di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center (BIC). (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, Masrivani menyampaikan, berdasarkan hasil perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di bawah kriteria yang telah ditetapkan pemerintah.

    Ia menjelaskan, Kemenag melalui tim hisab telah melakukan penghitungan ketinggian hilal di seluruh Indonesia. Hasilnya menunjukkan rata-rata ketinggian hilal masih di bawah kriteria MABIMS, yaitu minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

    “Di sebagian besar wilayah Indonesia, ketinggian hilal masih sekitar 2 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria yang ditetapkan,” ucap Masrivani kepada awak media, Kamis (19/3/2026).

    Meski demikian, terdapat wilayah yang hampir memenuhi syarat, seperti di Banda Aceh. Di daerah tersebut, ketinggian hilal dilaporkan telah mencapai 3 derajat, namun elongasinya masih berada di angka 6,1 derajat, atau belum memenuhi ketentuan minimal 6,4 derajat.

    “Berdasarkan data hisab tersebut, secara perhitungan awal, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh, Sabtu (21/3/2026),” terangnya.

    Namun, Masrivani menegaskan bahwa penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah. Sidang tersebut akan mempertimbangkan hasil rukyatul hilal (pengamatan langsung) di berbagai titik, terutama di wilayah yang berpotensi terlihatnya hilal seperti Aceh.

    “Kami masih menunggu laporan hasil rukyat. Tidak hanya soal ada yang melihat hilal, tetapi juga apakah kesaksiannya dapat diterima secara hukum oleh negara atau pengadilan,” jelasnya.

    Dia menambahkan, hasil pengamatan di lapangan akan dibahas dalam sidang isbat untuk menentukan secara resmi awal Syawal.

    Masrivani juga tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat adanya perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah.

    “Perbedaan itu hal yang biasa. Dalam syariat, penentuan bisa 29 atau 30 hari, tergantung metode yang digunakan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Hilal Tak Tampak di Balikpapan

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Seputar Kaltim

    19 Maret 2026 11:27 WIB

    Pemerintah Kota Balikpapan lakukan pemantauan hilal 1 Syawal di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center (BIC). (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, Masrivani menyampaikan, berdasarkan hasil perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di bawah kriteria yang telah ditetapkan pemerintah.

    Ia menjelaskan, Kemenag melalui tim hisab telah melakukan penghitungan ketinggian hilal di seluruh Indonesia. Hasilnya menunjukkan rata-rata ketinggian hilal masih di bawah kriteria MABIMS, yaitu minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

    “Di sebagian besar wilayah Indonesia, ketinggian hilal masih sekitar 2 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria yang ditetapkan,” ucap Masrivani kepada awak media, Kamis (19/3/2026).

    Meski demikian, terdapat wilayah yang hampir memenuhi syarat, seperti di Banda Aceh. Di daerah tersebut, ketinggian hilal dilaporkan telah mencapai 3 derajat, namun elongasinya masih berada di angka 6,1 derajat, atau belum memenuhi ketentuan minimal 6,4 derajat.

    “Berdasarkan data hisab tersebut, secara perhitungan awal, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh, Sabtu (21/3/2026),” terangnya.

    Namun, Masrivani menegaskan bahwa penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah. Sidang tersebut akan mempertimbangkan hasil rukyatul hilal (pengamatan langsung) di berbagai titik, terutama di wilayah yang berpotensi terlihatnya hilal seperti Aceh.

    “Kami masih menunggu laporan hasil rukyat. Tidak hanya soal ada yang melihat hilal, tetapi juga apakah kesaksiannya dapat diterima secara hukum oleh negara atau pengadilan,” jelasnya.

    Dia menambahkan, hasil pengamatan di lapangan akan dibahas dalam sidang isbat untuk menentukan secara resmi awal Syawal.

    Masrivani juga tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat adanya perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah.

    “Perbedaan itu hal yang biasa. Dalam syariat, penentuan bisa 29 atau 30 hari, tergantung metode yang digunakan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)