Cari disini...
Seputar Kaltim
Salah satu hidran kering yang dibangun pemerintah daerah di Jalan Maduningrat (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) berencana membangun pipanisasi untuk mengoperasikan hidran kering di 30 titik kampung kumuh.
Keberadaan pipanisasi dinilai sangat penting karena berfungsi sebagai jalur distribusi air, sehingga hidran kering dapat digunakan secara maksimal.
“Total ada 30 titik kampung kumuh, titik ya bukan per desa maupun kelurahan. Artinya di satu desa mungkin saja punya satu atau dua kampung kumuh,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Kukar, Rendi Solihin, Jumat (9/1/2026).
Pembangunan pipanisasi sebagai penyuplai kebutuhan air untuk hidran kering di kampung kumuh membutuhkan dana yang cukup besar.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah hanya mampu melaksanakan pembangunan pipanisasi secara bertahap pada 2026.
“Kita sudah punya empat mesinnya, cuma pipanisasinya yang mahal. Jadi kita usahakan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap pada tahun ini,” terang Rendi.
Ia memaparkan penetapan kampung kumuh dilakukan setiap tahun dengan melihat berbagai indikator penilaian, mulai dari sanitasi, kepadatan penduduk hingga tidak ada akses masuk bagi armada kebakaran.
“Kampung kumuh itu tempatnya padat penduduk dan mobil tidak bisa masuk ke dalam gang karena sempit, sehingga kehadiran hidran kering penting untuk penanganan kebakaran di wilayah seperti itu, tapi membutuhkan pipanisasi,” ungkap Rendi.
Melalui upaya ini, insiden kebakaran di kawasan padat penduduk di Kukar dapat ditangani lebih cepat.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Salah satu hidran kering yang dibangun pemerintah daerah di Jalan Maduningrat (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) berencana membangun pipanisasi untuk mengoperasikan hidran kering di 30 titik kampung kumuh.
Keberadaan pipanisasi dinilai sangat penting karena berfungsi sebagai jalur distribusi air, sehingga hidran kering dapat digunakan secara maksimal.
“Total ada 30 titik kampung kumuh, titik ya bukan per desa maupun kelurahan. Artinya di satu desa mungkin saja punya satu atau dua kampung kumuh,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Kukar, Rendi Solihin, Jumat (9/1/2026).
Pembangunan pipanisasi sebagai penyuplai kebutuhan air untuk hidran kering di kampung kumuh membutuhkan dana yang cukup besar.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah hanya mampu melaksanakan pembangunan pipanisasi secara bertahap pada 2026.
“Kita sudah punya empat mesinnya, cuma pipanisasinya yang mahal. Jadi kita usahakan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap pada tahun ini,” terang Rendi.
Ia memaparkan penetapan kampung kumuh dilakukan setiap tahun dengan melihat berbagai indikator penilaian, mulai dari sanitasi, kepadatan penduduk hingga tidak ada akses masuk bagi armada kebakaran.
“Kampung kumuh itu tempatnya padat penduduk dan mobil tidak bisa masuk ke dalam gang karena sempit, sehingga kehadiran hidran kering penting untuk penanganan kebakaran di wilayah seperti itu, tapi membutuhkan pipanisasi,” ungkap Rendi.
Melalui upaya ini, insiden kebakaran di kawasan padat penduduk di Kukar dapat ditangani lebih cepat.
(Sf/Lo)