Cari disini...
Seputar Kaltim
Anggota Komisi B DPRD Bontang, Winardi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Bontang, Winardi meminta seluruh pihak tidak langsung menyudutkan PT Energi Unggul Persada (EUP) terkait matinya ikan di laut Bontang, hingga Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurutnya, kesimpulan terkait penyebab dan pihak yang harus bertanggung jawab terkait masalah tersebut harus menunggu hasil uji sampling yang tengah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang.
“Kita harus hati-hati, jangan sampai menyimpulkan berdasarkan spekulasi semata,” ujarnya saat RDP.
Walaupun video yang ramai beredar di media sosial mengarahkan pada pencemaran limbah PT EUP yang menyebabkan kematian ikan di laut. Dalam video itu memperlihatkan ratusan ikan mati dan gumpalan minyak berwarna oranye di perairan Bontang dan Kukar
Akan tetapi, ia ingin semua pihak tidak tutup mata terhadap kemungkinan lain, yang mungkin saja menjadi penyebab terjadi masalah tersebut.“Maka dari itu, saya harap PT EUP jangan takut, terkait tudingan yang beredar. Ia meminta perusahaan berani unjuk data jika pengelolaan limbah telah sesuai prosedur,” lanjutnya.
Terkait pengambilan sampel uji lab, ia meminta DLH tidak hanya mengambil pada air saja, tapi juga pada lumpur di perairan yang diduga telah teracuni limbah, guna memperkuat hasil uji sampling yang dilakukan.
Selain itu, pengecekan yang dilakukan seharusnya tidak hanya berdasarkan Ph saja. Tetapi berfokus pada pembuktian apakah air laut tersebut benar-benar mengandung zat beracun.
Pasalnya, berdasarkan uji sampling internal yang dilakukan oleh DLH Bontang hanya menampilkan hasil Ph dan suhu air saja dan baginya hal tersebut tidak bisa dijadikan tolak ukur apakah matinya ikan di laut disebabkan pencemaran limbah beracun.
“Tapi kami anggap ini belum final, karena masih menunggu hasil uji sampling di Samarinda, jadi kita tunggu saja hasilnya,” pungkas Winardi.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Anggota Komisi B DPRD Bontang, Winardi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Bontang, Winardi meminta seluruh pihak tidak langsung menyudutkan PT Energi Unggul Persada (EUP) terkait matinya ikan di laut Bontang, hingga Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurutnya, kesimpulan terkait penyebab dan pihak yang harus bertanggung jawab terkait masalah tersebut harus menunggu hasil uji sampling yang tengah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang.
“Kita harus hati-hati, jangan sampai menyimpulkan berdasarkan spekulasi semata,” ujarnya saat RDP.
Walaupun video yang ramai beredar di media sosial mengarahkan pada pencemaran limbah PT EUP yang menyebabkan kematian ikan di laut. Dalam video itu memperlihatkan ratusan ikan mati dan gumpalan minyak berwarna oranye di perairan Bontang dan Kukar
Akan tetapi, ia ingin semua pihak tidak tutup mata terhadap kemungkinan lain, yang mungkin saja menjadi penyebab terjadi masalah tersebut.“Maka dari itu, saya harap PT EUP jangan takut, terkait tudingan yang beredar. Ia meminta perusahaan berani unjuk data jika pengelolaan limbah telah sesuai prosedur,” lanjutnya.
Terkait pengambilan sampel uji lab, ia meminta DLH tidak hanya mengambil pada air saja, tapi juga pada lumpur di perairan yang diduga telah teracuni limbah, guna memperkuat hasil uji sampling yang dilakukan.
Selain itu, pengecekan yang dilakukan seharusnya tidak hanya berdasarkan Ph saja. Tetapi berfokus pada pembuktian apakah air laut tersebut benar-benar mengandung zat beracun.
Pasalnya, berdasarkan uji sampling internal yang dilakukan oleh DLH Bontang hanya menampilkan hasil Ph dan suhu air saja dan baginya hal tersebut tidak bisa dijadikan tolak ukur apakah matinya ikan di laut disebabkan pencemaran limbah beracun.
“Tapi kami anggap ini belum final, karena masih menunggu hasil uji sampling di Samarinda, jadi kita tunggu saja hasilnya,” pungkas Winardi.
(Sf/By)