Cari disini...
Seputar Kaltim
Rapat Pemaparan Hasil Survey Kesehatan Mental Remaja Kota Bontang. (Foto: Imam/Prokompim Bontang)
Bontang - Kondisi kesehatan mental remaja di Kota Bontang memasuki fase mengkhawatirkan. Hasil survei Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) 2025 menunjukkan hampir setengah remaja mengalami gangguan psikologis.
Dari total 1.621 remaja usia 10–24 tahun yang disurvei, sebanyak 46,9 persen dilaporkan mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih. Sementara 20,2 persen lainnya menghadapi berbagai keluhan mental lain yang juga tidak kalah serius.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menilai data tersebut sebagai alarm keras bagi semua pihak. Ia menegaskan persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele.
“Ini adalah sinyal kuat bahwa kita harus bergerak cepat dan bersama-sama menangani persoalan kesehatan mental remaja,” ujar Neni.
Berdasarkan hasil survei, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu kondisi tersebut. Di antaranya adalah hubungan keluarga yang kurang harmonis, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta kuatnya pengaruh media sosial terhadap kehidupan remaja.
Menurut Neni, keluarga memiliki peran paling fundamental dalam membentuk kondisi mental anak. Kurangnya perhatian dan komunikasi yang sehat dapat membuat remaja merasa tertekan dan tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Selain itu, paparan media sosial yang tidak terkontrol juga dinilai memperparah kondisi psikologis remaja, mulai dari tekanan sosial hingga perbandingan diri yang tidak sehat.
Pemkot Bontang pun mendorong langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini, mulai dari penguatan edukasi kesehatan mental dan reproduksi, hingga peningkatan peran sekolah dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa.
Guru diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan mental dan mampu memberikan pendampingan yang tepat sejak dini.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Orang tua, sekolah dan masyarakat harus hadir untuk anak-anak kita,” tegasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rapat Pemaparan Hasil Survey Kesehatan Mental Remaja Kota Bontang. (Foto: Imam/Prokompim Bontang)
Bontang - Kondisi kesehatan mental remaja di Kota Bontang memasuki fase mengkhawatirkan. Hasil survei Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) 2025 menunjukkan hampir setengah remaja mengalami gangguan psikologis.
Dari total 1.621 remaja usia 10–24 tahun yang disurvei, sebanyak 46,9 persen dilaporkan mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih. Sementara 20,2 persen lainnya menghadapi berbagai keluhan mental lain yang juga tidak kalah serius.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menilai data tersebut sebagai alarm keras bagi semua pihak. Ia menegaskan persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele.
“Ini adalah sinyal kuat bahwa kita harus bergerak cepat dan bersama-sama menangani persoalan kesehatan mental remaja,” ujar Neni.
Berdasarkan hasil survei, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu kondisi tersebut. Di antaranya adalah hubungan keluarga yang kurang harmonis, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta kuatnya pengaruh media sosial terhadap kehidupan remaja.
Menurut Neni, keluarga memiliki peran paling fundamental dalam membentuk kondisi mental anak. Kurangnya perhatian dan komunikasi yang sehat dapat membuat remaja merasa tertekan dan tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Selain itu, paparan media sosial yang tidak terkontrol juga dinilai memperparah kondisi psikologis remaja, mulai dari tekanan sosial hingga perbandingan diri yang tidak sehat.
Pemkot Bontang pun mendorong langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini, mulai dari penguatan edukasi kesehatan mental dan reproduksi, hingga peningkatan peran sekolah dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa.
Guru diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan mental dan mampu memberikan pendampingan yang tepat sejak dini.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Orang tua, sekolah dan masyarakat harus hadir untuk anak-anak kita,” tegasnya.
(Sf/Lo)