Harus Tunggu Giliran, Nelayan PPU Keluhkan Solar Subsidi Cepat Habis

    Seputarfakta.com - Cindy -

    Seputar Kaltim

    06 Mei 2026 05:29 WIB

    Nelayan di pesisir Saloloang tampak membersihkan kapal usai digunakan melaut. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Keterbatasan solar turut dirasakan di tingkat nelayan. Di pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Fajri (24), warga Saloloang harus berbagi kuota dengan ratusan nelayan lain untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi.

    Sudah lima tahun melaut dan tergabung dalam Kelompok Nelayan Bunga Pesisir, Fajri menyebut solar subsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat pesisir. Namun di lapangan, pasokan kerap tidak bertahan lama.

    "Solar sulit. Ada tapi sebentar habis karena banyak yang pakai," kata Fajri, Selasa (5/5/2026).

    Dalam sehari, stok yang tersedia bisa langsung habis, sehingga nelayan harus menunggu giliran untuk kembali membeli. Sistem distribusi dilakukan menggunakan barcode bagi nelayan yang memiliki perahu dan telah terdata.

    "Jatahnya sekali beli 35 liter, cukup 3-4 hari," ujarnya.

    Artinya, jatah tersebut harus mencukupi kebutuhan banyak nelayan sekaligus. Fajri menyebut, ada ratusan nelayan yang bergantung pada pasokan solar yang sama.

    "Kalau tanpa subsidi ada, tapi harganya Rp15 ribu, bukan Rp8 ribu," tambahnya.

    Di sisi lain, hasil tangkapan nelayan juga tidak selalu menentu. Dalam sekali melaut, Fajri biasanya menangkap teri, tembang dan cumi. Ia berangkat pada sore hari dan kembali ke darat pada pagi hari.

    Hasil tangkapan tersebut umumnya langsung dijual ke tengkulak atau warga sekitar. Ikan teri dihargai sekitar Rp20 ribu per kilogram, tembang Rp15 ribu per kilogram dan cumi Rp60 ribu per kilogram. Sementara jika dijual per ember, teri dihargai sekitar Rp150 ribu dan tembang Rp70 ribu.

    "Berangkat sore pulang pagi, pagi-pagi itu tengkulak ambil," katanya. 

    Aktivitas melaut yang tidak setiap hari, ditambah faktor cuaca, membuat pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. Terlebih saat ini nelayan mulai memasuki musim gelombang tinggi.

    "Sekarang masuk bulan Selatan, puncaknya gelombang di Juni-Juli. Nelayan tidak berani ke tengah, paling di pinggir saja," tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Harus Tunggu Giliran, Nelayan PPU Keluhkan Solar Subsidi Cepat Habis

    Seputarfakta.com - Cindy -

    Seputar Kaltim

    06 Mei 2026 05:29 WIB

    Nelayan di pesisir Saloloang tampak membersihkan kapal usai digunakan melaut. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Keterbatasan solar turut dirasakan di tingkat nelayan. Di pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Fajri (24), warga Saloloang harus berbagi kuota dengan ratusan nelayan lain untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi.

    Sudah lima tahun melaut dan tergabung dalam Kelompok Nelayan Bunga Pesisir, Fajri menyebut solar subsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat pesisir. Namun di lapangan, pasokan kerap tidak bertahan lama.

    "Solar sulit. Ada tapi sebentar habis karena banyak yang pakai," kata Fajri, Selasa (5/5/2026).

    Dalam sehari, stok yang tersedia bisa langsung habis, sehingga nelayan harus menunggu giliran untuk kembali membeli. Sistem distribusi dilakukan menggunakan barcode bagi nelayan yang memiliki perahu dan telah terdata.

    "Jatahnya sekali beli 35 liter, cukup 3-4 hari," ujarnya.

    Artinya, jatah tersebut harus mencukupi kebutuhan banyak nelayan sekaligus. Fajri menyebut, ada ratusan nelayan yang bergantung pada pasokan solar yang sama.

    "Kalau tanpa subsidi ada, tapi harganya Rp15 ribu, bukan Rp8 ribu," tambahnya.

    Di sisi lain, hasil tangkapan nelayan juga tidak selalu menentu. Dalam sekali melaut, Fajri biasanya menangkap teri, tembang dan cumi. Ia berangkat pada sore hari dan kembali ke darat pada pagi hari.

    Hasil tangkapan tersebut umumnya langsung dijual ke tengkulak atau warga sekitar. Ikan teri dihargai sekitar Rp20 ribu per kilogram, tembang Rp15 ribu per kilogram dan cumi Rp60 ribu per kilogram. Sementara jika dijual per ember, teri dihargai sekitar Rp150 ribu dan tembang Rp70 ribu.

    "Berangkat sore pulang pagi, pagi-pagi itu tengkulak ambil," katanya. 

    Aktivitas melaut yang tidak setiap hari, ditambah faktor cuaca, membuat pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. Terlebih saat ini nelayan mulai memasuki musim gelombang tinggi.

    "Sekarang masuk bulan Selatan, puncaknya gelombang di Juni-Juli. Nelayan tidak berani ke tengah, paling di pinggir saja," tutupnya.

    (Sf/Lo)