Cari disini...
Seputarfakta.com - Firzatullah Akbar -
Seputar Kaltim
SDN 018 Samarinda Ulu. (Firza/Seputarfakta.com)
Samarinda - Salah satu Orang tua murid dari sebuah Sekolah Dasar (SD) negeri di Kota Samarinda, mengeluh karena harus membayar sejumlah buku dengan harga mencapai Rp903 ribu.
Angka itu, disebut terlampau mahal untuk beberapa buku lembar kerja siswa (LKS).
Orang tua murid yang enggan namanya disebut itu, mengunggah keluhannya di sosial media, dan ditanggapi ratusan akun. Sejumlah komentar menyatakan setuju, bahwa nilai yang diminta pihak sekolah terlalu mahal.
Selain itu, orang tua murid ini juga mengeluhkan buku yang digunakan selalu berbeda-beda setiap tahunnya.
"Total biaya dari buku paket sampe LKS sekitar Rp903 ribu untuk satu anak, dan beda kelas, beda buku, beda harga juga," ucap orang tua murid tersebu, saat dikonfirmasi Seputar Fakta, Kamis (11/7/2024) siang.
Yang membuat ia merasa lebih keberatan, kata sumber tersebut, pihak sekolah terkesan tanpa kompromi dan langsung memberitahukan harga buku, tanpa melibatkan orang tua murid terlebih dahulu untuk membahas. Bahkan, lanjutnya tak orang tua murid juga tak diberi tahu, penerbit buku yang akan dibeli tersebut.
"Untuk anak saya saja dari kelas 2 begitu naik kelas 3 dan kelas 4, buku yang dibeli tidak bisa digunakan untuk adik kelas karena akan berbeda lagi jenis buku yang digunakan,"ucapnya.
Ia menambahkan, sejatinya tak hanya ia sendiri yang mengeluh terkait hal ini. Terutama, terkait dengan jenis buku yang setiap tahun ajaran selalu berubah secara pengemasan, padahal isinya dinilai masih sama.
"Kebetulan waktu anak saya kelas 2 dia pakai mozaik juga dan ketika dia naik kelas 3 adik kelasnya menggunakan buku dengan merek lain," tukasnya.
Saat ditanyakan terkait buku yang selalu berganti-ganti, pihak sekolah kata sumber ini menjelaskan, bahwa mereka mengikuti perkembangan zaman dan kurikulum yang berlaku.
Bukan tinggal diam, sumber Seputar Fakta ini juga mengaku telah melakukan beberapa upaya. Salah satunya dengan berinisiatif mencari dan mengumpulkan buku-buku bekas dari sekolah lain untuk digunakan kembali.
"Akhirnya teman-teman (orang tua murid) banyak yang tidak beli disekolah kan, diusut ternyata dari saya tidak lama dari itu tiba-tiba saya sudah dikeluarkan dari grup (WhatsApp) paguyuban (orang tua murid) tidak tahu siapa yang mengeluarkan dan alasannya kenapa. Apa karena saya bagi info buku gratis makanya saya di keluarkan dari grup," bebernya.
Murid yang menggunakan buku yang tak dibeli dari sekolah, juga disebut mendapat perlakuan berbeda. Seperti ketika bertanya di kelas dibiarkan tidak dijawab.
"Iya ada perlakukan yang berbeda, kata anak saya saat dia bertanya hanya didiamkan saja tidak ditanggapi. Saya juga kurang tahu benar tidaknya tapi yang dikatakan anak saya seperti itu,"imbuhnya.
Terkait hal ini, awak redaksi Seputar Fakta, sudah mendatangi sekolah yang dimaksud. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah yang bisa dikutip.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Firzatullah Akbar -
Seputar Kaltim

SDN 018 Samarinda Ulu. (Firza/Seputarfakta.com)
Samarinda - Salah satu Orang tua murid dari sebuah Sekolah Dasar (SD) negeri di Kota Samarinda, mengeluh karena harus membayar sejumlah buku dengan harga mencapai Rp903 ribu.
Angka itu, disebut terlampau mahal untuk beberapa buku lembar kerja siswa (LKS).
Orang tua murid yang enggan namanya disebut itu, mengunggah keluhannya di sosial media, dan ditanggapi ratusan akun. Sejumlah komentar menyatakan setuju, bahwa nilai yang diminta pihak sekolah terlalu mahal.
Selain itu, orang tua murid ini juga mengeluhkan buku yang digunakan selalu berbeda-beda setiap tahunnya.
"Total biaya dari buku paket sampe LKS sekitar Rp903 ribu untuk satu anak, dan beda kelas, beda buku, beda harga juga," ucap orang tua murid tersebu, saat dikonfirmasi Seputar Fakta, Kamis (11/7/2024) siang.
Yang membuat ia merasa lebih keberatan, kata sumber tersebut, pihak sekolah terkesan tanpa kompromi dan langsung memberitahukan harga buku, tanpa melibatkan orang tua murid terlebih dahulu untuk membahas. Bahkan, lanjutnya tak orang tua murid juga tak diberi tahu, penerbit buku yang akan dibeli tersebut.
"Untuk anak saya saja dari kelas 2 begitu naik kelas 3 dan kelas 4, buku yang dibeli tidak bisa digunakan untuk adik kelas karena akan berbeda lagi jenis buku yang digunakan,"ucapnya.
Ia menambahkan, sejatinya tak hanya ia sendiri yang mengeluh terkait hal ini. Terutama, terkait dengan jenis buku yang setiap tahun ajaran selalu berubah secara pengemasan, padahal isinya dinilai masih sama.
"Kebetulan waktu anak saya kelas 2 dia pakai mozaik juga dan ketika dia naik kelas 3 adik kelasnya menggunakan buku dengan merek lain," tukasnya.
Saat ditanyakan terkait buku yang selalu berganti-ganti, pihak sekolah kata sumber ini menjelaskan, bahwa mereka mengikuti perkembangan zaman dan kurikulum yang berlaku.
Bukan tinggal diam, sumber Seputar Fakta ini juga mengaku telah melakukan beberapa upaya. Salah satunya dengan berinisiatif mencari dan mengumpulkan buku-buku bekas dari sekolah lain untuk digunakan kembali.
"Akhirnya teman-teman (orang tua murid) banyak yang tidak beli disekolah kan, diusut ternyata dari saya tidak lama dari itu tiba-tiba saya sudah dikeluarkan dari grup (WhatsApp) paguyuban (orang tua murid) tidak tahu siapa yang mengeluarkan dan alasannya kenapa. Apa karena saya bagi info buku gratis makanya saya di keluarkan dari grup," bebernya.
Murid yang menggunakan buku yang tak dibeli dari sekolah, juga disebut mendapat perlakuan berbeda. Seperti ketika bertanya di kelas dibiarkan tidak dijawab.
"Iya ada perlakukan yang berbeda, kata anak saya saat dia bertanya hanya didiamkan saja tidak ditanggapi. Saya juga kurang tahu benar tidaknya tapi yang dikatakan anak saya seperti itu,"imbuhnya.
Terkait hal ini, awak redaksi Seputar Fakta, sudah mendatangi sekolah yang dimaksud. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah yang bisa dikutip.
(Sf/Rs)