Seputar Kaltim

    Harga Sejumlah Kebutuhan Turun, Balikpapan Alami Deflasi 0,06 Persen di September 2025

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    04 Oktober 2025 pukul 19:12 WITA

    Komoditas utama mengalami penurunan harga seperti bawang merah, tomat, cabai rawit dan kangkung. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kota Balikpapan mengalami penurunan deflasi sebesar 0,06 persen pada September 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis baru-baru ini.

    Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menyampaikan deflasi ini terjadi karena turunnya harga beberapa komoditas penting, terutama di sektor perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga.

    Secara keseluruhan, inflasi dari Januari-September 2025 tercatat 1,34 persen dan secara tahunan sebesar 1,15 persen. Angka ini lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 2,65 persen dan rata-rata inflasi di empat kota di Kaltim yang sebesar 1,77 persen.

    “Angka ini masih di bawah batas bawah target inflasi nasional tahun 2025 yaitu 2,5 persen ±1 persen,” ucap Robi dalam siaran persnya, Sabtu (4/10/2025).

    Kelompok pengeluaran yang paling besar menyumbang deflasi adalah perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga dengan andil deflasi sebesar 0,16 persen.

    Komoditas utama yang mengalami penurunan harga adalah Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT), bawang merah, tomat, cabai rawit dan kangkung. Turunnya harga BBRT disebabkan biaya distribusi yang menurun. Sedangkan harga bawang merah dan tomat turun karena pasokan dari Sulawesi dan Jawa melimpah. 

    “Penurunan harga cabai rawit juga terjadi karena distribusi dari berbagai daerah lancar. Untuk kangkung, harganya turun karena meningkatnya produksi lokal dan cuaca yang mendukung,” lanjutnya.

    Meski terjadi deflasi, sejumlah barang masih mengalami kenaikan harga. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sebesar 0,14 persen. Lima komoditas yang paling mendorong inflasi adalah angkutan udara, daging ayam ras, emas, air kemasan dan biskuit.

    Robi mengingatkan ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi dalam waktu ke depan, seperti hujan berkepanjangan di sentra produksi dan gelombang laut tinggi yang bisa mengganggu distribusi bahan pangan, terutama komoditas pertanian dan perikanan.

    Namun, BI Balikpapan mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tinggi. 

    “Hal ini terlihat dari hasil Survei Konsumen BI pada September 2025, di mana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat di angka 118,3 persen, meski sedikit menurun dari bulan sebelumnya 129,8 persen. Angka di atas 100 persen menunjukkan masyarakat masih optimis terhadap kondisi ekonomi,” paparnya.

    Untuk menjaga stabilitas harga, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah (pemda) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pemantauan harga bahan pokok secara berkala, sidak pasar, mitigasi risiko kenaikan harga dan rapat koordinasi rutin antarinstansi. 

    Kemudian melakukan penguatan kerja sama antardaerah, operasi pasar dan gelar pangan murah dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk budi daya hortikultura.

    “Selain itu, BI juga mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya menjaga inflasi tetap dalam target nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen, sesuai road map pengendalian inflasi daerah tahun 2025–2027,” paparnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Harga Sejumlah Kebutuhan Turun, Balikpapan Alami Deflasi 0,06 Persen di September 2025

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    04 Oktober 2025 pukul 19:12 WITA

    Komoditas utama mengalami penurunan harga seperti bawang merah, tomat, cabai rawit dan kangkung. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kota Balikpapan mengalami penurunan deflasi sebesar 0,06 persen pada September 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis baru-baru ini.

    Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menyampaikan deflasi ini terjadi karena turunnya harga beberapa komoditas penting, terutama di sektor perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga.

    Secara keseluruhan, inflasi dari Januari-September 2025 tercatat 1,34 persen dan secara tahunan sebesar 1,15 persen. Angka ini lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 2,65 persen dan rata-rata inflasi di empat kota di Kaltim yang sebesar 1,77 persen.

    “Angka ini masih di bawah batas bawah target inflasi nasional tahun 2025 yaitu 2,5 persen ±1 persen,” ucap Robi dalam siaran persnya, Sabtu (4/10/2025).

    Kelompok pengeluaran yang paling besar menyumbang deflasi adalah perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga dengan andil deflasi sebesar 0,16 persen.

    Komoditas utama yang mengalami penurunan harga adalah Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT), bawang merah, tomat, cabai rawit dan kangkung. Turunnya harga BBRT disebabkan biaya distribusi yang menurun. Sedangkan harga bawang merah dan tomat turun karena pasokan dari Sulawesi dan Jawa melimpah. 

    “Penurunan harga cabai rawit juga terjadi karena distribusi dari berbagai daerah lancar. Untuk kangkung, harganya turun karena meningkatnya produksi lokal dan cuaca yang mendukung,” lanjutnya.

    Meski terjadi deflasi, sejumlah barang masih mengalami kenaikan harga. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sebesar 0,14 persen. Lima komoditas yang paling mendorong inflasi adalah angkutan udara, daging ayam ras, emas, air kemasan dan biskuit.

    Robi mengingatkan ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi dalam waktu ke depan, seperti hujan berkepanjangan di sentra produksi dan gelombang laut tinggi yang bisa mengganggu distribusi bahan pangan, terutama komoditas pertanian dan perikanan.

    Namun, BI Balikpapan mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tinggi. 

    “Hal ini terlihat dari hasil Survei Konsumen BI pada September 2025, di mana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat di angka 118,3 persen, meski sedikit menurun dari bulan sebelumnya 129,8 persen. Angka di atas 100 persen menunjukkan masyarakat masih optimis terhadap kondisi ekonomi,” paparnya.

    Untuk menjaga stabilitas harga, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah (pemda) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pemantauan harga bahan pokok secara berkala, sidak pasar, mitigasi risiko kenaikan harga dan rapat koordinasi rutin antarinstansi. 

    Kemudian melakukan penguatan kerja sama antardaerah, operasi pasar dan gelar pangan murah dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk budi daya hortikultura.

    “Selain itu, BI juga mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya menjaga inflasi tetap dalam target nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen, sesuai road map pengendalian inflasi daerah tahun 2025–2027,” paparnya.

    (Sf/Lo)