Seputar Kaltim

    Harga Cabai di PPU Melambung di Tengah Surplus, Pedagang Diduga Manfaatkan Momen Idulfitri 

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    19 Maret 2025 pukul 13:29 WITA

    Ilustrasi cabai.(Pixabay)

    Penajam - Harga cabai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melambung tinggi di pasaran hingga dua kali lipat dibanding harga aslinya yang hanya berkisar Rp50 ribu-Rp65 ribu menjadi Rp95 ribu.

    Meski sebelumnya, sempat diduga faktor utama yang memicu melambungnya harga cabai di pasaran karena kondisi cuaca yang sedang tidak menentu, akibat lahan pertanian cabai terancam gagal panen dan diperkirakan tidak cukup untuk menyokong kebutuhan masyarakat.

    Tapi berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian (Distan) PPU sejak Januari-Februari 2025, produksi cabai mencapai 176,6 ton di lahan seluas 122 Hektare (Ha), sedangkan kebutuhan cabai masyarakat dalam sebulan diperkirakan hanya 31,9 ton.

    “Produksi cabai kita sedang surplus, produksinya mencapai 176,6 ton. Sedangkan luas lahan pertanian cabai yang gagal panen hanya 1,30 Ha. Kebutuhan masyarakat diperkirakan hanya 31,9 ton saja dalam sebulan,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, Rabu (19/3/2025).

    Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) PPU, Marlina menduga kenaikan harga cabai ini dikarenakan para petani dan pedagang mencoba memanfaatkan momentum Idulfitri untuk meraup keuntungan lebih.

    “Sepertinya mereka (petani dan pedagang) mencoba memainkan harga berhubung sedang mendekati momentum lebaran. Jadi, kita imbau menjelang momemtum lebaran ini mereka tidak mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk menaikkan harga barang,” tutur Marlina.

    Untuk memastikan harga cabai kembali seperti semula, Diskukmperindag PPU rutin menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) di sejumlah titik, terutama daerah yang jaraknya jauh dari pasar tradisional.

    “Jadi langkah kita untuk menstabilkan harga yaitu dengan menggelar OPM dan seiring berjalannya waktu, alhamdulilah harga cabai menurun jadi Rp95 ribu yang dulunya sempat naik hingga Rp120 ribu,” ungkapnya.

    Menjelang perayaan Idulfitri, Diskukmperindag PPU secara rutin melakukan monitoring atau pemantauan harga agar tidak ada pedagang yang mencoba memanfaatkan kesempatan untuk menaikkan harga barang.

    “Kita gencarkan pemantauan harga dan memberikan edukasi kepada pedagang untuk tidak memanfaatkan momentum lebaran. Kita berharap harga cabai dan bahan pokok lainnya berangsur menurun,” tandasnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Harga Cabai di PPU Melambung di Tengah Surplus, Pedagang Diduga Manfaatkan Momen Idulfitri 

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    19 Maret 2025 pukul 13:29 WITA

    Ilustrasi cabai.(Pixabay)

    Penajam - Harga cabai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melambung tinggi di pasaran hingga dua kali lipat dibanding harga aslinya yang hanya berkisar Rp50 ribu-Rp65 ribu menjadi Rp95 ribu.

    Meski sebelumnya, sempat diduga faktor utama yang memicu melambungnya harga cabai di pasaran karena kondisi cuaca yang sedang tidak menentu, akibat lahan pertanian cabai terancam gagal panen dan diperkirakan tidak cukup untuk menyokong kebutuhan masyarakat.

    Tapi berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian (Distan) PPU sejak Januari-Februari 2025, produksi cabai mencapai 176,6 ton di lahan seluas 122 Hektare (Ha), sedangkan kebutuhan cabai masyarakat dalam sebulan diperkirakan hanya 31,9 ton.

    “Produksi cabai kita sedang surplus, produksinya mencapai 176,6 ton. Sedangkan luas lahan pertanian cabai yang gagal panen hanya 1,30 Ha. Kebutuhan masyarakat diperkirakan hanya 31,9 ton saja dalam sebulan,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, Rabu (19/3/2025).

    Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) PPU, Marlina menduga kenaikan harga cabai ini dikarenakan para petani dan pedagang mencoba memanfaatkan momentum Idulfitri untuk meraup keuntungan lebih.

    “Sepertinya mereka (petani dan pedagang) mencoba memainkan harga berhubung sedang mendekati momentum lebaran. Jadi, kita imbau menjelang momemtum lebaran ini mereka tidak mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk menaikkan harga barang,” tutur Marlina.

    Untuk memastikan harga cabai kembali seperti semula, Diskukmperindag PPU rutin menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) di sejumlah titik, terutama daerah yang jaraknya jauh dari pasar tradisional.

    “Jadi langkah kita untuk menstabilkan harga yaitu dengan menggelar OPM dan seiring berjalannya waktu, alhamdulilah harga cabai menurun jadi Rp95 ribu yang dulunya sempat naik hingga Rp120 ribu,” ungkapnya.

    Menjelang perayaan Idulfitri, Diskukmperindag PPU secara rutin melakukan monitoring atau pemantauan harga agar tidak ada pedagang yang mencoba memanfaatkan kesempatan untuk menaikkan harga barang.

    “Kita gencarkan pemantauan harga dan memberikan edukasi kepada pedagang untuk tidak memanfaatkan momentum lebaran. Kita berharap harga cabai dan bahan pokok lainnya berangsur menurun,” tandasnya.

    (Sf/By)