Seputar Kaltim

    Harga Cabai di Kaltim Sempat Tembus Rp200 Ribu, DPPKUKM Pastikan Kini Berangsur Normal

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 April 2026 pukul 16:35 WITA

    Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga cabai di Kalimantan Timur sempat melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp200.000 per kilogram pada puncak perayaan Lebaran lalu.

    Namun, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Provinsi Kaltim memastikan bahwa harga komoditas tersebut kini sudah berangsur turun menuju angka normal.

    Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana, mengungkapkan bahwa lonjakan harga yang luar biasa tersebut selaras dengan tingginya kebutuhan masyarakat yang tidak diimbangi dengan pasokan barang.

    "Sesuai dengan karakteristiknya yang pedas, ya. Itu seminggu sebelum Lebaran harganya mulai naik sampai 70 ribu. Makin mendekati Lebaran tambah naik jadi 80 sampai 100 ribu. Puncaknya hari H dan plus satu, tembus 200 ribu," ungkap Ali Wardana, Kamis (2/4/2026).

    Menurut Ali, macetnya pasokan ini terjadi lantaran mayoritas distributor dari daerah asal, khususnya Jawa Timur, menghentikan sementara operasional mereka.

    Tingginya permintaan masyarakat justru berbenturan dengan nihilnya armada distribusi logistik di lapangan.

    "Kondisi kenaikan itu karena ada lonjakan permintaan lagi, sementara barangnya stuck. Tidak ada suplai. Makin mendekati hari H tidak ada lagi yang mendistribusikan karena semua pada merayakan Lebaran. Kami sudah komunikasi dengan penyuplai di Jawa Timur, memang kondisinya yang biasa mengirim ke Kaltim sedang istirahat Lebaran," jelasnya.

    Meski sempat bertahan di angka tertinggi selama kurang lebih tiga hari, situasi perlahan mereda saat memasuki H+3 Lebaran.

    "Setelah itu berangsur turun. Dengan bertambahnya pengiriman karena orang sudah mulai beraktivitas, harganya turun dari 200 ribu, jadi 170 ribu, 80 ribu, hingga mengarah kembali ke harga semula di 70 ribuan," tambahnya.

    Berdasarkan data pantauan terakhir per 31 Maret lalu, harga rata-rata cabai di Samarinda telah menunjukkan penurunan yang signifikan. Untuk cabai merah besar, harganya kini berada di angka Rp53.700 per kilogram, disusul oleh cabai keriting yang dibanderol seharga Rp45.000 per kilogram.

    Sementara itu, cabai rawit merah masih menjadi varian dengan harga tertinggi, yakni berada di angka Rp77.500 per kilogram.

    Tren penurunan harga ini sudah terjadi secara merata di seluruh wilayah Kaltim, termasuk untuk komoditas bawang, kendati di Kabupaten Berau harganya terpantau masih sedikit lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

    Guna mengantisipasi fluktuasi harga serupa di masa depan, Pemerintah Provinsi Kaltim terus memperkuat kerja sama lintas wilayah.

    "Kita tidak menutup ruang dari mana saja daerah produsen yang masuk ke Kaltim. Kita terus menjalin kerja sama, terutama dengan Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Nah, itu penyuplai dominan yang masuk ke Kaltim," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Harga Cabai di Kaltim Sempat Tembus Rp200 Ribu, DPPKUKM Pastikan Kini Berangsur Normal

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 April 2026 pukul 16:35 WITA

    Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga cabai di Kalimantan Timur sempat melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp200.000 per kilogram pada puncak perayaan Lebaran lalu.

    Namun, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Provinsi Kaltim memastikan bahwa harga komoditas tersebut kini sudah berangsur turun menuju angka normal.

    Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana, mengungkapkan bahwa lonjakan harga yang luar biasa tersebut selaras dengan tingginya kebutuhan masyarakat yang tidak diimbangi dengan pasokan barang.

    "Sesuai dengan karakteristiknya yang pedas, ya. Itu seminggu sebelum Lebaran harganya mulai naik sampai 70 ribu. Makin mendekati Lebaran tambah naik jadi 80 sampai 100 ribu. Puncaknya hari H dan plus satu, tembus 200 ribu," ungkap Ali Wardana, Kamis (2/4/2026).

    Menurut Ali, macetnya pasokan ini terjadi lantaran mayoritas distributor dari daerah asal, khususnya Jawa Timur, menghentikan sementara operasional mereka.

    Tingginya permintaan masyarakat justru berbenturan dengan nihilnya armada distribusi logistik di lapangan.

    "Kondisi kenaikan itu karena ada lonjakan permintaan lagi, sementara barangnya stuck. Tidak ada suplai. Makin mendekati hari H tidak ada lagi yang mendistribusikan karena semua pada merayakan Lebaran. Kami sudah komunikasi dengan penyuplai di Jawa Timur, memang kondisinya yang biasa mengirim ke Kaltim sedang istirahat Lebaran," jelasnya.

    Meski sempat bertahan di angka tertinggi selama kurang lebih tiga hari, situasi perlahan mereda saat memasuki H+3 Lebaran.

    "Setelah itu berangsur turun. Dengan bertambahnya pengiriman karena orang sudah mulai beraktivitas, harganya turun dari 200 ribu, jadi 170 ribu, 80 ribu, hingga mengarah kembali ke harga semula di 70 ribuan," tambahnya.

    Berdasarkan data pantauan terakhir per 31 Maret lalu, harga rata-rata cabai di Samarinda telah menunjukkan penurunan yang signifikan. Untuk cabai merah besar, harganya kini berada di angka Rp53.700 per kilogram, disusul oleh cabai keriting yang dibanderol seharga Rp45.000 per kilogram.

    Sementara itu, cabai rawit merah masih menjadi varian dengan harga tertinggi, yakni berada di angka Rp77.500 per kilogram.

    Tren penurunan harga ini sudah terjadi secara merata di seluruh wilayah Kaltim, termasuk untuk komoditas bawang, kendati di Kabupaten Berau harganya terpantau masih sedikit lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

    Guna mengantisipasi fluktuasi harga serupa di masa depan, Pemerintah Provinsi Kaltim terus memperkuat kerja sama lintas wilayah.

    "Kita tidak menutup ruang dari mana saja daerah produsen yang masuk ke Kaltim. Kita terus menjalin kerja sama, terutama dengan Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Nah, itu penyuplai dominan yang masuk ke Kaltim," pungkasnya.

    (Sf/Rs)