Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kenaikan harga bahan baku plastik yang mencapai 30-50 persen mulai dirasakan pelaku usaha di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Lonjakan ini dipicu oleh konflik regional di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan dan harga bahan baku berbasis kimia.
Berdasarkan laporan sejumlah pelaku usaha, harga komoditas berbahan dasar kimia mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga membebani biaya produksi.
"Memang ada kenaikan, khususnya barang dagangan dengan bahan dasar kimia, itu naik 30 sampai 50 persen. Ini imbas dari konflik regional di Timur Tengah,” ujar Nora.
Ia menyebut konflik tersebut mengganggu pasokan, sehingga harga bahan baku menjadi tidak stabil hingga ke daerah, termasuk Kutim.
Nora berharap ketegangan di kawasan tersebut segera mereda agar harga bahan baku bisa kembali stabil.
“Mudah-mudahan kalau sudah ada gencatan senjata dalam satu dua bulan ke depan, kondisi ini bisa reda dengan sendirinya,” tambahnya.
Terkait kemungkinan intervensi pemerintah untuk menjaga ketersediaan stok atau menekan kenaikan harga, Nora menegaskan kewenangan tersebut berada di pemerintah pusat, bukan daerah.
“Kalau untuk langkah-langkah atau kebijakan itu ada di pusat, bukan di daerah. Kami di daerah hanya mengikuti saja,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui dampak kenaikan harga tetap dirasakan di daerah, terutama oleh pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.
“Imbasnya memang ke daerah, tapi regulasi atau kebijakannya pasti di pusat karena ini menyangkut pengaturan industri nasional,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kenaikan harga bahan baku plastik yang mencapai 30-50 persen mulai dirasakan pelaku usaha di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Lonjakan ini dipicu oleh konflik regional di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan dan harga bahan baku berbasis kimia.
Berdasarkan laporan sejumlah pelaku usaha, harga komoditas berbahan dasar kimia mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga membebani biaya produksi.
"Memang ada kenaikan, khususnya barang dagangan dengan bahan dasar kimia, itu naik 30 sampai 50 persen. Ini imbas dari konflik regional di Timur Tengah,” ujar Nora.
Ia menyebut konflik tersebut mengganggu pasokan, sehingga harga bahan baku menjadi tidak stabil hingga ke daerah, termasuk Kutim.
Nora berharap ketegangan di kawasan tersebut segera mereda agar harga bahan baku bisa kembali stabil.
“Mudah-mudahan kalau sudah ada gencatan senjata dalam satu dua bulan ke depan, kondisi ini bisa reda dengan sendirinya,” tambahnya.
Terkait kemungkinan intervensi pemerintah untuk menjaga ketersediaan stok atau menekan kenaikan harga, Nora menegaskan kewenangan tersebut berada di pemerintah pusat, bukan daerah.
“Kalau untuk langkah-langkah atau kebijakan itu ada di pusat, bukan di daerah. Kami di daerah hanya mengikuti saja,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui dampak kenaikan harga tetap dirasakan di daerah, terutama oleh pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.
“Imbasnya memang ke daerah, tapi regulasi atau kebijakannya pasti di pusat karena ini menyangkut pengaturan industri nasional,” pungkasnya.
(Sf/Lo)