Cari disini...
Seputar Kaltim
Proses pengalengan produk ikan di SMKN 3 Tanjung Batu. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau yang dikenal kaya dengan hasil laut kini bersiap menghadirkan produk ikan kaleng khas daerah sebagai harapan baru bagi penguatan industri perikanan pesisir.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mendorong inovasi pengolahan hasil laut agar memiliki nilai tambah dan daya saing.
Kini Dinas Perikanan Berau masih menunggu hasil uji mutu produk ikan kaleng yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Uji mutu tersebut menjadi tahapan krusial sebelum produk dipasarkan secara lebih luas.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid mengatakan hasil uji laboratorium diperkirakan akan segera keluar dalam waktu dekat. Tetapi saat ini masih dalam proses uji di UGM.
"Mudah-mudahan tidak lama lagi hasilnya keluar. Setelah itu akan kami koneksikan ke BPOM agar produk ini benar-benar siap dan memenuhi standar mutu," ujar Abdul Majid.
Ia menjelaskan ikan kaleng khas Berau tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga ditargetkan mampu menembus pasar luar daerah termasuk menjadi oleh-oleh khas dari Berau. Produk tersebut bahkan direncanakan menjadi salah satu bekal bagi jemaah haji asal Berau.
"Produk ini kami siapkan agar bisa dibawa ke luar daerah, termasuk menjadi bekal jemaah haji," katanya.
Ia menegaskan dalam pengembangan produk tersebut, Pemkab Berau menaruh perhatian besar pada aspek kualitas bahan baku. Ikan yang digunakan berasal dari wilayah pesisir Berau seperti Talisayan, Biduk-Biduk dan sekitarnya.
"Kalau bahan bakunya tidak baik, proses produksinya pasti terganggu. Karena itu kualitas bahan baku menjadi perhatian utama kami," terangnya.
Dalam pengembangan produk ikan kaleng ini turut melibatkan sektor pendidikan, khususnya SMKN 3 Tanjung Batu sebagai sarana pembelajaran dan peningkatan keterampilan bagi para siswa.
"Kami ingin anak-anak sekolah ikut terlibat dan belajar langsung. Ini bagian dari menyiapkan sumber daya manusia lokal yang punya keterampilan," tambahnya.
Masyarakat pesisir, termasuk kelompok ibu-ibu juga diharapkan berperan aktif dalam aktivitas sentra pengolahan ikan. Pada tahap awal, produksi ikan kaleng masih disesuaikan dengan ketersediaan hasil tangkapan nelayan dan dilakukan dalam skala terbatas.
"Kita mulai dari skala kecil. Namun jika dikelola dengan serius, peluang pengembangan industri perikanan ini sangat besar," pungkas Majid.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Proses pengalengan produk ikan di SMKN 3 Tanjung Batu. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau yang dikenal kaya dengan hasil laut kini bersiap menghadirkan produk ikan kaleng khas daerah sebagai harapan baru bagi penguatan industri perikanan pesisir.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mendorong inovasi pengolahan hasil laut agar memiliki nilai tambah dan daya saing.
Kini Dinas Perikanan Berau masih menunggu hasil uji mutu produk ikan kaleng yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Uji mutu tersebut menjadi tahapan krusial sebelum produk dipasarkan secara lebih luas.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid mengatakan hasil uji laboratorium diperkirakan akan segera keluar dalam waktu dekat. Tetapi saat ini masih dalam proses uji di UGM.
"Mudah-mudahan tidak lama lagi hasilnya keluar. Setelah itu akan kami koneksikan ke BPOM agar produk ini benar-benar siap dan memenuhi standar mutu," ujar Abdul Majid.
Ia menjelaskan ikan kaleng khas Berau tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga ditargetkan mampu menembus pasar luar daerah termasuk menjadi oleh-oleh khas dari Berau. Produk tersebut bahkan direncanakan menjadi salah satu bekal bagi jemaah haji asal Berau.
"Produk ini kami siapkan agar bisa dibawa ke luar daerah, termasuk menjadi bekal jemaah haji," katanya.
Ia menegaskan dalam pengembangan produk tersebut, Pemkab Berau menaruh perhatian besar pada aspek kualitas bahan baku. Ikan yang digunakan berasal dari wilayah pesisir Berau seperti Talisayan, Biduk-Biduk dan sekitarnya.
"Kalau bahan bakunya tidak baik, proses produksinya pasti terganggu. Karena itu kualitas bahan baku menjadi perhatian utama kami," terangnya.
Dalam pengembangan produk ikan kaleng ini turut melibatkan sektor pendidikan, khususnya SMKN 3 Tanjung Batu sebagai sarana pembelajaran dan peningkatan keterampilan bagi para siswa.
"Kami ingin anak-anak sekolah ikut terlibat dan belajar langsung. Ini bagian dari menyiapkan sumber daya manusia lokal yang punya keterampilan," tambahnya.
Masyarakat pesisir, termasuk kelompok ibu-ibu juga diharapkan berperan aktif dalam aktivitas sentra pengolahan ikan. Pada tahap awal, produksi ikan kaleng masih disesuaikan dengan ketersediaan hasil tangkapan nelayan dan dilakukan dalam skala terbatas.
"Kita mulai dari skala kecil. Namun jika dikelola dengan serius, peluang pengembangan industri perikanan ini sangat besar," pungkas Majid.
(Sf/Lo)