Seputar Kaltim

    Hanya Tersedia Empat Kios UMKM di Teras Samarinda, Rohim: UMKM Siapa yang diberdayakan? 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    26 April 2024 pukul 18:54 WITA

    Proyek Teras Samarinda yang belum rampung, Kamis (25/4/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Anggota Pansus (Panitia Khusus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Samarinda, Abdul Rohim menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi fokus perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) dalam pembangunan Teras Samarinda. 

    Salah satu aspek yang ditekankan adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, Rohim mengekspresikan kekecewaannya ketika menemukan bahwa upaya pemberdayaan tersebut hanya menyediakan empat tempat UMKM, jumlah yang dinilai sangat minim.

    "Dalam presentasi soal proyek Teras Samarinda ini, salah satu yang menjadi argumentasi Pemkot itu adalah soal pemberdayaan UMKM. Kita kaget ngomong besar pemberdayaan UMKM, ternyata di sini cuman disiapkan 4 tempat UMKM," ujar Rohim, Kamis (25/4/2024). 

    Menurutnya peningkatan jumlah tempat UMKM di proyek Teras Samarinda menjadi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pengembangan lebih lanjut dalam menyokong pertumbuhan ekonomi lokal.

    Terlebih, pemberdayaan UMKM juga menjadi salah satu dari 10 program prioritas Wali Kota Samarinda.

    Menurutnya minimnya tempat UMKM ini menyoroti peran krusial Pemkot dalam memastikan keberhasilan pembangunan Teras Samarinda. Dalam konteks ini, upaya pemberdayaan UMKM menjadi salah satu indikator keberhasilan yang harus diprioritaskan.

    Lebih lanjut, mengenai waktu penyelesaian. Menurutnya progres pengerjaan yang cukup lambat dikarenakan bahan baku yang diambil dari negara lain.
    “Kita khawatir ini akan molor lagi,” ungkapnya. 

    Rohim menegaskan bahwa catatan-catatan tersebut akan dibahas secara internal oleh pihak terkait untuk menjadi masukan dalam peningkatan pelaksanaan proyek. 

    Salah satu catatan penting yang menjadi sorotan adalah terkait pengadaan material dari luar negeri, seperti membran dari Swedia dan pencahayaan (lampu) dari China. Rohim menyarankan agar pertimbangan lebih dalam dilakukan terkait risiko penundaan dan masalah potensial yang mungkin muncul akibat impor bahan-bahan tersebut.

    "Kenapa tidak ambil dari sini saja? Kalau ada masalah tidak perlu bolak-balik terlalu jauh. Artinya mereka menyusahkan diri sendiri," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Hanya Tersedia Empat Kios UMKM di Teras Samarinda, Rohim: UMKM Siapa yang diberdayakan? 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    26 April 2024 pukul 18:54 WITA

    Proyek Teras Samarinda yang belum rampung, Kamis (25/4/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Anggota Pansus (Panitia Khusus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Samarinda, Abdul Rohim menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi fokus perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) dalam pembangunan Teras Samarinda. 

    Salah satu aspek yang ditekankan adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, Rohim mengekspresikan kekecewaannya ketika menemukan bahwa upaya pemberdayaan tersebut hanya menyediakan empat tempat UMKM, jumlah yang dinilai sangat minim.

    "Dalam presentasi soal proyek Teras Samarinda ini, salah satu yang menjadi argumentasi Pemkot itu adalah soal pemberdayaan UMKM. Kita kaget ngomong besar pemberdayaan UMKM, ternyata di sini cuman disiapkan 4 tempat UMKM," ujar Rohim, Kamis (25/4/2024). 

    Menurutnya peningkatan jumlah tempat UMKM di proyek Teras Samarinda menjadi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pengembangan lebih lanjut dalam menyokong pertumbuhan ekonomi lokal.

    Terlebih, pemberdayaan UMKM juga menjadi salah satu dari 10 program prioritas Wali Kota Samarinda.

    Menurutnya minimnya tempat UMKM ini menyoroti peran krusial Pemkot dalam memastikan keberhasilan pembangunan Teras Samarinda. Dalam konteks ini, upaya pemberdayaan UMKM menjadi salah satu indikator keberhasilan yang harus diprioritaskan.

    Lebih lanjut, mengenai waktu penyelesaian. Menurutnya progres pengerjaan yang cukup lambat dikarenakan bahan baku yang diambil dari negara lain.
    “Kita khawatir ini akan molor lagi,” ungkapnya. 

    Rohim menegaskan bahwa catatan-catatan tersebut akan dibahas secara internal oleh pihak terkait untuk menjadi masukan dalam peningkatan pelaksanaan proyek. 

    Salah satu catatan penting yang menjadi sorotan adalah terkait pengadaan material dari luar negeri, seperti membran dari Swedia dan pencahayaan (lampu) dari China. Rohim menyarankan agar pertimbangan lebih dalam dilakukan terkait risiko penundaan dan masalah potensial yang mungkin muncul akibat impor bahan-bahan tersebut.

    "Kenapa tidak ambil dari sini saja? Kalau ada masalah tidak perlu bolak-balik terlalu jauh. Artinya mereka menyusahkan diri sendiri," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)