Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Rizky Ridho yang masuk dalam nominasi Puskas Award. (Foto: Instagram Ridho)
Samarinda - Gol spektakuler bek Indonesia Rizky Ridho yang tercipta di ajang Liga 1 kini bersanding dengan gol bintang-bintang dunia seperti Declan Rice dan Lamine Yamal dalam nominasi FIFA Puskas Award 2025.
Prestasi ini bukan hanya pengakuan atas talenta individu, melainkan juga pertaruhan bagi Indonesia untuk membuktikan kekuatan dukungan digitalnya di kancah global.
Namun, semangat voting publik nasional harus berpacu dengan waktu. Periode dukungan penggemar, yang menjadi separuh penentu kemenangan, hanya tersisa hingga Rabu (4/12/25).
Setelah tenggat waktu tersebut, nasib gol terbaik dunia akan sepenuhnya diserahkan kepada penilaian juri rahasia, yakni panel Legenda FIFA.
FIFA Puskas Award, yang diberikan kepada pencetak gol terindah sepanjang tahun, memiliki mekanisme penilaian yang unik dan ketat.
Gol dari pemain Indonesia, yang dicetak dalam laga melawan Arema pada Maret 2025, harus melewati dua fase penentuan. Fase pertama adalah voting publik yang dibuka sejak 13 November 2025.
Fase ini menuntut partisipasi aktif dari penggemar seluruh dunia. Setiap akun yang terdaftar di laman resmi FIFA dapat memberikan suaranya, dengan ketentuan pengguna harus memilih tiga gol dari 11 nominasi yang tersedia.
Pilihan pertama akan mendapatkan lima poin, pilihan kedua tiga poin, dan pilihan ketiga satu poin. Total poin dari voting publik ini akan menjadi bobot 50 persen dari penentuan pemenang.
Krusialnya tenggat waktu 4 Desember adalah karena setelah tanggal tersebut, keputusan mutlak akan ditentukan oleh pembobotan suara yang setara.
Suara dari fans sebanyak 50 persen akan digabungkan dengan suara dari panel FIFA Legends 50 persen untuk menentukan pemenang.
Sistem ini berbeda dari beberapa penghargaan lain yang hanya mengandalkan popularitas suara fans.
Pembagian bobot ini diterapkan FIFA sejak 2019 setelah beberapa kontroversi hasil sebelumnya yang dianggap lebih mementingkan basis penggemar daripada kualitas teknis gol. Panel Legenda FIFA berfungsi sebagai filter yang menjaga integritas penghargaan.
Jika nantinya terjadi skor seri antara satu nominasi dengan nominasi lainnya, FIFA menetapkan bahwa suara dari panel FIFA Legends yang akan dijadikan penentu kemenangan.
Hal ini berarti, meskipun publik Indonesia berhasil memimpin perolehan suara secara kuantitas, penilaian teknis dari para legenda dunia tetap menjadi kunci mutlak.
Panel FIFA Legends bertugas menilai gol berdasarkan kriteria yang meliputi estetika, pentingnya pertandingan (konteks), dan absennya faktor keberuntungan yang berlebihan. Hal ini diungkapkan dalam panduan resmi FIFA.
Michael Owen, mantan pemain tim nasional Inggris yang pernah menjabat sebagai panelis FIFA Legends, menjelaskan bahwa tugas juri adalah melihat gol dari sudut pandang teknis yang mendalam.
Juri harus memastikan bahwa gol tersebut tidak hanya dilihat bagus secara visual, tetapi secara teknis, gol itu adalah upaya yang luar biasa.
“Kami harus memastikan bahwa gol tersebut tidak hanya terlihat bagus, tetapi secara teknis, gol itu adalah upaya yang luar biasa,” ungkap Owen.
Oleh karena itu, tenggat waktu 4 Desember adalah momen bagi publik Indonesia.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Rizky Ridho yang masuk dalam nominasi Puskas Award. (Foto: Instagram Ridho)
Samarinda - Gol spektakuler bek Indonesia Rizky Ridho yang tercipta di ajang Liga 1 kini bersanding dengan gol bintang-bintang dunia seperti Declan Rice dan Lamine Yamal dalam nominasi FIFA Puskas Award 2025.
Prestasi ini bukan hanya pengakuan atas talenta individu, melainkan juga pertaruhan bagi Indonesia untuk membuktikan kekuatan dukungan digitalnya di kancah global.
Namun, semangat voting publik nasional harus berpacu dengan waktu. Periode dukungan penggemar, yang menjadi separuh penentu kemenangan, hanya tersisa hingga Rabu (4/12/25).
Setelah tenggat waktu tersebut, nasib gol terbaik dunia akan sepenuhnya diserahkan kepada penilaian juri rahasia, yakni panel Legenda FIFA.
FIFA Puskas Award, yang diberikan kepada pencetak gol terindah sepanjang tahun, memiliki mekanisme penilaian yang unik dan ketat.
Gol dari pemain Indonesia, yang dicetak dalam laga melawan Arema pada Maret 2025, harus melewati dua fase penentuan. Fase pertama adalah voting publik yang dibuka sejak 13 November 2025.
Fase ini menuntut partisipasi aktif dari penggemar seluruh dunia. Setiap akun yang terdaftar di laman resmi FIFA dapat memberikan suaranya, dengan ketentuan pengguna harus memilih tiga gol dari 11 nominasi yang tersedia.
Pilihan pertama akan mendapatkan lima poin, pilihan kedua tiga poin, dan pilihan ketiga satu poin. Total poin dari voting publik ini akan menjadi bobot 50 persen dari penentuan pemenang.
Krusialnya tenggat waktu 4 Desember adalah karena setelah tanggal tersebut, keputusan mutlak akan ditentukan oleh pembobotan suara yang setara.
Suara dari fans sebanyak 50 persen akan digabungkan dengan suara dari panel FIFA Legends 50 persen untuk menentukan pemenang.
Sistem ini berbeda dari beberapa penghargaan lain yang hanya mengandalkan popularitas suara fans.
Pembagian bobot ini diterapkan FIFA sejak 2019 setelah beberapa kontroversi hasil sebelumnya yang dianggap lebih mementingkan basis penggemar daripada kualitas teknis gol. Panel Legenda FIFA berfungsi sebagai filter yang menjaga integritas penghargaan.
Jika nantinya terjadi skor seri antara satu nominasi dengan nominasi lainnya, FIFA menetapkan bahwa suara dari panel FIFA Legends yang akan dijadikan penentu kemenangan.
Hal ini berarti, meskipun publik Indonesia berhasil memimpin perolehan suara secara kuantitas, penilaian teknis dari para legenda dunia tetap menjadi kunci mutlak.
Panel FIFA Legends bertugas menilai gol berdasarkan kriteria yang meliputi estetika, pentingnya pertandingan (konteks), dan absennya faktor keberuntungan yang berlebihan. Hal ini diungkapkan dalam panduan resmi FIFA.
Michael Owen, mantan pemain tim nasional Inggris yang pernah menjabat sebagai panelis FIFA Legends, menjelaskan bahwa tugas juri adalah melihat gol dari sudut pandang teknis yang mendalam.
Juri harus memastikan bahwa gol tersebut tidak hanya dilihat bagus secara visual, tetapi secara teknis, gol itu adalah upaya yang luar biasa.
“Kami harus memastikan bahwa gol tersebut tidak hanya terlihat bagus, tetapi secara teknis, gol itu adalah upaya yang luar biasa,” ungkap Owen.
Oleh karena itu, tenggat waktu 4 Desember adalah momen bagi publik Indonesia.
(Sf/Rs)