Hantavirus Jadi Perhatian Dunia Medis, Penularannya Tak Selalu dari Gigitan Tikus

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Seputar Kaltim

    10 Mei 2026 12:59 WIB

    Foto ilustrasi Hantavirus (foto: Generate Gemini AI/Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Virus Hanta menjadi perhatian dunia medis setelah sejumlah penelitian terbaru mengungkap tingkat kematian yang tinggi akibat infeksi virus tersebut. 

    Penyakit yang ditularkan melalui kotoran, urine dan air liur tikus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga gagal organ dalam waktu singkat.

    Dalam beberapa kasus, penderita awalnya hanya mengalami gejala ringan seperti demam, nyeri otot dan tubuh lemas. Namun dalam hitungan hari, kondisi dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni gangguan paru-paru berat yang menyebabkan sesak napas hingga penurunan oksigen secara drastis.

    Virus ini pertama kali dikenal luas saat Perang Korea pada 1950-an dan berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Saat itu, banyak tentara mengalami infeksi berat setelah terpapar virus dari tikus sawah.

    Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan pada 1993 setelah muncul wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat. Puluhan kasus dilaporkan hanya dalam waktu singkat dengan tingkat kematian hampir 50 persen.

    Berbeda dengan anggapan umum, penularan hantavirus tidak selalu terjadi akibat gigitan tikus. Virus lebih sering menyebar melalui partikel debu yang terkontaminasi kotoran atau urine tikus, terutama di ruangan tertutup seperti gudang, garasi atau bangunan yang jarang dibersihkan.

    Sejumlah jurnal medis internasional, seperti The New England Journal of Medicine dan Nature Microbiology, melaporkan adanya perkembangan penelitian terkait mutasi baru hantavirus yang dinilai lebih agresif terhadap jaringan paru-paru manusia.

    Penelitian terbaru juga mulai membuka peluang pengembangan vaksin dan terapi antibodi berbasis teknologi mRNA, meski hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan pasien masih berfokus pada terapi suportif seperti bantuan oksigen, ventilator, hingga ECMO pada kasus berat.

    Di Indonesia sendiri belum ditemukan wabah besar hantavirus. Namun, kajian A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents and the Discovery of Serang Virus yang diterbitkan jurnal Viruses menyebut sejumlah spesies tikus di Indonesia pernah terdeteksi membawa hantavirus sehingga pengawasan tetap diperlukan.

    Selain itu, penelitian seroepidemiologi yang dipublikasikan dalam Journal of Japanese Medical Science and Biology menemukan beberapa spesies tikus di Indonesia, termasuk Rattus tiomanicus, memiliki antibodi terhadap Seoul virus yang termasuk kelompok hantavirus.

    Para ahli mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan sarang maupun kotoran tikus. Penggunaan masker saat membersihkan gudang atau area berdebu juga disarankan untuk mengurangi risiko paparan.

    Selain itu, makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan celah rumah yang memungkinkan tikus masuk perlu segera ditutup agar populasi tikus tidak berkembang di lingkungan tempat tinggal.

    Meski terdengar mengkhawatirkan, hantavirus sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana, terutama menjaga sanitasi lingkungan dan mengurangi paparan terhadap tikus serta kotorannya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Hantavirus Jadi Perhatian Dunia Medis, Penularannya Tak Selalu dari Gigitan Tikus

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Seputar Kaltim

    10 Mei 2026 12:59 WIB

    Foto ilustrasi Hantavirus (foto: Generate Gemini AI/Seputarfakta.com)

    Tenggarong – Virus Hanta menjadi perhatian dunia medis setelah sejumlah penelitian terbaru mengungkap tingkat kematian yang tinggi akibat infeksi virus tersebut. 

    Penyakit yang ditularkan melalui kotoran, urine dan air liur tikus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga gagal organ dalam waktu singkat.

    Dalam beberapa kasus, penderita awalnya hanya mengalami gejala ringan seperti demam, nyeri otot dan tubuh lemas. Namun dalam hitungan hari, kondisi dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni gangguan paru-paru berat yang menyebabkan sesak napas hingga penurunan oksigen secara drastis.

    Virus ini pertama kali dikenal luas saat Perang Korea pada 1950-an dan berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Saat itu, banyak tentara mengalami infeksi berat setelah terpapar virus dari tikus sawah.

    Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan pada 1993 setelah muncul wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat. Puluhan kasus dilaporkan hanya dalam waktu singkat dengan tingkat kematian hampir 50 persen.

    Berbeda dengan anggapan umum, penularan hantavirus tidak selalu terjadi akibat gigitan tikus. Virus lebih sering menyebar melalui partikel debu yang terkontaminasi kotoran atau urine tikus, terutama di ruangan tertutup seperti gudang, garasi atau bangunan yang jarang dibersihkan.

    Sejumlah jurnal medis internasional, seperti The New England Journal of Medicine dan Nature Microbiology, melaporkan adanya perkembangan penelitian terkait mutasi baru hantavirus yang dinilai lebih agresif terhadap jaringan paru-paru manusia.

    Penelitian terbaru juga mulai membuka peluang pengembangan vaksin dan terapi antibodi berbasis teknologi mRNA, meski hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan pasien masih berfokus pada terapi suportif seperti bantuan oksigen, ventilator, hingga ECMO pada kasus berat.

    Di Indonesia sendiri belum ditemukan wabah besar hantavirus. Namun, kajian A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents and the Discovery of Serang Virus yang diterbitkan jurnal Viruses menyebut sejumlah spesies tikus di Indonesia pernah terdeteksi membawa hantavirus sehingga pengawasan tetap diperlukan.

    Selain itu, penelitian seroepidemiologi yang dipublikasikan dalam Journal of Japanese Medical Science and Biology menemukan beberapa spesies tikus di Indonesia, termasuk Rattus tiomanicus, memiliki antibodi terhadap Seoul virus yang termasuk kelompok hantavirus.

    Para ahli mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan sarang maupun kotoran tikus. Penggunaan masker saat membersihkan gudang atau area berdebu juga disarankan untuk mengurangi risiko paparan.

    Selain itu, makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan celah rumah yang memungkinkan tikus masuk perlu segera ditutup agar populasi tikus tidak berkembang di lingkungan tempat tinggal.

    Meski terdengar mengkhawatirkan, hantavirus sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana, terutama menjaga sanitasi lingkungan dan mengurangi paparan terhadap tikus serta kotorannya.

    (Sf/Lo)