Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala BPBD Berau, Mashyadi Muhdi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau memastikan kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BPBD Berau Mashyadi Muhdi, menegaskan bahwa seluruh posko tetap aktif dan siap siaga di 13 titik kecamatan yang ada di Kabupaten Berau.
"Posko kita tetap seperti biasa di 13 titik kecamatan. Dalam masa kemarau seperti ini, semua harus siap siaga apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran," ujar Mashyadi
Dirinya juga mengatakan meski saat ini kondisi terpantau aman, data menunjukkan bahwa pada akhir Juli 2025, tepatnya tanggal 30, sempat terdeteksi 77 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kecamatan. Namun demikian, dirinya menyampaikan bahwa tidak ada kejadian kebakaran yang dilaporkan.
"Hotspot itu tidak selalu diiringi dengan kebakaran lahan. Kadang muncul karena faktor cuaca atau suhu panas ekstrem saja," jelasnya.
Ia pun menyebutkan beberapa wilayah yang rutin mengalami suhu tinggi dan rentan terhadap karhutla antara lain Kecamatan Pulau Derawan, Tabalar, Segah, Kelay, Teluk Bayur, dan Talisayan.
Selain itu, dirinya mengatakan bahwa BPBD tidak bekerja sendiri melainkan turut didukung oleh berbagai instansi seperti TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga Relawan Penanggulangan Api (RPA). Mereka bersama-sama terlibat langsung dalam penanganan di lapangan.
"Seluruh posko telah dilengkapi peralatan yang memadai. Meskipun tidak ada penambahan personel khusus di titik-titik dominan, bantuan dari berbagai unsur yang standby di lapangan cukup untuk mendukung respons cepat," tuturnya.
Namun, ia mengakui ada tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla, terutama terkait akses dan sumber air.
"Lokasi kebakaran biasanya sulit dijangkau kendaraan. Sumber air juga menjadi kendala utama. Kalau jauh, kita harus bolak-balik mencari sumber air terdekat," tandasnya.
Mashyadi pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka di musim kemarau, serta segera melaporkan jika ditemukan tanda-tanda kebakaran agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala BPBD Berau, Mashyadi Muhdi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau memastikan kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BPBD Berau Mashyadi Muhdi, menegaskan bahwa seluruh posko tetap aktif dan siap siaga di 13 titik kecamatan yang ada di Kabupaten Berau.
"Posko kita tetap seperti biasa di 13 titik kecamatan. Dalam masa kemarau seperti ini, semua harus siap siaga apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran," ujar Mashyadi
Dirinya juga mengatakan meski saat ini kondisi terpantau aman, data menunjukkan bahwa pada akhir Juli 2025, tepatnya tanggal 30, sempat terdeteksi 77 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kecamatan. Namun demikian, dirinya menyampaikan bahwa tidak ada kejadian kebakaran yang dilaporkan.
"Hotspot itu tidak selalu diiringi dengan kebakaran lahan. Kadang muncul karena faktor cuaca atau suhu panas ekstrem saja," jelasnya.
Ia pun menyebutkan beberapa wilayah yang rutin mengalami suhu tinggi dan rentan terhadap karhutla antara lain Kecamatan Pulau Derawan, Tabalar, Segah, Kelay, Teluk Bayur, dan Talisayan.
Selain itu, dirinya mengatakan bahwa BPBD tidak bekerja sendiri melainkan turut didukung oleh berbagai instansi seperti TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga Relawan Penanggulangan Api (RPA). Mereka bersama-sama terlibat langsung dalam penanganan di lapangan.
"Seluruh posko telah dilengkapi peralatan yang memadai. Meskipun tidak ada penambahan personel khusus di titik-titik dominan, bantuan dari berbagai unsur yang standby di lapangan cukup untuk mendukung respons cepat," tuturnya.
Namun, ia mengakui ada tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla, terutama terkait akses dan sumber air.
"Lokasi kebakaran biasanya sulit dijangkau kendaraan. Sumber air juga menjadi kendala utama. Kalau jauh, kita harus bolak-balik mencari sumber air terdekat," tandasnya.
Mashyadi pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka di musim kemarau, serta segera melaporkan jika ditemukan tanda-tanda kebakaran agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.
(Sf/Rs)