Seputar Kaltim

    Hadapi El Nino, Perumdam Kutim Tingkatkan Produksi Air hingga 339 Liter per Detik

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    28 April 2026 pukul 11:46 WITA

    Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan. (Foto: Istimewa)

    Sangatta - Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Kutim) mulai menyesuaikan pola operasional untuk menjaga pasokan air bersih di tengah potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

    Status siaga diberlakukan sejak April hingga Oktober 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan berkurangnya ketersediaan air baku.

    Dalam kondisi tersebut, Perumdam tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga mengatur waktu produksi berdasarkan kondisi alam.

    Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan, mengatakan pihaknya kini memanfaatkan pola pasang surut air sebagai acuan utama dalam menentukan waktu pengambilan air.

    “Sekarang kita tidak bisa hanya mengandalkan alat. Kita juga harus membaca pola alam, kapan waktu terbaik untuk menyedot air dan kapan harus mengurangi,” ujar Suparjan.

    Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif di tengah cuaca ekstrem, di mana debit air cenderung tidak stabil.

    Sebagai penunjang, Perumdam juga mengoptimalkan infrastruktur dengan mengoperasikan pompa di intake baru dan lama, termasuk tiga unit pompa berdaya 56 kW.

    “Saat ini, tiga unit pompa di intake baru sudah beroperasi. Masing-masing pompa memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan air baku,” jelasnya.

    Optimalisasi tersebut berdampak pada peningkatan kapasitas produksi. Debit air yang sebelumnya berada di angka 185 liter per detik kini meningkat menjadi 339 liter per detik.

    “Peningkatan debit ini diharapkan bisa bertahan mengikuti siklus pasang surut. Apabila pola tersebut mampu bertahan selama 4 hingga 5 jam, maka peluang menambah pasokan air menjadi lebih besar,” tambahnya.

    Suparjan menegaskan, penyesuaian pola operasional ini akan terus diterapkan selama masa siaga, disertai pemantauan kondisi cuaca dan sumber air secara berkala.

    “Jika pola ini dipertahankan, kita bisa tahu kapan tancap gas sedot air, kapan ngerem,“ pungkasnya.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Hadapi El Nino, Perumdam Kutim Tingkatkan Produksi Air hingga 339 Liter per Detik

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    28 April 2026 pukul 11:46 WITA

    Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan. (Foto: Istimewa)

    Sangatta - Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Kutim) mulai menyesuaikan pola operasional untuk menjaga pasokan air bersih di tengah potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino.

    Status siaga diberlakukan sejak April hingga Oktober 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan berkurangnya ketersediaan air baku.

    Dalam kondisi tersebut, Perumdam tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga mengatur waktu produksi berdasarkan kondisi alam.

    Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan, mengatakan pihaknya kini memanfaatkan pola pasang surut air sebagai acuan utama dalam menentukan waktu pengambilan air.

    “Sekarang kita tidak bisa hanya mengandalkan alat. Kita juga harus membaca pola alam, kapan waktu terbaik untuk menyedot air dan kapan harus mengurangi,” ujar Suparjan.

    Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif di tengah cuaca ekstrem, di mana debit air cenderung tidak stabil.

    Sebagai penunjang, Perumdam juga mengoptimalkan infrastruktur dengan mengoperasikan pompa di intake baru dan lama, termasuk tiga unit pompa berdaya 56 kW.

    “Saat ini, tiga unit pompa di intake baru sudah beroperasi. Masing-masing pompa memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan air baku,” jelasnya.

    Optimalisasi tersebut berdampak pada peningkatan kapasitas produksi. Debit air yang sebelumnya berada di angka 185 liter per detik kini meningkat menjadi 339 liter per detik.

    “Peningkatan debit ini diharapkan bisa bertahan mengikuti siklus pasang surut. Apabila pola tersebut mampu bertahan selama 4 hingga 5 jam, maka peluang menambah pasokan air menjadi lebih besar,” tambahnya.

    Suparjan menegaskan, penyesuaian pola operasional ini akan terus diterapkan selama masa siaga, disertai pemantauan kondisi cuaca dan sumber air secara berkala.

    “Jika pola ini dipertahankan, kita bisa tahu kapan tancap gas sedot air, kapan ngerem,“ pungkasnya.

    (Sf/RS)