Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim
Ilustrasi makanan bergizi siap saji dari dapur SPPG. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPC Partai Gerindra Kutai Timur (Kutim), Dr Novel Tyty Paembonan mengatakan partainya akan memantau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.
Program ini ditujukan untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil. Kini program itu sudah dirasakan sekitar 60 juta anak di Indonesia. Menurut Novel, program ini bukan hal baru. Banyak negara maju sudah melakukannya bertahun-tahun dan pemerintah juga berusaha menyiapkan anggaran program ini tanpa mengurangi dana untuk pendidikan dan kesehatan.
“Program makan bergizi gratis itu telah dirasakan kurang lebih oleh 60 juta anak-anak kita. Kami ingin memastikan program ini berjalan dengan baik. Di setiap Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) dan dapur MBG, dalam waktu dekat ini kami akan datang untuk memantau,” ujar Novel.
Pengawasan akan difokuskan pada kebersihan dapur, sanitasi lingkungan, kualitas bahan makanan dan sertifikasi orang yang mengolah makanan. Hal ini penting untuk mencegah risiko keracunan dan memastikan makanan yang disajikan aman dan bergizi bagi anak-anak.
“Sebagai tenaga kesehatan, saya akan mengingatkan bagaimana standar pengolahan dan kebersihan harus diterapkan dengan benar,” tambahnya.
Wakil Ketua DPC Gerindra Kutim, David Rante mengatakan fokus partai bukan pada pro dan kontra program, tetapi bagaimana program ini bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Di tingkat nasional, program MBG mendapat beragam tanggapan. Ada yang mendukung karena dianggap membantu pemenuhan gizi anak dan menurunkan stunting. Namun, ada juga yang menyoroti soal besarnya anggaran dan pentingnya pengawasan agar pelaksanaannya berjalan baik dan tepat sasaran.
“Kami ingin program ini meningkatkan kualitas hidup, khususnya anak-anak sekolah dan ibu hamil. Dengan gizi yang cukup, risiko stunting bisa berkurang dan potensi anak-anak di sekolah bisa lebih maksimal, khususnya di daerah,” kata David.
Ia menyebut, pihaknya akan melakukan pengawasan rutin ke SPPG untuk mengevaluasi kendala dan keluhan. Hasil pengawasan akan disampaikan kepada pengelola program di kabupaten dan pemerintah terkait, agar program bisa diperbaiki terus-menerus.
Program ini juga diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi petani lokal yang menjadi pemasok bahan baku. Namun tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga generasi muda bisa tumbuh dengan gizi yang baik.
“Tidak ada yang ingin terjadi kasus keracunan. Kalau pun terjadi, harus dievaluasi supaya program ke depan lebih aman,” tutupnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim

Ilustrasi makanan bergizi siap saji dari dapur SPPG. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPC Partai Gerindra Kutai Timur (Kutim), Dr Novel Tyty Paembonan mengatakan partainya akan memantau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.
Program ini ditujukan untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil. Kini program itu sudah dirasakan sekitar 60 juta anak di Indonesia. Menurut Novel, program ini bukan hal baru. Banyak negara maju sudah melakukannya bertahun-tahun dan pemerintah juga berusaha menyiapkan anggaran program ini tanpa mengurangi dana untuk pendidikan dan kesehatan.
“Program makan bergizi gratis itu telah dirasakan kurang lebih oleh 60 juta anak-anak kita. Kami ingin memastikan program ini berjalan dengan baik. Di setiap Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) dan dapur MBG, dalam waktu dekat ini kami akan datang untuk memantau,” ujar Novel.
Pengawasan akan difokuskan pada kebersihan dapur, sanitasi lingkungan, kualitas bahan makanan dan sertifikasi orang yang mengolah makanan. Hal ini penting untuk mencegah risiko keracunan dan memastikan makanan yang disajikan aman dan bergizi bagi anak-anak.
“Sebagai tenaga kesehatan, saya akan mengingatkan bagaimana standar pengolahan dan kebersihan harus diterapkan dengan benar,” tambahnya.
Wakil Ketua DPC Gerindra Kutim, David Rante mengatakan fokus partai bukan pada pro dan kontra program, tetapi bagaimana program ini bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Di tingkat nasional, program MBG mendapat beragam tanggapan. Ada yang mendukung karena dianggap membantu pemenuhan gizi anak dan menurunkan stunting. Namun, ada juga yang menyoroti soal besarnya anggaran dan pentingnya pengawasan agar pelaksanaannya berjalan baik dan tepat sasaran.
“Kami ingin program ini meningkatkan kualitas hidup, khususnya anak-anak sekolah dan ibu hamil. Dengan gizi yang cukup, risiko stunting bisa berkurang dan potensi anak-anak di sekolah bisa lebih maksimal, khususnya di daerah,” kata David.
Ia menyebut, pihaknya akan melakukan pengawasan rutin ke SPPG untuk mengevaluasi kendala dan keluhan. Hasil pengawasan akan disampaikan kepada pengelola program di kabupaten dan pemerintah terkait, agar program bisa diperbaiki terus-menerus.
Program ini juga diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi petani lokal yang menjadi pemasok bahan baku. Namun tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga generasi muda bisa tumbuh dengan gizi yang baik.
“Tidak ada yang ingin terjadi kasus keracunan. Kalau pun terjadi, harus dievaluasi supaya program ke depan lebih aman,” tutupnya.
(Sf/Lo)