Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Baju batik motof klub sepak bola yang sempat ramai pada zamannya. (Foto: Batik-Solo.com)
Samarinda - Di tengah semarak perayaan Hari Batik Nasional, media sosial sempat diramaikan oleh kreativitas tanpa batas, selembar kain batik yang motifnya bukan parang atau kawung, melainkan logo klub sepak bola.
Fenomena ini memicu decak kagum sekaligus perdebatan. Namun, di balik kehebohan sesaat itu, ada dunia batik yang jauh lebih luas dan kaya makna yang perlu dikenali, terutama oleh generasi baru seperti Gen Alpha.
Mari kita bedah lima fakta seputar batik, dari tren bola yang viral hingga warisan adiluhung yang sebenarnya.
Fenomena batik klub bola sejatinya bukan hal yang muncul tiba-tiba. Tren ini berakar kuat dari Solo, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat batik sekaligus memiliki basis suporter sepak bola yang sangat fanatik. Inovasi ini adalah titik temu antara kecintaan pada tradisi dan loyalitas pada klub kebanggaan.
Namun, seperti banyak tren fesyen lainnya, masa puncak batik bola perlahan surut. Kini, ia menjadi penanda sebuah era kreativitas, sekaligus pengingat bahwa batik bisa menjadi medium ekspresi apa saja, bahkan semangat dari tribun stadion.
Jauh sebelum logo bola tergores di atas kain, batik lahir di lingkungan keraton dengan aturan atau pakem yang ketat. Dikenal sebagai batik vorstenlanden (batik dari wilayah kerajaan seperti Yogyakarta dan Solo), motifnya sarat akan makna dan doa. Contoh paling terkenal adalah motif Parang Rusak.
Dahulu, motif ini hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya, melambangkan kekuatan, kekuasaan, dan perjuangan tanpa henti untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Memahami ini mengajarkan bahwa selembar kain batik bisa menyimpan cerita dan harapan.
Jika batik keraton terikat pada aturan, maka batik pesisir adalah simbol kebebasan. Berkembang di sepanjang pantai utara Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, dan Lasem, batik ini menyerap banyak pengaruh dari budaya luar.
Warnanya lebih cerah dan berani, sementara motifnya lebih beragam, menggambarkan flora, fauna, hingga cerita dari pedagang Tiongkok, Arab, dan Eropa.
Motif Megamendung dari Cirebon dengan gambar awan yang khas adalah bukti nyata bagaimana budaya Tionghoa berakulturasi indah dengan kesenian lokal.
Tidak semua kain bercorak batik bisa disebut batik. Bagi Gen Alpha, penting untuk mengetahui perbedaannya. Ada tiga jenis utama, Batik Tulis adalah yang paling tinggi nilainya, karena setiap titik dan garisnya dibuat manual dengan tangan menggunakan canting.
Lalu ada Batik Cap, yang prosesnya lebih cepat menggunakan stempel tembaga. Terakhir adalah kain motif batik atau printing, yang dibuat oleh mesin pabrik. Memahami perbedaan ini akan membuat kita lebih menghargai setiap helai Batik Tulis dan Cap sebagai sebuah karya seni.
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Pengakuan ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah tanggung jawab besar bagi setiap generasi untuk melestarikannya.
Namun, pelestarian sejati bukan hanya tentang seberapa sering kita memakainya. Seorang pemerhati wastra Nusantara, Silvi Vidiarti yang punya LKP Atiiqna Smart. Ia pernah menekankan pentingnya pemahaman generasi muda terhadap warisan ini.
"Melestarikan batik bukan sekadar memakai kainnya, tapi memahami cerita dan jiwa yang ada di setiap goresan cantingnya," ujar Silvi pada Selasa (14/11/2023).
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Baju batik motof klub sepak bola yang sempat ramai pada zamannya. (Foto: Batik-Solo.com)
Samarinda - Di tengah semarak perayaan Hari Batik Nasional, media sosial sempat diramaikan oleh kreativitas tanpa batas, selembar kain batik yang motifnya bukan parang atau kawung, melainkan logo klub sepak bola.
Fenomena ini memicu decak kagum sekaligus perdebatan. Namun, di balik kehebohan sesaat itu, ada dunia batik yang jauh lebih luas dan kaya makna yang perlu dikenali, terutama oleh generasi baru seperti Gen Alpha.
Mari kita bedah lima fakta seputar batik, dari tren bola yang viral hingga warisan adiluhung yang sebenarnya.
Fenomena batik klub bola sejatinya bukan hal yang muncul tiba-tiba. Tren ini berakar kuat dari Solo, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat batik sekaligus memiliki basis suporter sepak bola yang sangat fanatik. Inovasi ini adalah titik temu antara kecintaan pada tradisi dan loyalitas pada klub kebanggaan.
Namun, seperti banyak tren fesyen lainnya, masa puncak batik bola perlahan surut. Kini, ia menjadi penanda sebuah era kreativitas, sekaligus pengingat bahwa batik bisa menjadi medium ekspresi apa saja, bahkan semangat dari tribun stadion.
Jauh sebelum logo bola tergores di atas kain, batik lahir di lingkungan keraton dengan aturan atau pakem yang ketat. Dikenal sebagai batik vorstenlanden (batik dari wilayah kerajaan seperti Yogyakarta dan Solo), motifnya sarat akan makna dan doa. Contoh paling terkenal adalah motif Parang Rusak.
Dahulu, motif ini hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya, melambangkan kekuatan, kekuasaan, dan perjuangan tanpa henti untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Memahami ini mengajarkan bahwa selembar kain batik bisa menyimpan cerita dan harapan.
Jika batik keraton terikat pada aturan, maka batik pesisir adalah simbol kebebasan. Berkembang di sepanjang pantai utara Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, dan Lasem, batik ini menyerap banyak pengaruh dari budaya luar.
Warnanya lebih cerah dan berani, sementara motifnya lebih beragam, menggambarkan flora, fauna, hingga cerita dari pedagang Tiongkok, Arab, dan Eropa.
Motif Megamendung dari Cirebon dengan gambar awan yang khas adalah bukti nyata bagaimana budaya Tionghoa berakulturasi indah dengan kesenian lokal.
Tidak semua kain bercorak batik bisa disebut batik. Bagi Gen Alpha, penting untuk mengetahui perbedaannya. Ada tiga jenis utama, Batik Tulis adalah yang paling tinggi nilainya, karena setiap titik dan garisnya dibuat manual dengan tangan menggunakan canting.
Lalu ada Batik Cap, yang prosesnya lebih cepat menggunakan stempel tembaga. Terakhir adalah kain motif batik atau printing, yang dibuat oleh mesin pabrik. Memahami perbedaan ini akan membuat kita lebih menghargai setiap helai Batik Tulis dan Cap sebagai sebuah karya seni.
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Pengakuan ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah tanggung jawab besar bagi setiap generasi untuk melestarikannya.
Namun, pelestarian sejati bukan hanya tentang seberapa sering kita memakainya. Seorang pemerhati wastra Nusantara, Silvi Vidiarti yang punya LKP Atiiqna Smart. Ia pernah menekankan pentingnya pemahaman generasi muda terhadap warisan ini.
"Melestarikan batik bukan sekadar memakai kainnya, tapi memahami cerita dan jiwa yang ada di setiap goresan cantingnya," ujar Silvi pada Selasa (14/11/2023).
(Sf/Rs)