Cari disini...
Seputar Kaltim
Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Doni Evriady, (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram (gas melon) yang terus berulang di Kutai Timur (Kutim) membuat pemerintah daerah mulai mengambil langkah serius. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutim kini mendorong masyarakat yang mampu serta pelaku UMKM untuk beralih ke Bright Gas 5,5 kg sebagai solusi mengurangi kelangkaan.
Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Doni Evriady, mengatakan bahwa selama ini tabung LPG 3 kg kerap menjadi sumber persoalan di masyarakat, mulai dari stok yang terbatas, distribusi tidak merata, hingga harga eceran yang tinggi.
"Supaya masyarakat ini tidak selalu bermasalah dengan itu. Kita coba mengalihkan ke Bright Gas 5,5 bagi mereka yang mampu, itu yang kami utamakan,"ujar Doni.
Ia menjelaskan, dari sisi ekonomi, penggunaan Bright Gas 5,5 kg juga lebih efisien. Jika biasanya rumah tangga menghabiskan empat tabung 3 kg dalam dua minggu dengan harga eceran Rp40 ribu per tabung, totalnya bisa mencapai Rp160 ribu. Sementara isi ulang tabung Bright Gas 5,5 kg hanya sekitar Rp115 ribu dan bisa bertahan dua minggu atau lebih, tergantung kebutuhan.
"Kalau dihitung, pakai 5,5 kg itu jauh lebih hemat. Selain lebih tahan lama, distribusinya juga lebih stabil,” jelasnya.
Program penukaran tabung LPG subsidi 3 kg ke tabung nonsubsidi Bright Gas 5,5 kg ini menyasar pelaku UMKM seperti penjual makanan atau warung dengan omzet cukup besar. Menurut Doni, langkah ini penting agar subsidi LPG 3 kg benar-benar diterima masyarakat yang berhak.
"Supaya gas 3 kg ini betul-betul tersasar untuk mereka yang tidak mampu, bagi UMKM yang mengibaratkan tidak tidak banyak mobilitasnya, mereka bisa menggunakan 5,5. Apalagi UMKM yang mengibaratkan omsetnya sudah tinggi, beralihlah ke Bright Gas 5,5. daripada 3 kilo," tambahnya.
Untuk memudahkan masyarakat, Disperindag juga sedang menyiapkan sistem pemesanan gas lewat aplikasi, seperti Gojek. Nantinya, masyarakat bisa pesan tabung gas dari rumah tanpa harus keluar.
“Nanti akan ada aplikasi khusus untuk distribusi. Jadi lebih gampang, tinggal pesan,” jelasnya
Saat ini, program baru berjalan di Kecamatan Sangatta Utara. Namun jika hasil evaluasi menunjukkan respons positif, tidak menutup kemungkinan akan diperluas ke kecamatan lain di Kutim.
"Kita lihat dulu ke depannya evaluasinya bagaimana, tidak menutup kemungkinan kecamatan lain juga kita melakukan kegiatan yang sama," katanya
Doni menyampaikan harapannya agar masyarakat yang mampu bisa secara sukarela beralih ke Bright Gas 5,5 kg, demi mendukung penyaluran subsidi yang tepat sasaran.
"Saya berharap masyarakat yang mampu bisa beralih ke Bright Gas 5,5 kg, supaya gas 3 kg benar-benar tersalurkan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan" pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Doni Evriady, (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram (gas melon) yang terus berulang di Kutai Timur (Kutim) membuat pemerintah daerah mulai mengambil langkah serius. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutim kini mendorong masyarakat yang mampu serta pelaku UMKM untuk beralih ke Bright Gas 5,5 kg sebagai solusi mengurangi kelangkaan.
Fungsional Pengawas Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Doni Evriady, mengatakan bahwa selama ini tabung LPG 3 kg kerap menjadi sumber persoalan di masyarakat, mulai dari stok yang terbatas, distribusi tidak merata, hingga harga eceran yang tinggi.
"Supaya masyarakat ini tidak selalu bermasalah dengan itu. Kita coba mengalihkan ke Bright Gas 5,5 bagi mereka yang mampu, itu yang kami utamakan,"ujar Doni.
Ia menjelaskan, dari sisi ekonomi, penggunaan Bright Gas 5,5 kg juga lebih efisien. Jika biasanya rumah tangga menghabiskan empat tabung 3 kg dalam dua minggu dengan harga eceran Rp40 ribu per tabung, totalnya bisa mencapai Rp160 ribu. Sementara isi ulang tabung Bright Gas 5,5 kg hanya sekitar Rp115 ribu dan bisa bertahan dua minggu atau lebih, tergantung kebutuhan.
"Kalau dihitung, pakai 5,5 kg itu jauh lebih hemat. Selain lebih tahan lama, distribusinya juga lebih stabil,” jelasnya.
Program penukaran tabung LPG subsidi 3 kg ke tabung nonsubsidi Bright Gas 5,5 kg ini menyasar pelaku UMKM seperti penjual makanan atau warung dengan omzet cukup besar. Menurut Doni, langkah ini penting agar subsidi LPG 3 kg benar-benar diterima masyarakat yang berhak.
"Supaya gas 3 kg ini betul-betul tersasar untuk mereka yang tidak mampu, bagi UMKM yang mengibaratkan tidak tidak banyak mobilitasnya, mereka bisa menggunakan 5,5. Apalagi UMKM yang mengibaratkan omsetnya sudah tinggi, beralihlah ke Bright Gas 5,5. daripada 3 kilo," tambahnya.
Untuk memudahkan masyarakat, Disperindag juga sedang menyiapkan sistem pemesanan gas lewat aplikasi, seperti Gojek. Nantinya, masyarakat bisa pesan tabung gas dari rumah tanpa harus keluar.
“Nanti akan ada aplikasi khusus untuk distribusi. Jadi lebih gampang, tinggal pesan,” jelasnya
Saat ini, program baru berjalan di Kecamatan Sangatta Utara. Namun jika hasil evaluasi menunjukkan respons positif, tidak menutup kemungkinan akan diperluas ke kecamatan lain di Kutim.
"Kita lihat dulu ke depannya evaluasinya bagaimana, tidak menutup kemungkinan kecamatan lain juga kita melakukan kegiatan yang sama," katanya
Doni menyampaikan harapannya agar masyarakat yang mampu bisa secara sukarela beralih ke Bright Gas 5,5 kg, demi mendukung penyaluran subsidi yang tepat sasaran.
"Saya berharap masyarakat yang mampu bisa beralih ke Bright Gas 5,5 kg, supaya gas 3 kg benar-benar tersalurkan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan" pungkasnya.
(Sf/Rs)