Seputar Kaltim

    Garis Kemiskinan Kaltim Tembus Rp4,6 Juta per Keluarga, BPS Sebut Tersisa 'Kerak' Kemiskinan yang Sulit Ditekan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    06 Februari 2026 pukul 21:25 WITA

    Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai yang sedang menjelaskan perihal data kemiskinan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) merilis profil kemiskinan terbaru periode September 2025. 

    Salah satu sorotan utama adalah standar garis kemiskinan yang kini mencapai Rp897.000 per kapita per bulan.

    Jika dikonversi ke skala keluarga, angka ini menjadi cukup tinggi. Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai menjelaskan rata-rata satu rumah tangga miskin di Kaltim terdiri dari 5,14 orang.

    "Artinya jika dikalikan, garis kemiskinan rumah tangga di Kaltim itu sekitar Rp4,6 juta per bulan. Jadi kalau ada keluarga yang total pengeluaran seluruh anggotanya di bawah Rp4,6 juta, mereka masuk kategori miskin," ujar Mas'ud ditemui di Samarinda, Jumat (6/2/2026).

    Secara statistik, persentase penduduk miskin Kaltim pada September 2025 tercatat sebesar 5,19 persen atau setara 202,04 ribu orang. Angka ini naik tipis 0,02 persen poin dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 5,17 persen.

    Namun BPS menegaskan kenaikan ini bersifat musiman dan sangat halus. Jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year) dengan September 2024 angkanya 5,51 persen, angka kemiskinan di Kaltim justru turun signifikan sebesar 0,32 persen.

    Mas'ud juga menyoroti indikator kualitas kemiskinan yang justru membaik. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun menjadi 0,833 dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun menjadi 0,183 pada September 2025.

    "Selain itu ketimpangan pengeluaran juga menyempit. Gini Ratio kita turun menjadi 0,310, berkurang 0,002 poin dibandingkan Maret," jelasnya

    Meski tingkat kemiskinan Kaltim tergolong rendah secara nasional, di kisaran 5 persen, Mas'ud mengakui menurunkannya lagi akan semakin sulit. Ini karena Kaltim kini berhadapan dengan fenomena hardcore poverty atau kemiskinan inti.

    "Kalau kemiskinan masih tinggi, menekannya relatif lebih mudah. Tapi karena kita sudah di level 5 persen, ini ibaratnya sudah sampai ke orang-orang inti yang miskin," jelasnya.

    Intervensi pemerintah ke depan tidak bisa lagi bersifat umum. Diperlukan pendekatan yang sangat presisi, by name by address untuk mengangkat kelompok masyarakat yang tersisa di bawah garis kemiskinan tersebut.

    "Upayanya harus jauh lebih effort dan intervensinya harus benar-benar dijaga agar tepat sasaran," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Garis Kemiskinan Kaltim Tembus Rp4,6 Juta per Keluarga, BPS Sebut Tersisa 'Kerak' Kemiskinan yang Sulit Ditekan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    06 Februari 2026 pukul 21:25 WITA

    Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai yang sedang menjelaskan perihal data kemiskinan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) merilis profil kemiskinan terbaru periode September 2025. 

    Salah satu sorotan utama adalah standar garis kemiskinan yang kini mencapai Rp897.000 per kapita per bulan.

    Jika dikonversi ke skala keluarga, angka ini menjadi cukup tinggi. Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai menjelaskan rata-rata satu rumah tangga miskin di Kaltim terdiri dari 5,14 orang.

    "Artinya jika dikalikan, garis kemiskinan rumah tangga di Kaltim itu sekitar Rp4,6 juta per bulan. Jadi kalau ada keluarga yang total pengeluaran seluruh anggotanya di bawah Rp4,6 juta, mereka masuk kategori miskin," ujar Mas'ud ditemui di Samarinda, Jumat (6/2/2026).

    Secara statistik, persentase penduduk miskin Kaltim pada September 2025 tercatat sebesar 5,19 persen atau setara 202,04 ribu orang. Angka ini naik tipis 0,02 persen poin dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 5,17 persen.

    Namun BPS menegaskan kenaikan ini bersifat musiman dan sangat halus. Jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year) dengan September 2024 angkanya 5,51 persen, angka kemiskinan di Kaltim justru turun signifikan sebesar 0,32 persen.

    Mas'ud juga menyoroti indikator kualitas kemiskinan yang justru membaik. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun menjadi 0,833 dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun menjadi 0,183 pada September 2025.

    "Selain itu ketimpangan pengeluaran juga menyempit. Gini Ratio kita turun menjadi 0,310, berkurang 0,002 poin dibandingkan Maret," jelasnya

    Meski tingkat kemiskinan Kaltim tergolong rendah secara nasional, di kisaran 5 persen, Mas'ud mengakui menurunkannya lagi akan semakin sulit. Ini karena Kaltim kini berhadapan dengan fenomena hardcore poverty atau kemiskinan inti.

    "Kalau kemiskinan masih tinggi, menekannya relatif lebih mudah. Tapi karena kita sudah di level 5 persen, ini ibaratnya sudah sampai ke orang-orang inti yang miskin," jelasnya.

    Intervensi pemerintah ke depan tidak bisa lagi bersifat umum. Diperlukan pendekatan yang sangat presisi, by name by address untuk mengangkat kelompok masyarakat yang tersisa di bawah garis kemiskinan tersebut.

    "Upayanya harus jauh lebih effort dan intervensinya harus benar-benar dijaga agar tepat sasaran," pungkasnya.

    (Sf/Lo)