Seputar Kaltim

    Gangguan Mental Meningkat, Bontang Ajak Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    05 Desember 2025 pukul 22:14 WITA

    Bontang Mental Health Program Batch 3. (Foto: Kominfo Bontang)

    Bontang - Lonjakan angka gangguan mental emosional di Indonesia menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. 

    Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan tren peningkatan kasus pada kelompok usia produktif, diperkuat survei Kementerian Kesehatan tahun 2023 yang mencatat sekitar 20 persen penduduk Indonesia mengalami masalah serupa. 

    Fenomena ini menjadi sorotan utama Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan SDM, Lukman, saat membuka Bontang Mental Health Program Batch 3 mewakili Wali Kota Bontang, Kamis (4/12/2025) di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.

    Di hadapan 60 mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Bontang, Lukman menegaskan isu kesehatan mental tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah personal. 

    “Isu kesehatan mental saat ini bukan lagi persoalan individual, tetapi telah menjadi fenomena sosial global. Oleh karena itu kita harus membentengi diri lebih awal dari arus globalisasi,” ujar Lukman.

    Ia menyebut mahasiswa sebagai aset strategis yang memegang peran penting dalam menentukan arah masa depan Bontang. Melalui program unggulan Bontang Sehat, Pemkot Bontang berupaya menghadirkan ruang aman bagi generasi muda untuk memahami potensi diri, mengelola emosi dan membangun mental yang kuat.

    Lukman juga mengajak para mahasiswa untuk mampu bertanggung jawab terhadap diri termasuk kesehatan fisik dan mental. Dalam menghadapi tantangan isu kesehatan mental, Lukman memberikan arahan kepada para mahasiswa untuk menerapkan beberapa hal guna memperkuat ketahanan mental. 

    Pertama, berani berbicara dan mencari bantuan profesional ketika merasa tertekan. Kedua, membangun lingkungan pergaulan yang suportif dan bebas dari sikap saling menghakimi. 

    Kemudian bijak berselancar di dunia maya agar tidak terjebak dalam ilusi perbandingan sosial yang merusak harga diri. 

    “Terakhir, mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang membawa energi positif bagi lingkungan sekitar,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Gangguan Mental Meningkat, Bontang Ajak Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    05 Desember 2025 pukul 22:14 WITA

    Bontang Mental Health Program Batch 3. (Foto: Kominfo Bontang)

    Bontang - Lonjakan angka gangguan mental emosional di Indonesia menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. 

    Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan tren peningkatan kasus pada kelompok usia produktif, diperkuat survei Kementerian Kesehatan tahun 2023 yang mencatat sekitar 20 persen penduduk Indonesia mengalami masalah serupa. 

    Fenomena ini menjadi sorotan utama Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan SDM, Lukman, saat membuka Bontang Mental Health Program Batch 3 mewakili Wali Kota Bontang, Kamis (4/12/2025) di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.

    Di hadapan 60 mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Bontang, Lukman menegaskan isu kesehatan mental tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah personal. 

    “Isu kesehatan mental saat ini bukan lagi persoalan individual, tetapi telah menjadi fenomena sosial global. Oleh karena itu kita harus membentengi diri lebih awal dari arus globalisasi,” ujar Lukman.

    Ia menyebut mahasiswa sebagai aset strategis yang memegang peran penting dalam menentukan arah masa depan Bontang. Melalui program unggulan Bontang Sehat, Pemkot Bontang berupaya menghadirkan ruang aman bagi generasi muda untuk memahami potensi diri, mengelola emosi dan membangun mental yang kuat.

    Lukman juga mengajak para mahasiswa untuk mampu bertanggung jawab terhadap diri termasuk kesehatan fisik dan mental. Dalam menghadapi tantangan isu kesehatan mental, Lukman memberikan arahan kepada para mahasiswa untuk menerapkan beberapa hal guna memperkuat ketahanan mental. 

    Pertama, berani berbicara dan mencari bantuan profesional ketika merasa tertekan. Kedua, membangun lingkungan pergaulan yang suportif dan bebas dari sikap saling menghakimi. 

    Kemudian bijak berselancar di dunia maya agar tidak terjebak dalam ilusi perbandingan sosial yang merusak harga diri. 

    “Terakhir, mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang membawa energi positif bagi lingkungan sekitar,” tandasnya.

    (Sf/Lo)