Seputar Kaltim
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Gangguan jaringan listrik di kawasan Maloy-Talisayan berdampak luas terhadap pasokan listrik di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Berau.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menjelaskan bahwa gangguan dipicu faktor alam berupa tumbangnya pohon Bangris yang menimpa jaringan interkoneksi utama.
Pohon berukuran tinggi tersebut tumbang dan menimpa kabel hingga menarik tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Akibatnya, gangguan tidak hanya dirasakan masyarakat Berau, tetapi juga sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.
"Tiang interkoneksi kita sebenarnya sudah didesain lebih tinggi dari pohon-pohon pada umumnya. Namun, ada satu jenis pohon yang ukurannya sangat tinggi, yaitu pohon Bangris. Pohon inilah yang tumbang dan menimpa kabel hingga menarik tiang SUTET. Dampaknya tidak hanya dirasakan Berau, tetapi juga se-Kalimantan Timur," jelas Sri.
Ia menyampaikan, saat ini proses penanganan dan perbaikan jaringan milik PLN tengah berlangsung secara intensif. Untuk mengantisipasi pemadaman lanjutan, PLN juga telah memasang tiang cadangan sehingga kondisi pasokan listrik sementara mulai berangsur stabil.
Selain itu, dirinya meminta masyarakat memahami perubahan sistem kelistrikan di Kabupaten Berau yang kini mulai mengandalkan jaringan interkoneksi. Sistem tersebut menghubungkan pasokan listrik dari pusat-pusat pembangkit di Samarinda dan Balikpapan.
Menurutnya, sistem ini berbeda dengan pola sebelumnya yang mengandalkan pembangkit lokal seperti PLTU, PLTD, dan PLTS yang tersebar di sejumlah wilayah Berau, termasuk Teluk Bayur dan Lati.
"Kalau dulu masing-masing wilayah memiliki pembangkit sendiri, sekarang pasokan listrik kita terhubung melalui sistem interkoneksi dari Samarinda dan Balikpapan," ungkapnya.
Dengan sistem interkoneksi tersebut, gangguan pada satu titik jaringan utama dapat berdampak terhadap pasokan listrik di wilayah yang lebih luas. Karena itu, masyarakat diharapkan memahami skema kelistrikan yang sedang dikembangkan di Berau.
Pemerintah Kabupaten Berau bersama PLN pun terus mendorong penguatan jaringan interkoneksi agar distribusi listrik semakin andal. Bahkan, pada 2027 mendatang, seluruh jaringan kelistrikan di Kabupaten Berau ditargetkan dapat sepenuhnya memaksimalkan sistem interkoneksi terpadu.
"Kami berharap melalui pengembangan ini, pasokan listrik bagi masyarakat semakin stabil dan gangguan yang berdampak luas dapat diminimalkan ke depannya," tandas Sri.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Gangguan jaringan listrik di kawasan Maloy-Talisayan berdampak luas terhadap pasokan listrik di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Berau.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menjelaskan bahwa gangguan dipicu faktor alam berupa tumbangnya pohon Bangris yang menimpa jaringan interkoneksi utama.
Pohon berukuran tinggi tersebut tumbang dan menimpa kabel hingga menarik tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Akibatnya, gangguan tidak hanya dirasakan masyarakat Berau, tetapi juga sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.
"Tiang interkoneksi kita sebenarnya sudah didesain lebih tinggi dari pohon-pohon pada umumnya. Namun, ada satu jenis pohon yang ukurannya sangat tinggi, yaitu pohon Bangris. Pohon inilah yang tumbang dan menimpa kabel hingga menarik tiang SUTET. Dampaknya tidak hanya dirasakan Berau, tetapi juga se-Kalimantan Timur," jelas Sri.
Ia menyampaikan, saat ini proses penanganan dan perbaikan jaringan milik PLN tengah berlangsung secara intensif. Untuk mengantisipasi pemadaman lanjutan, PLN juga telah memasang tiang cadangan sehingga kondisi pasokan listrik sementara mulai berangsur stabil.
Selain itu, dirinya meminta masyarakat memahami perubahan sistem kelistrikan di Kabupaten Berau yang kini mulai mengandalkan jaringan interkoneksi. Sistem tersebut menghubungkan pasokan listrik dari pusat-pusat pembangkit di Samarinda dan Balikpapan.
Menurutnya, sistem ini berbeda dengan pola sebelumnya yang mengandalkan pembangkit lokal seperti PLTU, PLTD, dan PLTS yang tersebar di sejumlah wilayah Berau, termasuk Teluk Bayur dan Lati.
"Kalau dulu masing-masing wilayah memiliki pembangkit sendiri, sekarang pasokan listrik kita terhubung melalui sistem interkoneksi dari Samarinda dan Balikpapan," ungkapnya.
Dengan sistem interkoneksi tersebut, gangguan pada satu titik jaringan utama dapat berdampak terhadap pasokan listrik di wilayah yang lebih luas. Karena itu, masyarakat diharapkan memahami skema kelistrikan yang sedang dikembangkan di Berau.
Pemerintah Kabupaten Berau bersama PLN pun terus mendorong penguatan jaringan interkoneksi agar distribusi listrik semakin andal. Bahkan, pada 2027 mendatang, seluruh jaringan kelistrikan di Kabupaten Berau ditargetkan dapat sepenuhnya memaksimalkan sistem interkoneksi terpadu.
"Kami berharap melalui pengembangan ini, pasokan listrik bagi masyarakat semakin stabil dan gangguan yang berdampak luas dapat diminimalkan ke depannya," tandas Sri.
(Sf/Rs)