Cari disini...
Seputar Kaltim
Stasiun pemantau kualitas udara di kawasan Hutan Kota Nipah-Nipah, Penajam, merekam sejumlah parameter kualitas udara. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai ikut mengganggu kualitas udara di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Gangguannya belum fatal. Tetapi perubahan terlihat pada pemantauan sepanjang Agustus, terutama memasuki pekan terakhir.
Konsentrasi partikulat PM10 dan PM2.5 yang terpantau di Stasiun Pemantau Kualitas Udara Nipah-Nipah terus menanjak.
PM10 yang pada 9 Agustus berada di angka 17 µg/m³, naik hingga 45 µg/m pada 31 Agustus. Sementara PM2.5 dari 12 µg/m³ pada 9 Agustus meningkat menjadi 33 µg/m³ di hari terakhir bulan tersebut.
Dua parameter itu menggambarkan kadar partikel pencemar di udara. PM2.5 merupakan partikel yang berukuran sangat halus, sehingga menjadi salah satu indikator penting ketika udara terpengaruh asap dan pembakaran.
Kabid Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH PPU, Rakhmadi, mengakui adanya gangguan kualitas udara selama Agustus.
"Kualitas udara bulan Agustus sampai minggu terakhir memang ada gangguan sedikit. Tidak bisa dipungkiri efek kebakaran lahan ada gangguan polusi emisi, meskipun tidak fatal," kata Rakhmadi, Jumat (4/9/2026).
Gambaran lainnya terlihat dari indeks kualitas udara. Pada pemantauan ISPU di hari yang sama 31 Agustus 2026, PM2.5 menjadi parameter kritis dengan indeks mencapai 74 atau kategori sedang atau moderat.
Meski begitu, Rakhmadi menyebut kondisi udara PPU masih terkendali. Menurutnya, perubahan yang terlihat lebih berkaitan dengan kondisi kemarau dan kebakaran lahan dibanding aktivitas kendaraan.
"Faktor kualitas udara dari kendaraan minim, pengaruhnya karena musim kemarau dari kebakaran lahan dan hutan, tetapi masih terkendali," ujarnya.
Stasiun Nipah-Nipah memantau tujuh parameter kualitas udara, yakni PM10, PM2.5, sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), ozon (O₃), nitrogen dioksida (NO₂), dan hidrokarbon (HC).
Hasil pemantauan menunjukkan belum ada konsentrasi partikulat yang melampaui baku mutu. Namun, kenaikan PM10 dan PM2.5 pada penghujung Agustus menjadi perubahan yang paling terlihat selama periode pemantauan.
Selain stasiun Nipah-Nipah, DLH PPU juga menggunakan passive sampler dari pemerintah provinsi. Alat tersebut dipasang pada empat titik yang mewakili kawasan transportasi, industri, permukiman dan perkantoran. Sampelnya kemudian diuji di laboratorium provinsi menggunakan parameter NO₂ dan SO₂.
Hasil pengujian periode Juni-Juli 2026 di empat titik tersebut belum menunjukkan kualitas udara dalam kondisi buruk.
Rakhmadi mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengontrol perubahan kualitas udara di PPU. Namun, pencegahan sumber asap tetap menjadi pekerjaan utama.
"Harapan kita masih tetap hijau, sejuk, tapi tidak bisa dipungkiri masih ada asap bertebaran," kata dia.
DLH PPU mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Imbauan itu semakin penting saat kemarau mulai menekan ketersediaan air.
"Intinya jangan membakar dulu. Bersikap hemat terhadap pemanfaatan air karena kita mulai krisis. Kita bersinergi, sama-sama menjaga kualitas udara di lingkungan," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Stasiun pemantau kualitas udara di kawasan Hutan Kota Nipah-Nipah, Penajam, merekam sejumlah parameter kualitas udara. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai ikut mengganggu kualitas udara di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Gangguannya belum fatal. Tetapi perubahan terlihat pada pemantauan sepanjang Agustus, terutama memasuki pekan terakhir.
Konsentrasi partikulat PM10 dan PM2.5 yang terpantau di Stasiun Pemantau Kualitas Udara Nipah-Nipah terus menanjak.
PM10 yang pada 9 Agustus berada di angka 17 µg/m³, naik hingga 45 µg/m pada 31 Agustus. Sementara PM2.5 dari 12 µg/m³ pada 9 Agustus meningkat menjadi 33 µg/m³ di hari terakhir bulan tersebut.
Dua parameter itu menggambarkan kadar partikel pencemar di udara. PM2.5 merupakan partikel yang berukuran sangat halus, sehingga menjadi salah satu indikator penting ketika udara terpengaruh asap dan pembakaran.
Kabid Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH PPU, Rakhmadi, mengakui adanya gangguan kualitas udara selama Agustus.
"Kualitas udara bulan Agustus sampai minggu terakhir memang ada gangguan sedikit. Tidak bisa dipungkiri efek kebakaran lahan ada gangguan polusi emisi, meskipun tidak fatal," kata Rakhmadi, Jumat (4/9/2026).
Gambaran lainnya terlihat dari indeks kualitas udara. Pada pemantauan ISPU di hari yang sama 31 Agustus 2026, PM2.5 menjadi parameter kritis dengan indeks mencapai 74 atau kategori sedang atau moderat.
Meski begitu, Rakhmadi menyebut kondisi udara PPU masih terkendali. Menurutnya, perubahan yang terlihat lebih berkaitan dengan kondisi kemarau dan kebakaran lahan dibanding aktivitas kendaraan.
"Faktor kualitas udara dari kendaraan minim, pengaruhnya karena musim kemarau dari kebakaran lahan dan hutan, tetapi masih terkendali," ujarnya.
Stasiun Nipah-Nipah memantau tujuh parameter kualitas udara, yakni PM10, PM2.5, sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), ozon (O₃), nitrogen dioksida (NO₂), dan hidrokarbon (HC).
Hasil pemantauan menunjukkan belum ada konsentrasi partikulat yang melampaui baku mutu. Namun, kenaikan PM10 dan PM2.5 pada penghujung Agustus menjadi perubahan yang paling terlihat selama periode pemantauan.
Selain stasiun Nipah-Nipah, DLH PPU juga menggunakan passive sampler dari pemerintah provinsi. Alat tersebut dipasang pada empat titik yang mewakili kawasan transportasi, industri, permukiman dan perkantoran. Sampelnya kemudian diuji di laboratorium provinsi menggunakan parameter NO₂ dan SO₂.
Hasil pengujian periode Juni-Juli 2026 di empat titik tersebut belum menunjukkan kualitas udara dalam kondisi buruk.
Rakhmadi mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengontrol perubahan kualitas udara di PPU. Namun, pencegahan sumber asap tetap menjadi pekerjaan utama.
"Harapan kita masih tetap hijau, sejuk, tapi tidak bisa dipungkiri masih ada asap bertebaran," kata dia.
DLH PPU mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Imbauan itu semakin penting saat kemarau mulai menekan ketersediaan air.
"Intinya jangan membakar dulu. Bersikap hemat terhadap pemanfaatan air karena kita mulai krisis. Kita bersinergi, sama-sama menjaga kualitas udara di lingkungan," pungkasnya.
(Sf/Lo)