Seputar Kaltim

    Flu Merebak di Musim Pancaroba, Begini Penjelasan Dinkes Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    23 Oktober 2025 pukul 17:22 WITA

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Memasuki musim pancaroba, kasus flu dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Berau mengalami peningkatan. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau memastikan bahwa flu yang beredar saat ini bukan disebabkan oleh virus baru maupun Influenza A, melainkan masih tergolong flu umum musiman. 

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait masuknya influenza tipe baru ke Indonesia, termasuk ke wilayah Berau.

    "Untuk saat ini tidak ada peningkatan atau informasi terkait kasus baru atau penyakit baru. Apalagi di Kabupaten Berau, sejauh ini belum ada. Hanya peningkatan ISPA seperti yang terjadi kemarin," ujar Garna, Rabu (23/10/2025).

    Menurut data dari Dinkes Berau, peningkatan kasus ISPA paling banyak tercatat pada bulan Juli hingga September 2025, naik dari sekitar 3.375 kasus menjadi 4.646 kasus. Kenaikan tersebut dinilai masih wajar dan sesuai pola musiman yang sering terjadi saat pergantian musim.

    "Memang ada peningkatan, tapi masih dalam batas normal. Tidak ada tren penyakit baru, dan tidak ada gejala keparahan yang luar biasa," tuturnya.

    Ia pun menyebut bahwa yang paling banyak terpapar yakni kelompok usia 9 hingga 60 tahun yang mana kelompok usia tersebut menjadi yang paling banyak terpapar ISPA karena memiliki aktivitas tinggi di sekolah, tempat kerja, dan area publik. 

    "Kalau paling banyak kasus pasti di Tanjung Redeb sesuai dengan jumlah penduduk, lebih banyak dan lebih tinggi. sehingga pasti tanjung penyumbang terbanyak," ungkapnya.

    Dirinya juga menyampaikan bahwa penyakit ISPA tersebut merupakan penyakit dengan peringkat pertama yang terus masuk dalam 10 besar yang paling banyak setiap tahun dan mudah ditularkan.

    "Faktor penularan penyakit ini dapat disebabkan banyak faktor salah satunya karena daya tahan tubuh dan sebagainya dan karena memang penyakit ini mudah ditularkan," katanya.

    Terakhir, Garna pun menekankan meski situasi saat ini dinilai terkendali, ia mengimbau masyarakat agar terus menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menjaga kesehatan, terutama di musim pancaroba seperti sekarang.

    "Kewaspadaan tetap perlu. Jaga kondisi tubuh supaya daya tahan tetap baik, gunakan masker jika sedang sakit, perbanyak minum air putih, makan buah dan sayur, serta berolahraga secara teratur," tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Flu Merebak di Musim Pancaroba, Begini Penjelasan Dinkes Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    23 Oktober 2025 pukul 17:22 WITA

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Memasuki musim pancaroba, kasus flu dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Berau mengalami peningkatan. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau memastikan bahwa flu yang beredar saat ini bukan disebabkan oleh virus baru maupun Influenza A, melainkan masih tergolong flu umum musiman. 

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Garna Sudarsono menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait masuknya influenza tipe baru ke Indonesia, termasuk ke wilayah Berau.

    "Untuk saat ini tidak ada peningkatan atau informasi terkait kasus baru atau penyakit baru. Apalagi di Kabupaten Berau, sejauh ini belum ada. Hanya peningkatan ISPA seperti yang terjadi kemarin," ujar Garna, Rabu (23/10/2025).

    Menurut data dari Dinkes Berau, peningkatan kasus ISPA paling banyak tercatat pada bulan Juli hingga September 2025, naik dari sekitar 3.375 kasus menjadi 4.646 kasus. Kenaikan tersebut dinilai masih wajar dan sesuai pola musiman yang sering terjadi saat pergantian musim.

    "Memang ada peningkatan, tapi masih dalam batas normal. Tidak ada tren penyakit baru, dan tidak ada gejala keparahan yang luar biasa," tuturnya.

    Ia pun menyebut bahwa yang paling banyak terpapar yakni kelompok usia 9 hingga 60 tahun yang mana kelompok usia tersebut menjadi yang paling banyak terpapar ISPA karena memiliki aktivitas tinggi di sekolah, tempat kerja, dan area publik. 

    "Kalau paling banyak kasus pasti di Tanjung Redeb sesuai dengan jumlah penduduk, lebih banyak dan lebih tinggi. sehingga pasti tanjung penyumbang terbanyak," ungkapnya.

    Dirinya juga menyampaikan bahwa penyakit ISPA tersebut merupakan penyakit dengan peringkat pertama yang terus masuk dalam 10 besar yang paling banyak setiap tahun dan mudah ditularkan.

    "Faktor penularan penyakit ini dapat disebabkan banyak faktor salah satunya karena daya tahan tubuh dan sebagainya dan karena memang penyakit ini mudah ditularkan," katanya.

    Terakhir, Garna pun menekankan meski situasi saat ini dinilai terkendali, ia mengimbau masyarakat agar terus menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menjaga kesehatan, terutama di musim pancaroba seperti sekarang.

    "Kewaspadaan tetap perlu. Jaga kondisi tubuh supaya daya tahan tetap baik, gunakan masker jika sedang sakit, perbanyak minum air putih, makan buah dan sayur, serta berolahraga secara teratur," tandasnya.

    (Sf/Rs)