Cari disini...
Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Freepik)
Tenggarong - Fenomena munculnya ribuan lalat di Sp1 Kecamatan Muara Kaman membuat resah masyarakat khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Kedatangan lalat ini disebabkan oleh banyak faktor salah satunya yakni diduga pada waktu saat panen ayam. Saat proses pemanenan ayam dilakukan, banyak sisa-sisa organik seperti darah, bulu, dan daging yang tercampur dengan kotoran, bau yang dihasilkan dan menjadi daya tarik lalat dapat berkembang biak dengan cepat di wilayah tersebut.
“Mereka panen ayam, masyarakat panen lalat, dimana-mana warga yang punya warung makan, rumah semuanya mengeluh gara-gara lalat,” kata Warga, Romat Santoso.
Saat dikonfirmasi Seputarfakta.com, Kepala Desa Sumber Sari, Tri Wahyudi mengatakan fenomena itu telah terjadi sejak Oktober 2025 lalu.
“Kami sudah bertemu dan menegur pihak pengelola kandang ayam, mereka berjanji akan membantu mencarikan solusi. Mereka juga mau memberikan obat-obatan untuk mengurangi populasi lalat di wilayah itu,” ujar Tri Wahyudi.
Fenomena lalat ini telah berdampak pada UMKM di daerah tersebut. Banyak pedagang yang merasa terganggu dengan kehadiran lalat-lalat itu dan berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk mengatasi masalah ini.
“Kami dari Pemdes Juga akan melakukan mediasi antara masyarakat dan pengusaha peternakan ayam untuk mencari solusi atas masalah itu. Jika perlu, kami akan melakukan tindakan lebih lanjut agar dapat memberikan efek jera kepada pengelola kandang, mereka juga tidak memiliki surat izin, nanti akan kita tindak,” tegasnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa sebanyak dua desa terdampak oleh fenomena tersebut, yaitu Desa Sumber Sari dan Mekar Jaya. Selain itu, terdapat 11 kandang ayam yang tidak memiliki izin atau tidak berdiri secara resmi.
“Jadi untuk antisipasinya saat ini kami ingatkan kepada pemilik kandang untuk melakukan penyemprotan di kandang, dan dibantu dengan pengadaan obat-obatan,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Kukar, Aji Ghazali Rahman, menjelaskan bahwa limbah peternakan ayam memang dapat menjadi sumber masalah lalat.
Menurutnya, tidak ada regulasi yang komprehensif yang mengatur terkait lokasi pembangunan kandang ayam.
“Boleh saja membangun, yang penting adalah sanitasi terjaga. Selain itu, jika tempat pemotongan tersebut telah bersertifikat, maka harus mematuhi standar yang telah ditetapkan, seperti menggunakan air dari PDAM dan tidak menggunakan air sungai atau limbah,” ucapnya.
Aji mengingatkan agar para pengusaha ayam saat membangun kandang dapat berkoordinasi terlebih dahulu kepada pihak Desa serta RT setempat agar tidak menimbulkan masalah dan dapat merugikan warga sekitar.
Diketahui, dampak utama lalat dari kandang ayam bagi masyarakat adalah gangguan kenyamanan akibat populasi lalat yang sangat banyak, bahkan bisa masuk ke rumah-rumah warga, serta beresiko pada kesehatan, sebab lalat dapat membawa virus dan menyebabkan penyakit seperti diare atau sakit perut.
Solusi dalam menghadapi masalah lalat di kandang ayam ini seperti membersihkan kotoran dan mengelola limbah, menjaga kandang tetap kering dan memiliki ventilasi yang baik, serta menggunakan perangkap lalat (seperti lem atau elektrik) dan insektisida atau disinfektan.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Freepik)
Tenggarong - Fenomena munculnya ribuan lalat di Sp1 Kecamatan Muara Kaman membuat resah masyarakat khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Kedatangan lalat ini disebabkan oleh banyak faktor salah satunya yakni diduga pada waktu saat panen ayam. Saat proses pemanenan ayam dilakukan, banyak sisa-sisa organik seperti darah, bulu, dan daging yang tercampur dengan kotoran, bau yang dihasilkan dan menjadi daya tarik lalat dapat berkembang biak dengan cepat di wilayah tersebut.
“Mereka panen ayam, masyarakat panen lalat, dimana-mana warga yang punya warung makan, rumah semuanya mengeluh gara-gara lalat,” kata Warga, Romat Santoso.
Saat dikonfirmasi Seputarfakta.com, Kepala Desa Sumber Sari, Tri Wahyudi mengatakan fenomena itu telah terjadi sejak Oktober 2025 lalu.
“Kami sudah bertemu dan menegur pihak pengelola kandang ayam, mereka berjanji akan membantu mencarikan solusi. Mereka juga mau memberikan obat-obatan untuk mengurangi populasi lalat di wilayah itu,” ujar Tri Wahyudi.
Fenomena lalat ini telah berdampak pada UMKM di daerah tersebut. Banyak pedagang yang merasa terganggu dengan kehadiran lalat-lalat itu dan berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk mengatasi masalah ini.
“Kami dari Pemdes Juga akan melakukan mediasi antara masyarakat dan pengusaha peternakan ayam untuk mencari solusi atas masalah itu. Jika perlu, kami akan melakukan tindakan lebih lanjut agar dapat memberikan efek jera kepada pengelola kandang, mereka juga tidak memiliki surat izin, nanti akan kita tindak,” tegasnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa sebanyak dua desa terdampak oleh fenomena tersebut, yaitu Desa Sumber Sari dan Mekar Jaya. Selain itu, terdapat 11 kandang ayam yang tidak memiliki izin atau tidak berdiri secara resmi.
“Jadi untuk antisipasinya saat ini kami ingatkan kepada pemilik kandang untuk melakukan penyemprotan di kandang, dan dibantu dengan pengadaan obat-obatan,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Kukar, Aji Ghazali Rahman, menjelaskan bahwa limbah peternakan ayam memang dapat menjadi sumber masalah lalat.
Menurutnya, tidak ada regulasi yang komprehensif yang mengatur terkait lokasi pembangunan kandang ayam.
“Boleh saja membangun, yang penting adalah sanitasi terjaga. Selain itu, jika tempat pemotongan tersebut telah bersertifikat, maka harus mematuhi standar yang telah ditetapkan, seperti menggunakan air dari PDAM dan tidak menggunakan air sungai atau limbah,” ucapnya.
Aji mengingatkan agar para pengusaha ayam saat membangun kandang dapat berkoordinasi terlebih dahulu kepada pihak Desa serta RT setempat agar tidak menimbulkan masalah dan dapat merugikan warga sekitar.
Diketahui, dampak utama lalat dari kandang ayam bagi masyarakat adalah gangguan kenyamanan akibat populasi lalat yang sangat banyak, bahkan bisa masuk ke rumah-rumah warga, serta beresiko pada kesehatan, sebab lalat dapat membawa virus dan menyebabkan penyakit seperti diare atau sakit perut.
Solusi dalam menghadapi masalah lalat di kandang ayam ini seperti membersihkan kotoran dan mengelola limbah, menjaga kandang tetap kering dan memiliki ventilasi yang baik, serta menggunakan perangkap lalat (seperti lem atau elektrik) dan insektisida atau disinfektan.
(Sf/Rs)