Seputar Kaltim

    Fadli Zon Dorong Penulisan Ulang Sejarah Nasional, Kaltim Jadi Sorotan Utama

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    30 Mei 2025 pukul 18:31 WITA

    Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat berkunjung ke Kaltim dan menghadiri beberapa agenda penting, salah satunya saat mengisi kukiah umum di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. 

    Hal ini disampaikannya saat menghadiri Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) pada Jumat (30/5/2025). 

    Menurutnya, upaya ini bukan hanya untuk memperbarui data, tetapi juga untuk meluruskan narasi sejarah yang belum lengkap.

    Dalam kunjungannya ke Kaltim, Fadli Zon juga menyoroti kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bumi Etam,khususnya potensi artefak-artefak purbakala. 

    Ia sangat menghargai upaya UMKT dalam mempromosikan budaya di lingkungan perguruan tinggi, terlebih UMKT dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Kalimantan.

    "Kalimantan Timur ini kan kaya dengan budaya, kaya dengan sejarah, kaya dengan artefak-artefak yang luar biasa. Jadi kita berharap ada muncul banyak literasi dari sini, termasuk dari yang sangat tua sekali, Gua Sangkulirang," ujar Fadli Zon. 

    Ia menambahkan bahwa lukisan-lukisan di Gua Sangkulirang yang jumlahnya mencapai 2.500 panel dari 58 gua, harus segera diselamatkan dan dijadikan cagar budaya agar terjaga dari kerusakan akibat perubahan iklim.

    Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia sudah 26 tahun tidak menulis ulang sejarah nasional. Kali terakhir, sejarah Indonesia ditulis hanya sampai era Presiden B.J. Habibie pada tahun 1997. 

    Padahal, setelah itu banyak peristiwa penting yang belum tercatat, seperti pemilu tahun 1999, 2004, 2009, dan seterusnya hingga kini.

    "Jadi memang ada urgensi menulis hal-hal yang baru," tegasnya.

    Selain itu, penulisan ulang sejarah juga akan meng-update penemuan-penemuan baru yang membantah teori lama, seperti masuknya Islam ke Indonesia. Dengan ditemukannya situs Bongal, teori bahwa Islam masuk pada abad ke-13 terbantahkan.

    "Islam masuk di Indonesia ini lebih awal yaitu abad ke-7 Masehi atau awal pertama Hijriah. Ya, seperti teori Buya Hamka dan juga tokoh-tokoh Jawi NU yang lain yang pernah bersidang berdiskusi tahun 1963 lalu," jelas Fadli Zon.

    Ia juga menyoroti pentingnya menonjolkan sejarah perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajah, tidak hanya terpaku pada angka 350 tahun. 

    Menurutnya, di berbagai daerah seperti Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Bali, Lombok, dan Jawa, selalu ada perlawanan terhadap penjajah dengan periodisasi yang berbeda-beda.

    Fadli Zon memastikan bahwa penulisan ulang sejarah ini tidak perlu dikhawatirkan, karena akan melibatkan 113 sejarawan dari hampir 40 perguruan tinggi se-Indonesia. 

    Ia juga menyebutkan bahwa di Kaltim sendiri tentu ada ahli-ahli sejarah, mengingat provinsi ini memiliki jejak kerajaan tertua seperti Kutai Mulawarman dan Kutai Kartanegara.

    Ia mencontohkan Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda yang memiliki potensi besar sebagai cagar budaya dan perlu terus dirawat serta dihidupkan. 

    "Jadi bagaimana kita harus merawat ya dan menghidupkan situs-situs yang merupakan sudah merupakan warisan budaya dan cagar budaya," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Fadli Zon Dorong Penulisan Ulang Sejarah Nasional, Kaltim Jadi Sorotan Utama

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    30 Mei 2025 pukul 18:31 WITA

    Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat berkunjung ke Kaltim dan menghadiri beberapa agenda penting, salah satunya saat mengisi kukiah umum di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. 

    Hal ini disampaikannya saat menghadiri Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) pada Jumat (30/5/2025). 

    Menurutnya, upaya ini bukan hanya untuk memperbarui data, tetapi juga untuk meluruskan narasi sejarah yang belum lengkap.

    Dalam kunjungannya ke Kaltim, Fadli Zon juga menyoroti kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bumi Etam,khususnya potensi artefak-artefak purbakala. 

    Ia sangat menghargai upaya UMKT dalam mempromosikan budaya di lingkungan perguruan tinggi, terlebih UMKT dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Kalimantan.

    "Kalimantan Timur ini kan kaya dengan budaya, kaya dengan sejarah, kaya dengan artefak-artefak yang luar biasa. Jadi kita berharap ada muncul banyak literasi dari sini, termasuk dari yang sangat tua sekali, Gua Sangkulirang," ujar Fadli Zon. 

    Ia menambahkan bahwa lukisan-lukisan di Gua Sangkulirang yang jumlahnya mencapai 2.500 panel dari 58 gua, harus segera diselamatkan dan dijadikan cagar budaya agar terjaga dari kerusakan akibat perubahan iklim.

    Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia sudah 26 tahun tidak menulis ulang sejarah nasional. Kali terakhir, sejarah Indonesia ditulis hanya sampai era Presiden B.J. Habibie pada tahun 1997. 

    Padahal, setelah itu banyak peristiwa penting yang belum tercatat, seperti pemilu tahun 1999, 2004, 2009, dan seterusnya hingga kini.

    "Jadi memang ada urgensi menulis hal-hal yang baru," tegasnya.

    Selain itu, penulisan ulang sejarah juga akan meng-update penemuan-penemuan baru yang membantah teori lama, seperti masuknya Islam ke Indonesia. Dengan ditemukannya situs Bongal, teori bahwa Islam masuk pada abad ke-13 terbantahkan.

    "Islam masuk di Indonesia ini lebih awal yaitu abad ke-7 Masehi atau awal pertama Hijriah. Ya, seperti teori Buya Hamka dan juga tokoh-tokoh Jawi NU yang lain yang pernah bersidang berdiskusi tahun 1963 lalu," jelas Fadli Zon.

    Ia juga menyoroti pentingnya menonjolkan sejarah perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajah, tidak hanya terpaku pada angka 350 tahun. 

    Menurutnya, di berbagai daerah seperti Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Bali, Lombok, dan Jawa, selalu ada perlawanan terhadap penjajah dengan periodisasi yang berbeda-beda.

    Fadli Zon memastikan bahwa penulisan ulang sejarah ini tidak perlu dikhawatirkan, karena akan melibatkan 113 sejarawan dari hampir 40 perguruan tinggi se-Indonesia. 

    Ia juga menyebutkan bahwa di Kaltim sendiri tentu ada ahli-ahli sejarah, mengingat provinsi ini memiliki jejak kerajaan tertua seperti Kutai Mulawarman dan Kutai Kartanegara.

    Ia mencontohkan Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda yang memiliki potensi besar sebagai cagar budaya dan perlu terus dirawat serta dihidupkan. 

    "Jadi bagaimana kita harus merawat ya dan menghidupkan situs-situs yang merupakan sudah merupakan warisan budaya dan cagar budaya," pungkasnya.

    (Sf/Rs)