Seputar Kaltim

    El Nino Diprediksi Memuncak pada Agustus–September, Kutim Antisipasi Kekeringan dan Inflasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    15 Juli 2026 pukul 20:44 WITA

    Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Kutim Noviari Noor, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang seiring fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026. 

    Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan, mengganggu hasil panen, hingga mendorong kenaikan harga bahan pokok dan inflasi di Kutai Timur (Kutim).

    Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Kutim, Noviari Noor mengatakan, El Nino merupakan fenomena yang menyebabkan curah hujan menurun drastis dan memicu musim kemarau berkepanjangan.

    "El Nino itu curah hujannya sangat kecil sehingga menimbulkan kekeringan atau kemarau yang berkepanjangan. Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus dan September. Dampaknya kemungkinan masih terasa sampai November. Mudah-mudahan Desember hingga awal tahun kondisi sudah mulai normal kembali," ujar Noviari. 

    Menurutnya, kekeringan akibat El Nino tidak hanya berdampak pada berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian. Jika produksi pangan menurun akibat gagal panen, pasokan bahan pokok dapat berkurang sehingga memicu kenaikan harga dan inflasi.

    "Dengan adanya kekeringan ini pasti akan memengaruhi hasil panen. Kalau hasil panen menurun, harga-harga bisa naik dan pada akhirnya menimbulkan inflasi," katanya.

    Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Bupati Kutim beberapa waktu lalu, pemerintah membahas sejumlah langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino. Fokus pembahasan meliputi sektor pertanian, ketahanan pangan, kebencanaan, hingga kesiapan penyediaan air baku bagi masyarakat selama musim kemarau.

    Berdasarkan peta prakiraan yang dipaparkan dalam rapat, dampak El Nino diperkirakan terjadi secara merata di wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kutim. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan.

    Sebagai tindak lanjut rapat tersebut, Bupati Kutim menginstruksikan penyusunan rekomendasi yang akan dituangkan dalam surat edaran sebagai pedoman menghadapi dampak El Nino. Melalui TPID, pemerintah daerah juga akan memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan potensi inflasi akibat musim kemarau.

    "Pak Bupati memerintahkan kami menyusun rekomendasi dan kesimpulan hasil rapat untuk dituangkan dalam surat edaran," jelasnya.

    Surat edaran tersebut akan menjadi tindak lanjut hasil rapat sekaligus pedoman bagi perangkat daerah dalam menghadapi dampak El Nino di Kutim.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    El Nino Diprediksi Memuncak pada Agustus–September, Kutim Antisipasi Kekeringan dan Inflasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    15 Juli 2026 pukul 20:44 WITA

    Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Kutim Noviari Noor, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang seiring fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026. 

    Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan, mengganggu hasil panen, hingga mendorong kenaikan harga bahan pokok dan inflasi di Kutai Timur (Kutim).

    Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Kutim, Noviari Noor mengatakan, El Nino merupakan fenomena yang menyebabkan curah hujan menurun drastis dan memicu musim kemarau berkepanjangan.

    "El Nino itu curah hujannya sangat kecil sehingga menimbulkan kekeringan atau kemarau yang berkepanjangan. Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus dan September. Dampaknya kemungkinan masih terasa sampai November. Mudah-mudahan Desember hingga awal tahun kondisi sudah mulai normal kembali," ujar Noviari. 

    Menurutnya, kekeringan akibat El Nino tidak hanya berdampak pada berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian. Jika produksi pangan menurun akibat gagal panen, pasokan bahan pokok dapat berkurang sehingga memicu kenaikan harga dan inflasi.

    "Dengan adanya kekeringan ini pasti akan memengaruhi hasil panen. Kalau hasil panen menurun, harga-harga bisa naik dan pada akhirnya menimbulkan inflasi," katanya.

    Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Bupati Kutim beberapa waktu lalu, pemerintah membahas sejumlah langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino. Fokus pembahasan meliputi sektor pertanian, ketahanan pangan, kebencanaan, hingga kesiapan penyediaan air baku bagi masyarakat selama musim kemarau.

    Berdasarkan peta prakiraan yang dipaparkan dalam rapat, dampak El Nino diperkirakan terjadi secara merata di wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kutim. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan.

    Sebagai tindak lanjut rapat tersebut, Bupati Kutim menginstruksikan penyusunan rekomendasi yang akan dituangkan dalam surat edaran sebagai pedoman menghadapi dampak El Nino. Melalui TPID, pemerintah daerah juga akan memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan potensi inflasi akibat musim kemarau.

    "Pak Bupati memerintahkan kami menyusun rekomendasi dan kesimpulan hasil rapat untuk dituangkan dalam surat edaran," jelasnya.

    Surat edaran tersebut akan menjadi tindak lanjut hasil rapat sekaligus pedoman bagi perangkat daerah dalam menghadapi dampak El Nino di Kutim.

    (Sf/Lo)