Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menegaskan komitmennya untuk mewujudkan visi “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” pada periode 2025–2029 jelang ulang tahun kabupaten Kutim yang ke-26.
Ia menyampaikan pembangunan Kutim telah menunjukkan kemajuan signifikan di berbagai sektor. Salah satu capaian yang membanggakan adalah pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2024 yang mencapai 9,82 persen, jauh di atas rata-rata nasional (5,03 persen) dan provinsi Kalimantan Timur (6,17 persen).
Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kutim meningkat menjadi 75,90, dan angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,06 persen pada 2023 menjadi 8,81 persen di tahun 2024.
“Pencapaian ini adalah hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah. Kolaborasi yang kuat menjadi kunci keberhasilan kita bersama,” ujar Ardiansyah.
Untuk mendukung visi besar menuju “Kutim Hebat 2029”, pemerintah daerah mencanangkan 50 program unggulan.
Program-program ini dirancang agar manfaat pembangunan bisa dirasakan hingga ke pelosok desa, menciptakan pemerataan serta memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat.
Ardiansyah juga menekankan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah. Ia mengajak semua pihak — ASN, tokoh adat, pemuda, pelaku usaha, akademisi, hingga petani dan nelayan untuk turut menjaga dan membangun Kutai Timur seperti menjaga rumah sendiri.
“Pemerintah hanya menjadi katalisator pembangunan. Sukses pembangunan sangat ditentukan oleh sinergi dan kolaborasi kita semua,” jelasnya.
Meski banyak capaian positif, Pemkab Kutim mengakui masih ada sejumlah tantangan krusial yang perlu segera diatasi, antara lain:
1. Kondisi jaringan jalan yang masih rusak di beberapa wilayah.
2. Penataan permukiman dan drainase perkotaan yang belum optimal.
3. Akses pelayanan kesehatan rujukan yang terbatas di kecamatan terpencil.
4. Kurangnya menara telekomunikasi (BTS) di daerah terisolir.
5. Keterbatasan akses air bersih dan elektrifikasi di beberapa wilayah.
6. Hilirisasi produk pertanian yang belum maksimal;
7. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang perlu terus ditingkatkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus membangun infrastruktur dasar, pemeliharaan jalan pedesaan, serta membuka akses konektivitas guna mendukung distribusi hasil pertanian dan pariwisata.
Salah satu pencapaian penting lainnya adalah penyelesaian sengketa batas wilayah antara Kutim dan Kota Bontang, khususnya di Kampung Sidrap. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah memperkuat posisi hukum Kutai Timur dalam sengketa tersebut.
“Kita patut bersyukur atas penyelesaian persoalan ini. Ini adalah hasil dari kerja keras, kesabaran, dan komitmen semua pihak,” pungkasnya.
Pemerintah daerah berkomitmen menjaga momentum pembangunan melalui perencanaan strategis, kolaborasi multipihak, dan semangat kerja keras, ikhlas, cerdas, fokus, dan tuntas.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menegaskan komitmennya untuk mewujudkan visi “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” pada periode 2025–2029 jelang ulang tahun kabupaten Kutim yang ke-26.
Ia menyampaikan pembangunan Kutim telah menunjukkan kemajuan signifikan di berbagai sektor. Salah satu capaian yang membanggakan adalah pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2024 yang mencapai 9,82 persen, jauh di atas rata-rata nasional (5,03 persen) dan provinsi Kalimantan Timur (6,17 persen).
Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kutim meningkat menjadi 75,90, dan angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,06 persen pada 2023 menjadi 8,81 persen di tahun 2024.
“Pencapaian ini adalah hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah. Kolaborasi yang kuat menjadi kunci keberhasilan kita bersama,” ujar Ardiansyah.
Untuk mendukung visi besar menuju “Kutim Hebat 2029”, pemerintah daerah mencanangkan 50 program unggulan.
Program-program ini dirancang agar manfaat pembangunan bisa dirasakan hingga ke pelosok desa, menciptakan pemerataan serta memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat.
Ardiansyah juga menekankan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah. Ia mengajak semua pihak — ASN, tokoh adat, pemuda, pelaku usaha, akademisi, hingga petani dan nelayan untuk turut menjaga dan membangun Kutai Timur seperti menjaga rumah sendiri.
“Pemerintah hanya menjadi katalisator pembangunan. Sukses pembangunan sangat ditentukan oleh sinergi dan kolaborasi kita semua,” jelasnya.
Meski banyak capaian positif, Pemkab Kutim mengakui masih ada sejumlah tantangan krusial yang perlu segera diatasi, antara lain:
1. Kondisi jaringan jalan yang masih rusak di beberapa wilayah.
2. Penataan permukiman dan drainase perkotaan yang belum optimal.
3. Akses pelayanan kesehatan rujukan yang terbatas di kecamatan terpencil.
4. Kurangnya menara telekomunikasi (BTS) di daerah terisolir.
5. Keterbatasan akses air bersih dan elektrifikasi di beberapa wilayah.
6. Hilirisasi produk pertanian yang belum maksimal;
7. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang perlu terus ditingkatkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus membangun infrastruktur dasar, pemeliharaan jalan pedesaan, serta membuka akses konektivitas guna mendukung distribusi hasil pertanian dan pariwisata.
Salah satu pencapaian penting lainnya adalah penyelesaian sengketa batas wilayah antara Kutim dan Kota Bontang, khususnya di Kampung Sidrap. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah memperkuat posisi hukum Kutai Timur dalam sengketa tersebut.
“Kita patut bersyukur atas penyelesaian persoalan ini. Ini adalah hasil dari kerja keras, kesabaran, dan komitmen semua pihak,” pungkasnya.
Pemerintah daerah berkomitmen menjaga momentum pembangunan melalui perencanaan strategis, kolaborasi multipihak, dan semangat kerja keras, ikhlas, cerdas, fokus, dan tuntas.
(Sf/Rs)