Seputar Kaltim

    Ekonomi Kutim 2025 Tumbuh 11 Persen Tanpa Tambang, Naik 2,5 Persen

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    27 Maret 2026 pukul 12:26 WITA

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan. (Foto : Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Sejumlah sektor non-pertambangan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi penguatan struktur ekonomi daerah di luar sektor tambang.

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan menyampaikan sektor non-pertambangan menunjukkan kinerja positif dan mulai menjadi penopang ekonomi daerah.

    “Kalau kita keluarkan sektor pertambangan, justru pertumbuhan ekonomi kita naik. Tahun 2024 itu di angka 8,38 persen dan tahun 2025 naik menjadi sekitar 11 persen,” ujar Januar beberapa waktu lalu.

    Ia menambahkan terjadi kenaikan sekitar 2,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Januar menjelaskan sektor pertanian tercatat tumbuh 9,32 persen dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 10,96 persen.

    Sementara industri pengolahan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 19,12 persen dengan kontribusi 5,81 persen.

    Di sisi lain, sektor konstruksi juga tumbuh 7,19 persen dengan kontribusi 5,81 persen terhadap PDRB. Aktivitas sektor perdagangan dan jasa juga meningkat, mencerminkan pergerakan ekonomi masyarakat.

    “Kalau dilihat dari sektor pertanian, industri, perdagangan, hingga jasa, itu sebenarnya tumbuh. Bahkan ketika kita hitung tanpa pertambangan, hasilnya justru lebih tinggi,” jelasnya.

    Ia mengakui sektor pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi daerah. Karena itu, fluktuasi di sektor tersebut masih sangat memengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan.

    Pemkab Kutim akan terus mendorong penguatan sektor non-pertambangan, termasuk melalui kebijakan hilirisasi agar produk daerah memiliki nilai tambah.

    "Kita dorong hilirisasi juga, supaya produk yang dihasilkan tidak lagi dalam bentuk mentah, tapi sudah punya nilai tambah,” katanya.

    Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus diperkuat untuk memperluas basis ekonomi masyarakat.

    Dengan pertumbuhan sektor non-pertambangan yang kian signifikan, pemerintah daerah berharap ketergantungan terhadap sektor tambang dapat dikurangi secara bertahap.

    "Harapannya ke depan, kita tidak lagi terlalu bergantung pada pertambangan. Ekonomi kita harus lebih beragam dan berkelanjutan," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Ekonomi Kutim 2025 Tumbuh 11 Persen Tanpa Tambang, Naik 2,5 Persen

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    27 Maret 2026 pukul 12:26 WITA

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan. (Foto : Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Sejumlah sektor non-pertambangan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi penguatan struktur ekonomi daerah di luar sektor tambang.

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Januar Bayu Irawan menyampaikan sektor non-pertambangan menunjukkan kinerja positif dan mulai menjadi penopang ekonomi daerah.

    “Kalau kita keluarkan sektor pertambangan, justru pertumbuhan ekonomi kita naik. Tahun 2024 itu di angka 8,38 persen dan tahun 2025 naik menjadi sekitar 11 persen,” ujar Januar beberapa waktu lalu.

    Ia menambahkan terjadi kenaikan sekitar 2,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Januar menjelaskan sektor pertanian tercatat tumbuh 9,32 persen dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 10,96 persen.

    Sementara industri pengolahan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 19,12 persen dengan kontribusi 5,81 persen.

    Di sisi lain, sektor konstruksi juga tumbuh 7,19 persen dengan kontribusi 5,81 persen terhadap PDRB. Aktivitas sektor perdagangan dan jasa juga meningkat, mencerminkan pergerakan ekonomi masyarakat.

    “Kalau dilihat dari sektor pertanian, industri, perdagangan, hingga jasa, itu sebenarnya tumbuh. Bahkan ketika kita hitung tanpa pertambangan, hasilnya justru lebih tinggi,” jelasnya.

    Ia mengakui sektor pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi daerah. Karena itu, fluktuasi di sektor tersebut masih sangat memengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan.

    Pemkab Kutim akan terus mendorong penguatan sektor non-pertambangan, termasuk melalui kebijakan hilirisasi agar produk daerah memiliki nilai tambah.

    "Kita dorong hilirisasi juga, supaya produk yang dihasilkan tidak lagi dalam bentuk mentah, tapi sudah punya nilai tambah,” katanya.

    Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus diperkuat untuk memperluas basis ekonomi masyarakat.

    Dengan pertumbuhan sektor non-pertambangan yang kian signifikan, pemerintah daerah berharap ketergantungan terhadap sektor tambang dapat dikurangi secara bertahap.

    "Harapannya ke depan, kita tidak lagi terlalu bergantung pada pertambangan. Ekonomi kita harus lebih beragam dan berkelanjutan," pungkasnya.

    (Sf/Lo)