Seputar Kaltim

    Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Meski Nilai Tukar Rupiah Menguat

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 44 poin (0,27 persen) menjadi Rp16.436 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.480.

    Meskipun demikian, Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menekankan, bahwa stabilitas nilai tukar jauh lebih penting daripada sekadar pergerakan mata uang.

    "Penguatan rupiah tentu baik, tetapi yang lebih penting adalah kestabilan nilai tukar, agar ekonomi Indonesia tetap seimbang dan mendukung daya saing negara," ujar Deputi Direktur BI Balikpapan, Rabu (5/3/2025).

    Dirinya menjelaskan, dinamika nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ekspor dan impor. Menurutnya, ada risiko jika nilai tukar rupiah terlalu kuat atau terlalu lemah.

    “Ketika rupiah menguat, produk ekspor Indonesia bisa kehilangan daya saing di pasar global, karena harga menjadi lebih mahal,” jelas Robi sapaan akrabnya.

    Sebaliknya, jika rupiah melemah, biaya impor akan meningkat dan membebani perekonomian. Namun, ia meyakinkan bahwa saat ini nilai tukar rupiah masih berada dalam kisaran yang aman dan sesuai dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

    “Bank Indonesia pun terus berupaya menjaga keseimbangan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

    Dengan upaya ini, BI berharap dapat menciptakan stabilitas jangka panjang yang menguntungkan bagi ekonomi Indonesia, sambil tetap menjaga daya saing produk lokal di pasar Internasional.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Meski Nilai Tukar Rupiah Menguat

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 44 poin (0,27 persen) menjadi Rp16.436 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.480.

    Meskipun demikian, Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menekankan, bahwa stabilitas nilai tukar jauh lebih penting daripada sekadar pergerakan mata uang.

    "Penguatan rupiah tentu baik, tetapi yang lebih penting adalah kestabilan nilai tukar, agar ekonomi Indonesia tetap seimbang dan mendukung daya saing negara," ujar Deputi Direktur BI Balikpapan, Rabu (5/3/2025).

    Dirinya menjelaskan, dinamika nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ekspor dan impor. Menurutnya, ada risiko jika nilai tukar rupiah terlalu kuat atau terlalu lemah.

    “Ketika rupiah menguat, produk ekspor Indonesia bisa kehilangan daya saing di pasar global, karena harga menjadi lebih mahal,” jelas Robi sapaan akrabnya.

    Sebaliknya, jika rupiah melemah, biaya impor akan meningkat dan membebani perekonomian. Namun, ia meyakinkan bahwa saat ini nilai tukar rupiah masih berada dalam kisaran yang aman dan sesuai dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

    “Bank Indonesia pun terus berupaya menjaga keseimbangan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

    Dengan upaya ini, BI berharap dapat menciptakan stabilitas jangka panjang yang menguntungkan bagi ekonomi Indonesia, sambil tetap menjaga daya saing produk lokal di pasar Internasional.

    (Sf/Rs)